"Z-Za. Ini...." Tiba-tiba Andini berada di sampingnya ketika sedang istirahat di tempat makan restoran. "Makasih ya."
Reza melirik sedikit. Dia ingin tersenyum membalas ucapan terimakasih Andini, namun ia urungkan. "Oh." Hanya itu. Setelahnya dia menyambar sapu tangan hitam yang kini beraroma pelembut dan parfum yang kuat. Sudah dicuci.
"Za, kamu saat itu ada di sana? K-kamu tahu kalau aku—"
"—kenapa lo pakai aku-kamu bukan gue-elo?" Reza memotong pertanyaan Andini. Dan itu berhasil, dia sudah membuat Andini merah bak tomat. Andini sepertinya teralihkan.
"Ha?" pura-pura kaget, Andini mengalihkan pandang ke kanan dan kiri mencari alasan.
Mata cewek itu tidak bisa diam. Pipinya mengembung sedang bibirnya mengerucut. "Emm." Jari-jarinya memainkan ujung kemeja waiters-nya dengan gelisah. Hal itu membuat Reza menyungging senyum miring. Ada pikiran jahil yang ingin dia lakukan, tapi langsung ia tepis.
"Ya udah. Gue balik dulu." Reza meninggalkan Andini di sana.
"Tunggu, ini bukannya masih jam kerja, kok balik?" Andini mengejar Reza dan menahan tangannya. "Jangan balik dong. Nanti kamu, em, elo dapat masalah!"
Reza terhentak.
Andini melebarkan matanya melihat sosok pendiam dan tertutup di hadapannya, untuk pertama kalinya, tertawa. Ya, Reza tertawa. Rambut agak panjangnya jadi berantakan ketika dia terbahak, poninya menutupi satu mata, dan saat mata itu memandangnya geli... Andini menahan napas.
"Dasar. Maksud gue, balik kerja bukan balik ke rumah," kata Reza sambil menepuk puncak kepala Andini.
Andini lantas mematung kala itu juga. Rasa hangat di puncak kepalanya benar-benar nyaman. Reza menarik tangannya, ketika itu rasa kehilangan menelusup masuk ke dalam dirinya. Di situlah, Andini kembali menahan tangan Reza.
"Aku... ya, aku. Aku nggak ada perasaan apa-apa ke Irvan. Kita hanya sahabat, nggak lebih. Karena kalau aku nerima cintanya, aku bakal kehilangan—" kamu.
"Kehilangan apa?" Reza bertanya.
Andini merunduk lemah. "B-bakal kehilangan persahabatanku. Hubungan kita nggak akan pernah sama lagi seperti dulu. Persahabatan tidak akan sama jika ada romantisme di dalamnya."
Wajah Reza berubah dingin lagi. "Kalau begitu jangan pernah bersahabat dengan cowok manapun. Termasuk gue."
"Ha? Tapi."
"Kalo ada romantisme dalam persahabatan kita, semuanya akan hancur. Lebih baik tidak ada lagi persahabatan."
Reza kembali menarik tangannya dari genggaman Andini. Dia hendak berbalik, tapi ternyata Andini lari dan menghalangi jalannya. Andini punya firasat kalau ini adalah kesempatannya. Pertama, mungkin juga yang terakhir kalinya.
Dia mengambil napas dalam dan mengatakan, "Aku nggak pernah mau jadi sahabatmu. Aku nggak pernah menginginkannya."
Dia sudah mengatakannya, Andini mengatakannya.
Reza melihat sinar dari mata cewek itu. Tajam dan serius. Ingin sekali memeluknya saat ini, seperti yang selalu ingin ia lakukan pada adik perempuannya. Berterimakasih telah mengatakan hal itu padanya. Tangannya sudah bergerak. Alih-alih merangkul Andini, ia justru menyaku tangannya.
"Ya, kita cuma rekan kerja. Cuma teman sekelas. Nggak akan lebih, kok. Tenang saja." Reza bersuara tenang seraya mengallhkan tatapan ke tempat lain.
Andini menggeleng. Sedih mendengar kata itu keluar dari Reza. Padahal ini bukan itu yang ingin dia sampaikan. "Maksudku bukan itu, maksudku—"
"Ehem!" deheman itu menutup mulut Andini. Koki senior di dapur yang mendapat jatah istirahat baru saja masuk ke ruang istirahat. "Aahh, sori gue ganggu." Dengan muka bersalah si senior pun kembali ke ruang masak.

KAMU SEDANG MEMBACA
Deeper
Teen FictionUntuk Kakak tercinta _________________________________________ Masalah datang secara tiba-tiba di kehidupan Andini seperti hujan tanpa mendung. Bertubi-tubi menghantam tubuhnya. Kedinginan, nyaris membeku. Reza, pemuda yang tak pernah dia kenal sebe...