Chapter 5

995 92 2
                                        

Aku nggak akan capek mengingatkan, show your love by hitting the vote button. Vote yaaaaak agar supaya aku semangat hehe.


Dara mengambil foto dengan mati-matian begitu mereka berjalan keluar dari ferry. Ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang. Donghae sampai pusing melihat Dara berpindah dari satu ujung ke ujung lainnya. Akhirnya cukup sudah, Donghae merebut kamera Dara ketika dia sedang mengambil foto cacing yang dilihatnya merangkak di pasir.

"Demi tuhan, bisakah kau berhenti?!" Donghae menekan tombol untuk mencabut lensa kamera dan dengan paksa meletakkannya di saku tas selempang Dara.

Dara merajuk sepanjang perjalanan mereka ke hotel, untuk meletakkan tas-tas mereka. Ketika sampai, mereka baru tahu kalau Lee Hi hanya memesan satu kamar untuk mereka berdua dengan ranjang king size. Ranjang itu cukup besar untuk 4 orang tidur di sana, namun Donghae berkata itu terlalu kecil untuk mereka berdua. Dia lalu berusaha memesan kamar lain tapi sayangnya semuanya sudah penuh dan dua ruangan lain sedang direnovasi. 

Yang lebih parah, Donghae adalah satu-satunya yang telihat terkejut membayangkan mereka berbagi ruangan. Dara hanya duduk di ujung ranjang sambil bersungut-sungut kalau ia telah menikahi seorang pria yang sangat berpikiran tinggi sampai-sampai mencurigai istrinya sendiri akan memperkosanya. 

Dara mengejeknya dan Danghae bisa mendengar gerutuannya, "Seperti akan terjadi seperti itu saja. Dasar bajingan tidak peka."

Setelah Donghae mengkonfirmasi bahwa hotel tersebut tidak akan memberikannya ruangan yang masih bau cat dan bahkan tidak ada sofanya, mereka mulai menjelajah, dengan Donghae yang merenungkan hasil dari seluruh bencana ini. Dara tidak berbicara padanya dan itu baik-baik saja bagi Donghae. Sebenarnya Donghae lebih memilih Dara yang seperti itu daripada gadis ceria yang membuatnya tak terbisa.

Mereka mulai berangkat ke rumah Dara yang dulu dan wajahnya pun langsung cerah ketika menangkap bayangan bangunan bata dua lantai dekat laut. Dara pun langsung berlari menuju rumah itu. Dara berhenti beberapa meter dari rumahnya, terengah-engah karena terlalu bersemangat melihat rumahnya. Ia bahkan tidak memperhatikan bahwa Donghae telah sampai di sisinya dengan kedua tangan berada di sakunya. Ada tiga anak sedang bermain di beranda.

"Sekarang terlihat sangat berbeda," komentar Dara. "Dulu catnya putih dan kuning."

Perasaan kesepian mulai merambatinya. Tiba-tiba Dara tidak ingin bertanya kapankah kedua orangtuanya memutuskan untuk menjual rumah itu. Ia tidak tahu mengapa namun ia memilih untuk tidak tahu. Dara lebih fokus pada perasaan bahagianya.

"Tahukah kau, aku dulu biasanya bermain di sana saat masih kecil." Dara menunjuk beranda, kemudian menunjuk sebuah batu besar di sisi rumahnya. "Dan aku biasanya berdoa di sana setiap harinya, meminta seorang adik bayi laki-laki atau perempuan. Aku sangat kesepian menjadi anak tunggal." Suaranya mulai pecah. "Aku tidak percaya bagaimana banyak hal telah berubah. Dan aku tidak tahu kapan semuanya berubah sebanyak ini." Kemudian ia menambahkan, "Apakah ada cara bagaimana aku bisa menghubungi orangtuaku? Bisakah kau... mencari nomor yang bisa kuhubungi?" Dara mendongak, matanya memandang Donghae dan pria itu bisa melihat mata Dara penuh dengan air mata yang hampir tumpah.

Bagaimana ia bisa menolak permintaan Dara dengan tatapannya yang membuat seolah Donghae lah satu-satunya harapan?! Donghae berdehem. "Aku akan... aku akan mencoba."

"Terima kasih," katanya dengan suara serak.

Dara berdiri diam di sana untuk beberapa saat kemudian sedikit tersedu. Ia menundukkan kepala, menghapus air mata di ujung matanya. Donghae bisa merasakan keputusasaan dan kesepiannya karena kehilangan ingatan. Bagaimana hal-hal yang ia ingat dan hal-hal mengenainya telah hilang.

Only You (Indonesian Translation) - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang