Kayaknya setiap update chapter baru aku pasti minta maaf terus deh u,u maaf ya untuk kalian semua yang udah nunggu cerita ini lama banget, terimakasih juga untuk yang udah nagih-nagih yang akhirnya bikin aku bertekad harus nyelesein chapter ini. Karena, well, sebenarnya ini udah kubikin lama banget, tapi karena chapter ini panjangnya kaya tembok china, ada 27 halaman, jadi ketunda terus u.u *bow*
Happy Reading semua!!!
Dara melangkah memasuki restoran yang diberitahukan oleh Jiyong dengan tak bersemangat. Hanya perlu kurang dari 45 menit untuknya sampai ke sana, dengan cara mengemudinya yang seperti orang gila, terus menekan pedal gas saat percakapannya dengan Donghae terputar kembali di kepalanya. Ya Tuhan, ada apa denganya? Hanya satu kata simpel 'Hai'. Hanya satu kata simpel sialan, 'Hai', dan dia bahkan tak bisa melakukannya. Dan malahan, ia berakhir dengan membuat Donghae membencinya karena dirinya yang bodoh.
Dara mendesah berat saat kata-kata Donghae melewati telinganya.
"Aku tidak ingin melihatmu."
Dara memejamkan matanya beberapa saat agar konsentrasinya kembali. Ia hampir menerobos lampu merah lagi karena terlalu banyak berpikir, hampir mencelakakan dirinya lagi. Well, Dara akan menerimanya jika itu berarti ia akan menderita amnesia selamanya. Dara membuka matanya kemudian mengamati ruangan itu untuk menemukan Jiyong. Ia melihat Jiyong di salah satu kursi di sebelah bar, memunggunginya. Dara berjalan ke arahnya. Jiyong sedang berpikir dalam sampai dia tidak menyadari Dara yang duduk disampingnya. Jiyong sedang menatap gelasnya, jarinya mengetuk-ngetuk bibir gelasnya.
Dara mengangkat salah satu jari dan mencolek Jiyong dengan keras di bahunya dan Jiyong yang kaget pun langsung menegakkan punggungnya. Matanya membeliak saat melihat Dara duduk di sampingnya, wajah Dara meringis.
"Dara!" seru Jiyong.
Dara memberi isyarat pada bartender dan memesan segelas minuman. Jiyong terus memandanginya.
"Ya, aku mendapatkan ingatanku kembali," Dara menjawab pertanyaan Jiyong yang takterlontarkan setelah beberapa saat Jiyong memandangnya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Jiyong mengangguk dan duduk ke arah depan, menghadap bar. Mereka diam saat bartender meletakkan martini milik Dara di depannya dan Dara mengucapkan terimakasih. Dara juga memandangi gelasnya, tak tahu bagaimana untuk memulai. Jiyong seperti orang asing yang ia kenal hampir sepanjang hidupnya. Jika itu bahkan masuk akal.
Dara melirik Jiyong kemudian mengembalikan perhatian ke gelasnya. "Semua kembali ke tempatnya," jawab Dara samar-samar. Lalu ia meneruskan. "Aku akan menjadwalkan konferensi pers pada hari Selasa. Aku hanya ingin memberitahumu dulu jadi kau tidak akan terkejut."
Jiyong menatap Dara penuh tanya dan Dara menoleh untuk melihat Jiyong. "Aku akan memberitahu mereka semua yang sebenarnya."
Jiyong sedikit melongo ketika mendengar pemberitahuan Dara. "A... apa?" dia tergagap.
Dara mengembalikan perhatiannya ke martininya kemudian menyesapnya.
"Itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya," kata Jiyong kemudian keraguan melintasi wajahnya, matanya menyipit. "Kecuali... kau memanfaatkanku untuk memperoleh keuntungan..."
Dara memutar matanya. "Oh tolonglah. Kau tahu dengan baik aku tidak akan melakukannya. Biarkan aku mengulang kata-katanya lagi. Aku akan memberitahu mereka apa yang mereka kira yang sebenarnya."
Jiyong akhirnya paham apa yang coba Dara katakan. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Ini bukan keputusanmu," ujar Dara. "Kecuali kau bisa berpikir betapa aku bisa jujur tanpa menghancurkan reputasi dan karirmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
FanfictionDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
