Ga kuat banget nulis part iniiiiiii. Seriusan deh masa aku nulis sambil jerit-jerit. Ga tega sama Donghae. Hiks.
Donghae memandang Dara saat perempuan itu keluar melalui pintu kaca Hits dan menghilang di belokan, alis Donghae mengkerut. Ia menolehkan kepalanya pada Clara saat ia merasa Clara mencoleknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Clara, wajahnya risau. Donghae tidak pernah memberitahu siapapun kalau Dara keluar dari rumahnya ataupun kalau Dara sudah mendapatkan ingatannya kembali namun melihat bagaimana ia dan Dara berlaku, Donghae rasa Clara menyadari ada sesuatu yang salah.
Donghae mengangguk. "Ya," ujarnya sebelum menekan tombol lift. Mereka sedang akan menyebarkan berita baik kepada Eunhyuk bahwa mereka telah menyetujui kesepakatan dengan klien dari perusahaan pakaian yang telah bekerja dengan mereka selama beberapa bulan ini. Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam, Donghae diam dan Clara meliriknya.
Donghae berdiri dengan kedua tangan di sakunya, merasa bingung, penuh harap, marah, semua pada waktu yang sama. Setelah apa yang Dara katakan padanya kemarin sebelum pergi dari rumah, Donghae berpikir untuk memberikan waktu pada dirinya sendiri untuk menangani Dara. Berpikir mungkin, mimpi yang telah ia bangun untuk dirinya menghabiskan sisa usianya dengan wanita yang ia inginkan hanya seperti itu. Sebuah mimpi. Donghae telah berpegang pada harapan bahwa mungkin waktu yang telah mereka habiskan bersama paling tidak akan berarti bagi Dara ketika ia mendapatkan ingatannya kembali. Namun ia sama saja meninggalkan Donghae. Inilah hasil dari apa yang Kyuhyun sarankan. Tidak ada lagi alasan untuk berjuang. Donghae telah kalah. Dara yang dinikahinya telah kembali. Dan Dara yang dicintainya dan yang telah menghabiskan beberapa minggu dengannya sekarang, lagi-lagi, pergi. Waktunya untuk melepaskannya. Waktunya untuk menyerah. Itulah apa yang Dara inginkan.
Tapi setelah melihatnya hari ini, Donghae tak bisa apa-apa kecuali berpikir kalau Dara sebenarnya tetap tinggal. Ia merasa seperti itu saat ia melihat ke dalam mata Dara dan melihat kerinduan di sana. Dan sakit. Namun mungkin itu hanya bayangannya. Atau ia melihat apa yang ia harapkan bisa ia lihat. Ia baru saja membenahi dirinya dari kekecewaan besar lagi. Ia hanya perlu menghentikan ini. Fokus pada Hits. Belajar dari kesalahannya. Tidak berpegang pada sesuatu yang telah lepas.
Mereka keluar dari lift dan menuju ruangan Eunhyuk untuk memberitahunya kabar baik itu. Mereka berencana untuk merayakannya malam itu tapi tetap harus diam-diam sampai kontrak itu ditandatangani.
"Aku akan menghubungi yang lain," kata Eunhyuk yang tersenyum lebar sampai telinga.
"Kurasa lebih baik kita pergi ke tempat Siwon. Ngomong-ngomong rumahnya terlihat seperti resort," ujar Donghae sambil menyeringai.
"Apa?" kata Clara. "Yang lain? Apakah ini akan jadi seperti, pesta bagi kalian para laki-laki atau apa? Bagaimana denganku? Aku membantu memenangkan kesepakatan itu juga!"
"Bawa teman-temanmu," kata Eunhyuk. "Dan Donghae bisa membawa Dara."
Senyum Donghae membeku dan Clara menatapnya canggung. Eunhyuk sadar ia telah mengatakan sesuatu yang salah. "Apa?" tanyanya.
"Dia tidak akan datang," ujar Donghae sambil mengendikkan bahunya. "Dia mendapatkan ingatannya kembali kemarin." Donghae mencoba untuk terdengar tak acuh, sebisa mungkin.
Eunhyuk diam beberapa saat, mengamati wajah Donghae. "Oh sial, benarkah?" Akhirnya Eunhyuk berkata. "Itu menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa?" tanya Donghae.
"Kau tahu sekarang ini masih libur dan kau tidak akan berada di sini dan berkerja jika semuanya masih baik-baik saja antara kau dan Dara. Jadi, apa yang terjadi? Dia bangun dan pergi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
FanficDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
