Dara berdecak frustrasi sambil menatap kertas yang masih kosong, sembari mengetuk-ngetuk pensilnya, berharap inspirasi musik mengalir ke otaknya yang beku. Kali ini waktunya ujian akhir dan Dara panik. Khususnya untuk kelas musik yang mengharuskan siswanya menyusun karya musik sendiri yang nantinya akan ditampilkan di depan guru sebagai tugas akhir.
Harusnya tugas ini sama sekali tidak berat bagi Dara. Musik adalah hidupnya. Musik mengalir dalam gennya. Tangga lagu merupakan suara pertama yang mungkin ia ucapkan begitu dilahirkan. Tapi entah bagaimana, kemampuan apapun yang orangtuanya telah anugerahkan padanya akan selalu hilang begitu saja saat ia sangat membutuhkannya.
"Psst! Dara!"
Dara mendengar suara sahabat baiknya memanggil. Dia sedang duduk di seberang meja dengan sebuah buku terbuka.
"Bisakah kita makan? Aku agak lapar," bisiknya dengan wajah memohon. "Aku kelaparan. Rasanya aku akan spingsan kalau tidak segera memasukkan sesuatu ke perutku."
Dara memutar kedua matanya. Bom, teman baiknya, selalu saja lapar. Namun entah dengan alasan aneh apa, dia bahkan tidak punya satu ons pun lemak di badannya.
"Kau tahu, kita baru saja makan sebelum datang ke sini." Dara balas berbisik, tetapi kemudian ia mengumpulkan seluruh kertas-kertas yang berceceran di meja dan memasukkan semuanya ke dalam wadahnya.
"Yeah, tapi semua pelajaran ini benar-benar buruk bagi kesehatanku, jadi aku butuh asupan gizi yang lebih." Dia memutar kedua matanya seakan itu memang sudah jelas dari awal. Bom menutup bukunya dengan sedikit terlalu keras dan kemudian malu-malu melihat ke sekelilingnya, mengecek apakah penjaga perpustakaan akan menyuruhnya diam lagi karena terlalu berisik. Untungnya tidak ada satupun yang menyadarinya. Atau semua orang terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Tentu saja karena sekarang waktunya ujian akhir.
"Oke," Dara menyetujui. "Kurasa aku juga butuh keluar dan..." dia menarik napas dengan berat. "Aku tidak tahu. Mungkin mencari inspirasi atau apalah."
Bom memutar kedua matanya. "Yeah, lihat saja Seunghyun di sana dan mungkin kau akan menemukan prosa bernada di wajahnya."
Dara mendengus kemudian menutupi mulutnya. Dia bisa melihat Mrs. Riley menatap mereka dengan kening mengkerut.
Seunghyun adalah penggemar berat Bom. Dia selalu berada di sekitar Bom di mana pun Bom berada. Meskipun Bom sering berkata dengan sedikit terlalu kasar bahwa Seunghyun bukanlah tipenya dan cowok itu terlalu cupu untuk Bom yang hebat.
"Ayo!" mereka berdua berdiri dan mengumpulkan seluruh barang-barang mereka lalu keluar dari perpustakaan. Mereka mengedipkan mata tak nyaman saat berjalan di luar. Angin di luar benar-benar sangat kencang dan mereka bisa merasakan rambut mereka berterbangan tak berarah.
"Seunghyun tidak begitu buruk tahu," kata Dara pada Bom begitu mereka mulai berjalan ke pintu keluar sekolah. Bom memutar matanya, lalu berusaha merapikan rambut dengan salah satu tangannya sedangkan tangan yang lain memegang tumpukan kertas yang ia masukkan ke dalam wadahnya begitu saja. "Yeah, dia tidak begitu buruk. Hanya saja dia tidak cocok untukku."
"Mungkin itu ide yang bagus sebagai inspirasi musikku." Dara tersenyum saat beberapa ide bermunculan di kepalanya. "Kau tahu, hal-hal seperti cinta sejati merupakan sesuatu yang magis. Membuktikan bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak bisa kau prediksi. Sejujurnya, aku tidak percaya seseorang yang cerdas seperti Seunghyun bisa jatuh cinta dengan orang sepertimu."
"Hey!" Bom memukul Dara dengan wadah filenya.
Dara tertawa, tapi kemudian melanjutkan, "Ayolah, kau itu bodoh sedangkan dia itu ketua kelas. Kau sering bolos sedangkan dia yang paling rajin. Keluarganya adalah keluarga terpandang sedangkan keluargamu tak jelas."
Bom tidak tersinggung dengan apa yang Dara katakan. Nyatanya, mereka tidak pernah tersinggung dengan apapun yang dikatakan satu sama lain. Layaknya sebuah aturan tak tertulis antara dua orang sahabat yang tumbuh besar bersama, bahkan apapun yang dikatakan satu sama lain merupakan kenyataan dan kenyataan tidak bermaksud menyinggung. Hanyalah sebuah fakta.
