Bagian 8

30 2 0
                                    


Andini dan Irvan sudah duduk di bangkunya. Mereka bersiap menghadapi guru paling mengerikan di sekolah ini. Guru matematika yang berkepala botak, berkacamata bulat, dan bercelana ketat meskipun sudah memakai yang ukuran XL.

Pak Siswo memasuki kelas. Semua anak berdiri memberi salam. Setelah diabsen, pak Siswo langsung mendeklarasikan perang. "Hari ini kita ulangan bab yang kemarin." Semua murid mendesah tertahan.

Memang, guru satu ini adalah yang paling sering memberikan ulangan dibanding guru yang lain. Satu materi atau satu bab yang telah selesai dibahas, maka akan diadakan ulangan. Pak SIswo ialah satu-satunya guru yang taat pada peraturan itu, dan juga satu-satunya guru yang tidak memberikan peringatan kepada siswanya agar belajar sebelum ulangan.

"Mampus lo, Din. Kemarin kemana aja. Sekarang ulangan loh. Hihi," ejek Irvan.

Andini baru ingat, dia bolos pelajaran matematika sore itu dan memilih duduk di atap sendirian. "Yaah, gimana dong, Van?"

"Bodo amat. Hihihi." Irvan terkikik geli. Pak SIswo menyadarinya, beliau lantas berdehem lalu memanggil nama cowok itu sehingga cowok itu terdiam.

Pandangan mata Pak Siswo tertuju ke Andini selanjutnya. Dia mengeluarkan laser tak kasat mata kepada cewek itu karena sudah berani bolos saat jam pelajarannya, tiga hari lalu. Ditambah, saat ulangan bab sebelumnya, Andini harus memungut kertas ulangan di tong sampah lantaran nilainya jelek.

"Andini," panggil Pak Siswo.

Andini meneguk ludah. Pipinya memerah karena dia kini jadi tontonan semua penghuni kelas.

"Saya tidak mau kamu mengulangi kesalahanmu seperti ulangan sebelumnya," lanjut Pak SIswo. Meski beliau sendiri tak yakin nilai ulangan siswinya itu akan lebih baik dari sebelumnya.

Kedua kelereng pak Siswo bergulir pelan ke sisi kiri Andini. Menatap Reza. Laser yang tadi dia keluarkan kini hilang, tergantikan oleh tatapan bangga sekaligus penuh harap. "Reza, nilainya tolong dipertahankan." Ulangan kemarin Reza mendapat 100. Pantas dia kini diperhatikan Pak SIswo.

Pak Siswo bertepuk tangan satu kali, membuat semua murid kembali memandang dirinya yang tadi sempat berpandang ke Reza. Kertas ulangan mulai dibagikan, dan kelas pun mendadak sehening tengah malam. Ulangan dimulai.

Mata tajam Pak Siswo yang siap membunuh siapa pun yang ketahuan curang itu bertahan hingga setengah jam. Dia melirik jam tangan lalu duduk. Lelah, sudah setengah jam berdiri.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Irvan. "Stt," desisnya selembut kentut. "Din."

Andini mendengarnya, tapi cewek itu mengabaikannya.

"Sst, Din. Ini." Irvan melemparkan kertas lusuh membentuk bola kecil. Andini mau tak mau menoleh ke arah Irvan.

"Apaan nih?" desis Andini takut-takut. Matanya melirik Pak Siswo yang sedang duduk sambil membersihkan kacamata bulatnya.

"Kasihin ke Reza," balas irvan.

Dua alis Andini bertaut. "Buat apa?"

"Udah, kasihin aja."

Andini langsung merengut. Dia merasa aneh akan Irvan. Cewek itu menoleh sebentar ke Reza. Cowok di sebelahnya sekarang ini sedang serius dengan kertas ulangan. Entah kenapa melihatnya begitu serius mampu membuat pipi Andini rasanya tebakar. Dia memalingkan mukanya menghindari reaksi aneh tersebut.

"Ihhh, kenapa sih aku kepikran mulu soal yang tadi di tangga?" batin cewek itu sambil menenggelamkan muka di atas tangan yang melipat di meja.

DeeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang