Enjoy this part, guys!!
Psssst. Spoiler dikit deh, part ini bikin gemes wkwkwk
Happy reading^^
Donghae merasa lengan kirinya kaku ketika ia membuka kedua mata esok paginya. Ia mengerjap masih mengantuk dan mencoba untuk menggerakkan lengannya, namun seperti ada sesuatu yang berat menindih lengannya. Dengan pelan Donghae menolehkan ke samping.
Dan melihat Dara sedang tidur, menggunakan lengannya sebagai bantalan. Donghae tidak bisa menangkap pikiran-pikiran yang berseliweran di kepalanya saat ia mencoba untuk tetap membuka kedua matanya. Dara bergerak, matanya terbuka dengan bingung. Dara melihat Donghae yang sudah bangun dan menyapanya dengan pelan. "Selamat pagi."
Donghae mengerjap, masih blank saat ia menatap wajah ngantuk Dara. Donghae kemudian sadar setelah beberapa saat, bahwa wajah Dara hanya satu hembusan napas jauhnya dari wajahnya sendiri. Lengan Dara melingkari perutnya, satu kakinya berada di atasnya. Dara melingkupinya, menggunakannya sebagai bantal manusia.
Donghae sangat kaget hingga secara tidak sadar ia berguling menjauh dari Dara, melupakan bahwa ia tidur di ujung. Donghae pun terjatuh dari kasur dengan suara gedebuk yang lumayan keras, menjedukkan kepalanya pada meja samping tempat tidur. Ia mengernyit saat rasa sakit menjalarinya dan ia mengumpat dalam hati. Donghae berdiri, menggaruk sakit di kepalanya.
Dara duduk dengan mengantuk tanpa membuka kedua matanya, tak menyadari apa yang terjadi dengan Donghae. "Jam berapa ini?"
Donghae hanya bisa menggerakkan tangannya dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun ketika jantungnya berdebar dengan keras di dadanya, ia penasaran bagaimana Dara bisa tidak mendengarnya. "Aku uh..." Donghae menunjuk ke pintu ketika Dara menatapnya dengan matanya yang setengah terbuka. "Aku akan pergi dan turun untuk sarapan... di sana... maksudku ... aku akan pergi dan sarapan."
Donghae memutar kenop pintu dan menabrakkan kakinya ketika membuka pintu dengan tergesa. "Aww.. shh!" Ia mengumpat lagi sembari menunduk untuk memegang kakinya yang sakit. Ia setengah melompat keluar dan menutup pintu di belakangnya. Donghae merasa seperti ia baru saja lari pagi saat ia menghirup napas. Ia mengacak rambutnya dengan gelisah. Ia bisa saja menelpon resepsionis untuk mengantarkan sarapan, namun karena syok pada saat detik pertama ia membuka mata, otaknya memutuskan arus pendek. "Bodoh," Donghae memarahi dirinya sendiri saat ia tertatih berjalan ke lift.
Setelah mendapatkan akal sehatnya lagi, Donghae kembali ke kamar hotel dan melihat Dara tidur lagi. Dara, dengan selimut yang menutupi wajahnya dan mendengkur dengan sedikit terlalu keras. Donghae berjalan mendekati buntalan di atas kasur yang merupakan wujud Dara dan menyentuhnya.
"Sarapannya akan datang sebentar lagi. Bangunlah." Dara hanya mendengus. Donghae mengguncangnya dan Dara menyingkap selimut dari wajahnya, seluruh rambutnya menutupi wajahnya saat ia duduk.
"Aku ingin tidur lagi," katanya dengan marah.
"Kita harus cepat. Aku harus sudah berada di Seoul pukul 4. Aku ada meeting."
"Meeting, meeting, meeting," gerutu Dara. "Semua yang kau lakukan hanya meeting." Dara menguap.
Donghae datang 30 menit kemudian dengan rapih dan terlihat segar. Ia mendapati Dara sudah menyelesaikan sarapannya dengan stik wortel. Tidak ada diantara keduanya yang mengeluarkan sepatah kata pun dan Donghae mengambil ponselnya hendak menghubungi sekretarisnya untuk mengonfirmasi meetingnya nanti.
Donghae mendapati ponselnya mati. Ia yakin telah mengisi baterainya sebelum ia mandi semalam.
"Apa yang terjadi dengan ponselku?" Donghae bergumam pada dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
FanficDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
