Andini mengusap airmata yang masih sukar terhenti. Dia ingin sekali membolos, supaya tidak bertemu dengan Irvan, tapi tidak akan. Hal itu malah membuat Irvan mencari dan memarahinya. Semakin dalam masalah besar.
Akhirnya Andini berdiri dengan kedua kakinya yang bergetar, dia memaksa menghentikan kegundahan dalam dirinya dengan menggeleng kasar. Andini berjalan menuju pintu ke lantai bawah walaupun airmata masih berkelakar.
Langkahnya terhenti saat benda hitam pada engsel pintu dikibar angin. Andini—entah kenapa tersenyum. Pipinya yang sembab menggembung akibat bibirnya melengkung naik.
Dia menoleh ke kanan dan kiri. "Em," menggumam pelan. "Re-Reza?"
Cuma angin yang menjawab. Andini berjalan sedikit mengelilingi ruang terbuka tersebut dengan harapan menemukan sosok cowok itu. Ya walau nanti setelah ketemu, dia tidak tahu apa yang bakal dilakukan. Hanya saja, dia ingin bertemu dengannya. Hanya itu.
Andini mendesah lesu setelah pencarian singkatnya tidak membuahkan hasil. Andini berjalan lagi ke pintu dan mengambil sapu tangan hitam itu. Ketika berkedip, ada setitik embun ia rasakan merambat ke pipinya. Andini tersenyum lalu menghapus titik itu menggunakan sapu tangan hitam, yang ia tahu pasti milik Reza.
Selesai menyeka tangis terakhir, Andini menggenggam erat sapu tangan itu di depan dada. Dia kembali menyimpul senyum. "Terimakasih." Setulus hati, kalimat itu terucap untuk cowokk dingin itu. Dan Reza bukan cuma menghentikan tangisnya, ia juga memberi kekuatan juga keberanian untuk memilih sebuah pilihan ironi.
@@@@@
Ketika di kelas, Andini tak mampu melihat ke kanan. Ada muka Irvan di sana. Dia hanya berdiam diri seolah tidak pernah mengenalnya. Sedangkan cowok itu pun sama, dia merasa malu setelah malam kemarin menyatakan cinta. Andini memilih bermain mata ke arah Reza, yang duduk di sebelah kirinya.
Reza sama sekali tidak melihat Andini. Hanya terdiam sambil berkutat pada buku, dan pendengarannya pada pelajaran dari Pak Siswo. Mungkini ini insting atau memang Reza bisa membaca aura, dirinya menoleh seketika saat ia merasa ada yang memerhatikan.
Muka datar. Ya, itu yang ia tunjukkan kepada Andini yang memang memandangnya saat ini. Cewek itu langsung membuang muka ke kanan—tapi tidak jadi karena ada Irvan di sana, akhirnya ke bawah, sedetik kemudian mendongak memandang langit-langit ruangan.
Reza tiba-tiba tersenyum menyadari cewek itu salah tingkah. Andini ikut menoleh ke Reza. Pandangan mereka bertemu, muka Reza berubah datar lagi.
Andini langsung memerah.
"Ehem!" Irvan sengaja mengeraskan dehemannya. Seisi kelas berhenti memaku otak pada pelajaran Pak Siswo. Guru botak itu juga menghentikan mulutnya yang sedari tadi mengoceh ria.
"Ada apa, Irvan?" tanya guru itu tegas.
Irvan lantas berdehem sekali lagi, dengan tenang. "Enggak, Pak," katanya, "gatel tenggorokan saya, Pak. Maaf kalau mengganggu."
Irvan kemudian mengeluarkan laser tak terlihat dari matanya ke Reza, yang dibalas tatapan tidak mengerti oleh cowok itu. Andini cuma bergeming, bisu seribu bahasa. Bahkan untuk sekadar menengok ke Irvan, ia tak punya nyali.
Karena tatapannya tidak dimengerti lawan bicara, Irvan kemudian membisik beberapa kata. Kalimat pendek itu tersusun, bunyi kalimat yang akhirnya terdengar oleh mata Reza. "Temui gue sepulang sekolah."
Reza mendesah samar. Dalam hati dia mengangguk menyetujui. Ia juga ingin menyelesaikan semuanya sebelum perang terjadi.
Sepulang sekolah. Bel masih berdering, anak-anak baru saja membereskan meja dan kursi mereka. Lantaran tidak ada guru, Irvan pun berdiri mengabaikan buku juga pensil yang masih berserakan di mejanya. Dia melangkah keluar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Deeper
Teen FictionUntuk Kakak tercinta _________________________________________ Masalah datang secara tiba-tiba di kehidupan Andini seperti hujan tanpa mendung. Bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Kedinginan, nyaris membeku. Reza, pemuda yang tak pernah dia kenal sebe...