Bagian 19

32 2 0
                                        


Nahh, pagi ini entah mengapa rasanya lebih menyegarkan dari pagi yang lain. Ya, kini cewek itu telah siap dengan seragam putihnya. Mematut diri di depan cermin dengan senyum manisnya, bersiap untuk peperangan.

Sudah dua minggu sejak kedatangan ayah Reza—Andini yakin sekali itu ayahnya—dan sudah hampir sebulan sejak Irvan mengutarakan cinta kepadanya. Ini sudah lebih darii cukup, sudah saatnya menceritakan kebenarannya.

Andini akan bilang kalau dia sudah dijodohkan dengan Reza. Andini tahu itu pasti menyakitkan bagi Irvan, tapi hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya tidak ingin menyakiti sahabatnya. Akan tetapi ia harus melakukannya sebelum terlalu lama dan sukar untuk dikatakan.

Andini sampai juga si sekolah. Meski tekadnya telah sekuat baja namun masih ada yang membuatnya berhenti di depan kelasnya. Ia sangat gugup. Bagaimana dia harus menyapa Irvan dan mengajaknya berbicara serius? bagaimana dia memulainya?

"Huh." Andini mengembuskan napas panjang, mengatur napasnya. Dia berbalik segera setelah dia siap, dan terjadilah hal yang terduga... Irvan berdiri di hadapannya saat ini.

"V-Van?!" jerit Andini setengah melompat ke belakang. "Ngagetin aja lo! Ngapain sih tiba-tiba muncul di depan gue!"

"Lah elo yang ngagetin gue! Gue emang tahu dari tadi elo linglung di depan pintu kelas, makanya mau disamperin mau nanya gitu ada apa, eh elo main nyerodok aja." Irvan mengelus dada sembari memperlihatkan muka habis selamat dari serangan jantung.

Andini masih tergagap saat akan membalas.

"Udah yok, kita ke atas. Lo pasti bingung kan mau mulainya gimana? Gue tahu kok. Lo mau ngasih gue jawaban, ya kan?" Irvan memanah tepat pada sasaran. Jleb, langsung saja membuat jantung Andini serasa berhenti.

"..." alih-alh membuka mulutnya dan bersuara, Andini hanya mengangguk.

Setelahnya, Irvan menggandeng tangan Andini seperti biasa—seperti saat dulu mereka belum memiliki masalah hati seperti ini. Entah kenapa, waktu diperjalanan ke atap sekolah mata Andini hanya memandang saking terkesimanya akan kehangatan tangan seorang Irvan.

"Ini yang aku mau," kata hati Andini sembari menggigit bibir bawahnya, walau sebetulnya ingin sekali tersenyum. Entah sudah berapa lama tidak merasakan hangatnya genggaman persahabatan.

@@@@@

Tubuhnya bergetar hebat di bawah sinar mentari yang tidak begitu terik. Dari awal kata yang ia utarakan sampai kata terakhir, ia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Gadis itu sekarang terdiam melawan ketakutannya selama ini.

Apa dia akan ditinggalkan? Apa dia akan sendirian? Apa dia jahat telah menolak Irvan? apa dia sudah salah membuat pilihan? Bahkan dia tak yakin bahwa ini pilihan yang tepat baginya.

Tangan yang digenggamnya barusan itulah keinginannya selama ini. ingin seperti itu selalu. Ingin seperti dulu lagi. apa dengan penolakan ini dia tak akan lagi mendapat genggaman hangat seorang sahabat lagi?

"Andini, ini yang kamu pilih. Kuat, kuat, kuatkan dirimu. Ini yang kamu mau!" batinya berteriak. Meski otaknya memikirkan kemungkinan lain yaitu kehilangan sahabat juga hal yang buruk, hal yang tidak ia inginkan.

Tubuhnya masih bergetar, kepalanya menunduk seraya matanya tertutup menahan tangis, tangannya mengepal berkeringat dingin. Takut sekali. Takut sekali. "Ma-maaf, Van," katanya pelan. ini sudah yang ketiga kalinya Andini mengakhiri perkataannya dengan kata maaf.

"Santai aja!" tepukan mendadak di pundak kanannya membuat Andini menengadah. Pandangan mereka bertemu. Senyum Irvan saat ini sangat lebar.

Aneh!

DeeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang