Iiiiiiiiih demi apa aku sebel sendiri nulis ini. Rasanya pengen kuskip aja chapter ini wkwk tapi akhirnya selesai juga meski, honestly, aku nggak edit part ini dan langsung post karena aku nggak kuat buat ediiiiit. Ngetiknya aja aku cepet banget karena terlalu sebel. Well, jadi kalau kalian menemukan typo, kesalahan dalam kapitalisasi, atau kalimat yang aneh, tolong langsung kasih tahu aku di line yang mana ya biar aku langsung benerin.
Jangan lupa kalian siapkan bom ya... hihihi
Happy Reading ^^
"Sedikit terlalu larut untuk berkunjung?" Donghae bisa merasakan mulutnya bergerak saat rahangnya mengencang hingga mungkin saja rahangnya bisa retak. Pria ini selalu saja mengganggunya dengan cara yang salah. Khususnya saat dia tahu kalau Dara tidak akan setuju menikahi Donghae jika dia tidak menyelingkuhi Dara.
Jiyong mengendikkan bahunya sambil mengenakan seringaian yang Donghae benci. "Tidak saat aku sampai di sini 5 jam yang lalu."
Dara berada di belakang Donghae dan ia bisa merasakan Donghae berdiri di sana dengan kaku. Ia menatap Jiyong dan menyadari bahwa pria itu adalah pria yang sama yang diingatnya tadi. Hanya dengan warna rambut yang berbeda. Dan dia sedikit lebih berotot.
Secara mental, Dara seakan memukul dirinya sendiri karena menyadari itu. Demi Tuhan, ia hanya mengingat beberapa detik momennya bersama Jiyong dan ia tiba-tiba tahu kalau Jiyong sekarang berotot? Sekarang Dara merasa sedang menyelingkuhi Donghae.
"Sudah malam," kata Donghae. "Kembali saja lain kali." Sebut saja, mungkin seperti, jangan pernah lagi kembali.
"Aku tidak datang kemari untukmu," kata Jiyong. Matanya mengarah pada Dara yang berdiri di belakang Donghae. "Aku datang ke sini untuk berbicara kepada CEOku." Kemudian matanya kembali mengarah ke Donghae. "Kecuali kau takut mengenai... sesuatu."
Kedua mata Donghae mengkilat, mencoba memutuskan apakah ia harus menendang Jiyong keluar dari rumahnya. Ia menahan umpatan yang ingin ia lontarkan pada Jiyong. Ia ingin memberitahu Jiyong bahwa Dara adalah istrinya dan Jiyong tidak seharusnya mengganggunya sedikitpun.
Ooooh tidaaaak. Dara bisa merasa ini adalah awal kalau Donghae akan menghindarinya lagi. Setelah semua yang sudah ia usahakan agar Donghae mau berbicara dengannya? Setelah Dara memperkosanya? Sekarang Donghae akan menyerah lagi karena berpikir Dara akan menyukai hal ini, bersama dengan pria bernama Jiyong, jika Dara sudah mendapatkan ingatannya lagi. Dara bersumpah demi Tuhan jika Donghae mengalah dan meninggalkannya, ia akan menghajarnya.
"Keluar," ujar Donghae dengan tegas dan Dara bersorak. Ia merasa seperti seorang idiot yang sedang menahan senyumannya. Ini dia priaku!
"Bukan urusanmu untuk membuat keputusan seperti itu," kata Jiyong. "Seperti yang kukatakan, aku tidak datang kemari untukmu. Selain itu, aku mempunyai urusan bisnis untuk dibicarakan dengannya."
"Kau bisa membicarakan dengannya saat ia kembali ke kantor," ucap Donghae mencoba untuk menghentikan dirinya agar tidak mematahkan hidung Jiyong.
"Apa salahnya sekarang?" bantah Jiyong.
"Apa salahnya nanti saat ia kembali ke kantor?"
Jiyong menggelengkan kepalanya. "Apakah kau benar-benar akan membuat hal ini seperti sebuah kontes yang menyebalkan?"
"Tidak. Aku melakukan ini agar kau keluar dari rumahku dengan terhormat sebelum aku menendangmu keluar."
"Tak apa," potong Dara. Ia bisa merasakan Donghae sedang mencoba menekan kemarahannya dan sejujurnya, itu sangat menyeramkan. Ia tidak pernah melihat Donghae sangat marah dan ia risau jika lebih lama lagi percakapan dengan pria bernama Jiyong ini bisa berakhir dengan sesuatu yang lebih daripada argument sederhana dan dengan menimbang banyak hal dari memperhatikan semuanya, Donghae terlihat seakan ia sudah siap untuk membunuh Jiyong dilihat dari bagaimana ia mengepalkan tangannya. Dara terkejut, bagaimana pun, saat Donghae menatapnya dengan tatapan sakit di matanya. Jiyong senang, namun Dara tidak begitu menyadarinya karena Donghae tiba-tiba berbalik dan berjalan pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
FanfictionDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