"Ya, dan dia adalah pria cupu kurus dengan kacamata besar bundar lalu rambutnya yang terlihat seakan-akan selamanya menempel di kening alias klimis sedangkan aku adalah seorang dewi dengan rambut sempurna, sosok sempurna, dan," Bom berkata sambil melambaikan tangannya. "Penglihatan yang sempurna."
Dara menggeleng sambil tertawa. Bom adalah ratu di sekolah mereka dan selalu menjadi gadis yang diajak kencan, menjadi pujaan sekolah. Jadi tidak heran bahkan pria dengan otak paling encer di sekolahnya pun tak berkutik dengan pesonanya.
Dara melirik Bom dari sudut matanya saat gadis itu kembali mecoba merapikan rambut agar tetap pada tatanannya. Dara tidak akan pernah mengakui hal ini pada Bom, namun ia entah bagaimana merasa iri. Bukan karena dia tidak secantik Bom, tetapi karena Bom bisa memilih siapapun untuk mencintainya. Dara tidak pernah meminta siapapun untuk terus memuja dan berlutut untuknya saat ia berjalan, namun ia ingin seseorang yang benar-benar bisa memberikan cinta yang ia inginkan. Cinta yang sama seperti cinta yang orangtuanya miliki satu sama lain.
Dan Bom bisa mendapatkannya. Dan Dara bahkan tidak pernah berpikir ia akan mendapatkannya.
Inspirasi yang sedang Dara cari saat di perpustakaan tiba-tiba hinggap di kepalanya, sampai sampai ia berhenti berjalan, matanya memandang jauh entah ke mana, terasa seakan ide yang di dapatnya bisa terbang begitu saja jika ia berkedip.
Bom, yang juga ikut berhenti, menatapnya dengan tatapan bingung. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Dara tak menjawab namun ia segera meraih tas dan mencari sesuatu di kantong kecil samping tasnya.
"Hey!" Bom mencoleknya.
"Tunggu dulu. Aku menemukan apa yang kubutuhkan." Dara mengeluarkan pulpennya dan membuka wadah file di tangannya. Dilepasnya tutup pulpen dengan mulut kemudian melakukan sebaik yang ia bisa. Menulis. Ah, itu dia. Dara punya banyak sekali ide untuk lagunya yang ia rasa harus ditulis sekarang, atau jika tidak feelingnya akan hilang.
Bom yang paham dengan apa yang sedang terjadi hanya bisa memutar kedua matanya kemudian melipat kedua tangan selama menunggu Dara selesai dengan pencerahannya.
Setelah beberapa menit, Dara melihat apa yang ia tulis. Mungkin tidak cukup bagus, tapi tulisannya mengandung ide. Ia akan mengembangkan lirik dan nada begitu sampai di rumah nanti. Dara merasa hatinya sangat senang seperti biasanya, saat kapanpun ia berurusan dengan musiknya sendiri.
Ini adalah hidupnya. Ini adalah bidang yang ia kuasai. Ini adalah cinta pertamanya.
"Jadi, apa yang kau dapat?" Bom bertanya sambil mencoba melihat apa yang Dara tulis.
Dara menaruh wadah file yang ia pegang ke dadanya, menyembunyikan kertas yang ia tulis. "Kau tahu aku tidak bisa menunjukkannya padamu. Lagu ini harus sudah selesai sebelum kau bisa menghakiminya!"
Bom mendengus. "Terserahlah. Kau tahu kau selalu bagus dalam menyusun musik. Kirimkan saja karyamu ke perusahaan-perusahaan musik dan mereka akan menerimamu dalam sekejap."
Bom tahu benar apa yang Dara inginkan karena bekerja di perusahaan musik merupakan tujuannya setelah lulus sekolah. Dara merasa pusing sendiri dengan apa yang ia pikirkan, bekerja di salah satu perusahaan musik dan mengerjakan apa yang paling ia sukai. Dia melihat susunan musiknya, tersenyum.
Tiba-tiba saja sesuatu terjadi dengan sangat cepat sampai ia bahkan tak punya waktu untuk berpikir. Hembusan angin yang kencang menerbangkan kertas-kertasnya ke mana-mana dan Dara tentu langsung berusaha menangkapnya. Terutama lagunya!
Dara berlari mengejarnya, tidak mendengar Bom yang meneriakkan namanya dan tiba tiba, rasa sakit seperti menghantamnya dengan sangat keras sampai ia merasa seperti terbang. Tubuhnya terasa seakan menghantam tanah dan mematahkan tulangnya sedangkan kepalanya terasa seakan retak.
Dara merasakan sakit yang tak terkira namun kemudianseluruh tubuhnya mati rasa. Lumpuh. Saat kesadarannya mulai hilang, saat itulah ia menyadari bahwa ia telah berlari ke tengah jalan raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
FanfictionDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
