Bagian 2

76 5 1
                                    


"Ayo suit, siapa yang menang bakal jadi Raja," ajak Irvan memulai permainan masa kecil yang selalu mereka mainkan.

"Lho, kan gue yang ulang tahun, ngapain pakai suit segala?" kata Andini, "harusnya elo lah yang jadi kacung. Nih, bawain tas gue!" Andini menjulurkan tasnya. Memberi titah.

Gadis manis berkerudung putih, punya kulit sama putihnya, terkekeh geli melihat reaksi Irvan yang menolak dengan raut lucu. Pipi Andini yang tembam bergoyang ketika kekehan itu menjadi tawa agak kencang. "Lo ih, jangan cemberut gitu. Jelek banget tauk!"

"Iye, emang gue itu jelek!" cibir Irvan. "Puas?" wajahnya Irvan berubah menyeramkan.

"Ya udah deh, kita suit aja. Kita suit. Oke?" ajak Andini. Jadi tak enak hati kareana membuat sahabatnya jadi setengah marah.

Irvan mengangguk, muka ketekuk yang sebelumnya ia tunjukkan pun menghilang, berubah drastis jadi senyum sumringah. Memang dari awal Irvan tak berniat marah. Entah kenapa, ketika dia melempar mimik muka cemberut setengah melotot, Andini langsung menarik kalimatnya. Apa mungkin karena dia punya sorot mata elang? Sorot mata yang katanya mengintimidasi, dan meluluhkan setiap kaum hawa? Beruntung sekali dia.

"Oke!" Irvan mengangkat tangan kanan. "Nggak usah berhenti, sambil jalan saja."

"Iye." Angguk Andini.

Masih berjalan menuju gedung bioskop, mereka yang sekarang ada di depan pintu masuk Mall, berjalan tanpa memandang ke depan. Saling menatap penuh strategi membunuh. Terlalu serius rupanya hanya karena permainan batu-gunting-kertas. Mereka mulai menghitung bersamaan, dan di hitungan ke...

"Tiga!" seru mereka kompak. Saling melempar senjata. (batu, gunting, kertas)

"Yeay! Gue menang. Makanya jangan sok-sokan lawan gue deh. Gue itu jago main ginian!" Andini bergaya mengeluarkan lidahnya. Sambil menggoyang pinggung tanpa malu di depan banyak orang yang lalulalang.

"Udah deh, nggak usah ngejek." Kembali Irvan menekuk muka supaya Andini menarik kata-katanya dan mengulang permainan.

Tetapi tidak berhasil. "Bleee." Makin panjang Andini menjulurkan lidah. "Kali ini gue nggak takut sama muka serem lo!"

"Emang gue serem?"

Andini membalas dengan suara dan ekspresi didramatisir, "Bangeeeettt!" lalu meledakkan tawa, sampai lupa dia ada di mana. Andini berlari mundur melihat Irvan yang siap menangkapnya dan memberi polesan panas di kepala.

Andini terus mengejek dan berlari mundur, tak tahu di belakangnya ada seorang pemuda yang berjalan menunduk menatap ponselnya. Tabrakan pun tak terelakkan lagi.

"Aduh!" Jerit Andini.

"Dini...." Irvan segera berlari mendekat. Dia langsung menarik tangan dan membangunkan Andini. "Lo nggak apa-apa?" tanyanya khawatir. Andini larinya memang tidak kencang, tapi posisi jatuhnya yang terjungkal ke belakang sampai kepalanya terantuk lantai. Itu yang di khawatirkan Irvan.

Andini mendesis menahan sakit sembari tangannya mengelus kepala bagian belakang. "Enggak, duh... gue nggak apa-apa kok." Andini memaksakan senyum.

Teringat kalau insiden ini memakan korban, Andini lantas berbalik dan sedikit menundukkan kepala. "Aduh sori, Mas. Maaf, aku nggak sengaja. Maaf." Irvan ikut mengangguk dan meminta maaf.

Laki-laki yang jadi korban pun bangun sendiri. Dia mendesah seperti menahan amarah, kemudian merapihkan seragam putih dan menepuk-nepuk celana abu yang dikenakannya. Kepalanya mendongak setelah itu, menatap kedua orang di depannya seperti menatap sejoli tulul kekanak-kanakan. Bisa-bisanya mereka main kejar-kejaran di depan pintu masuk Mall. Berapa sih umur mereka?

DeeperTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang