Chapter 1

1.5K 117 8
                                        

Dara sedang melayang-layang. Ia merasa sangat ringan sampai membayangkan dirinya terbang dengan sayap. Menyentuh awan-awan, terbang melewati warna-warna cahaya yang berbeda, berseluncur melewati pelangi. Dia terus terbang ke atas dan ke atas dan ke atas untuk melihat seberapa tinggi yang dapat ia capai saat awan-awan tiba-tiba saja berubah gelap.

Sesuatu datang, mengarah kepadanya. Sebuah bayangan jahat bergerak seakan ingin menangkapnya. Ia tak bisa bergerak, terpaku, saat bayangan gelap itu bertambah banyak dan semuanya menyerang dari semua sisi. Di atasnya, di bawah kakinya, menembusnya.

Dara meletakkan tangannya di kepala, merasa serangan dari bayangan-bayangan gelap tersebut akan menghancurkannya saat ia merasakan dirinya jatuh. Dara mencoba meraih apapun untuk berpegangan namun tangannya malah terkena bayangan gelap itu. Dara berteriak saat ia terjun ke bawah, si bayangan gelap membuka mulut untuk melahapnya ke dalam kegelapan yang tak ada akhirnya.

Kedua mata Dara terbuka.

Untuk sesaat, Dara blank sambil menatap langit-langit putih di atasnya, otaknya mencoba mengumpulkan kesadaran. Dara tidak ingat apa yang membangunkannya, apa yang ia mimpikan, apa yang seharusnya dilakukannya...

Sesuatu tentang menyelesaikan tugas ujian akhir perlahan muncul dalam kepalanya namun semuanya terlihat sangat tidak penting sekarang. Suara tut tut yang terus menerus berbunyi sangat mengganggu. Kepalanya sakit. Dara mengangkat tangan, hendak memegang kepala, namun terhenti begitu melihat jarum menempel di kulitnya. Dia memperhatikan kemana selang kecil dimana jarum ditangannya terhubung kemudian dilihatnya sebuah kantung infus tergantung di sebuah tiang.

Matanya meneliti sekitar ruangan. Dari kantung infus, infusion pump, monitor jantung, sampai tembok dan langit-langit yang warnanya benar-benar putih. Cahaya yang lembut menembus melalui jendela kaca saat matahari mulai turun.

Sialan. Tiba-tiba ingatannya menyerbunya kembali. Dia tertabrak di jalan raya.

Sebelum bisa mengingat lebih jauh lagi, seorang gadis yang kira-kira satu inci lebih pendek darinya masuk ke dalam ruangan sambil menyeimbangkan ponsel di bahu kanannya dan menulis di sebuah notebook pink. 

"Ya, saya akan menerima pesannya. Beliau sedang tidak ada di tempat untuk menerima panggilan. Beliau sedang terkena insiden. Ya. Apa yang harus sa..." Gadis tersebut membeku saat tatapan mata mereka bertemu. Dara dengan kebingungannya dan gadis itu dengan keterkejutannya.

"Ms. Dara, anda sudah sadar!"Gadis itu berseru setelah beberapa saat. Ia menjatuhkan buku catatannya dan kembali menggenggam ponsel ke telinga. Dia berkata kepada orang di sambungan telepon. "Saya akan menghubungi anda lagi nanti." Kemudian segera keluar ruangan sebelum Dara bahkan sempat menanyakan siapakah dia.

Dara duduk dan menyandarkan punggungnya di bantal-bantal yang iia coba tata dengan nyaman. Dia merasa lemas. Dan haus. 

Setelah beberapa saat, gadis tadi kembali ke ruangan itu diikuti oleh seseorang yang Dara tebak pasti salah seorang perawat. Perawat tersebut tersenyum sambil melangkah mendekati Dara. Ia membawa sebuah tas kecil yang Dara tebak pasti untuk mengecek tekanan darah.

"Selamat sore, Ms. Dara. Bagaimana perasaanmu?" Perawat itu dengan pelan mengecek tekanan darah Dara.

"Air," jawab Dara, suaranya serak. 

Gadis tadi dengan cepat menuangkan segelas air lalu Dara langsung meminumnya hingga tandas, merasa seakan tenggorokannya belum pernah merasakan air. "Berapa lama aku tidak sadar?" tanya Dara.

"Hampir tiga minggu." Sang gadis yang menjawab, bukannya sang perawat. 

Dara menatapnya dan gadis itu merasa seakan diperingatkan hingga ia kembali menjawab. "Maafkan saya." Ia meminta maaf. "Maksud saya, anda koma selama hampir tiga minggu." tambahnya dengan suara yang lirih.

Only You (Indonesian Translation) - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang