Chapter 4

900 86 4
                                        


Dara sudah membalut dirinya dengan beberapa lapis pakaian ketika bertemu Donghae di bawah tangga untuk sarapan. Dara tersenyum dan menyapanya dengan ceria, mengacuhkan tatapan gelap Donghae yang tertuju pada ranselnya yang terletak di samping kursi yang ia duduki, dan Dara juga membawa tas selempang yang penuh. Dara berceloteh dengan semangat, juga mengacuhkan fakta bahwa Donghae mengacuhkannya. Seperti tidak ada satu orang dan hal apapun yang bisa mengganggu kegembiraannya hari ini.

Lee Hi sampai setelah beberapa menit dengan tiket Ferry ke Jeju. Donghae akan lebih memilih naik pesawat namun sampai detik-detik terakhir, Lee Hi hanya bisa memesan tiket Ferry.

Sudah pukul 12 siang saat mereka naik kapal dan hampir pukul satu ketika mereka mulai berlayar ke Jeju. Dara berlari naik ke geladak kapal, mengeluarkan kamera digitalnya dan mengambil beberapa foto.

"Waahh!" seru Dara. "Cantik sekali!"

Donghae hanya bisa berdiri di sisi kapal dengan kedua tangan di saku sambil melihat Dara yang   terus-menerus mengambil gambar sejauh manapun lensa kameranya bisa menjangkau.

Donghae hanya bisa menatap Dara yang sedang menikmati kebahagiannya terhadap hal sederhana seperti mengambil foto, tawanya mengingatkan Donghae betapa tidak memerlukan banyak usaha untuk membuatnya tertawa. 

Sebelum Donghae tahu, sebuah gelombang perasaan yang tidak diketahuinya masih hidup, datang kembali padanya seakan-akan membuatnya berlutut. Donghae belum siap untuk ini. Ia bahkan tidak memperhitungkannya.

Donghae telah membangun tembok untuk melindungi dirinya selama ini. Namun di sinilah ia berada, menghancurkan temboknya sendiri dan sekali lagi menempatkan dirinya pada sakit yang sama yang telah menjadi kawannya selama 15 tahun belakangan ini. Inilah apa yang paling ia takutkan.

Donghae menghela napas dengan berat dan berjalan menuju tepian, menempatkan tangannya pada susuran tangga ketika ingatan yang tak ia inginkan memasuki pikirannya. Donghae berusaha seakan ia bisa memadamkannya.

Donghae bertemu Dara ketika ayahnya sudah mulai melatihnya untuk mengurus perusahaan. Mereka pergi ke Jeju untuk membujuk seorang teman baik ayahnya agar kembali ke Hits Entertainment. Lelaki itu adalah salah satu penulis lagu yang hebat pada masanya dan berhenti ketika menikah. Lelaki itu adalah ayah Dara.

Donghae masih bisa mengingat hari itu ketika ia merajuk karena urusan bisnis adalah suatu hal yang tidak ia inginkan. Ia telah beralasan dari ketika mereka berada di patio milik keluarga Park dan masuk ke dalam rumah. Rumah tersebut menghadap laut namun bahkan laut menambah kekesalannya karena melewatkan pesta yang ia tahu sedang Eunhyuk dan semua temannya nikmati, jadi ia memutuskan untuk tinggal di ruang tamu. Donghae melewati sebuah ruangan yang terbuka dan berhenti saat melihat seorang gadis yang duduk di bangku piano dan menghapus susuatu di buku catatannya.

Gadis itu mendongak. Donghae dapat melihat melihat secarik kain kasa di sudut kanan keningnya yang sebagian tertutupi. "Kata apakah yang paling bagus untuk menemani kata tersenyum?"

Donghae tidak tahu apakah gadis itu sedang bertanya kepadanya ataukah ia sedang merenung sendiri dengan menanyakan kata apakah yang paling bagus untuk menemani kata tersenyum.

"Ah!" Ia kembali menulis di kertas.

Donghae berjalan mendekatinya. "Apa yang sedang kau lakukan?"

Dara tidak mengangkat kepalanya namun menjawab. "Menulis lagu."

Donghae mencemooh. "Memangnya kau tahu cara menulis lagu?"

"Duh." Ia berhenti menulis dan menatap Donghae dengan sinis. "Ayahmu berada di sana meminta ayahku untuk kembali ke Hits Entertainment. Terakhir kali kuperiksa, aku adalah anak ayahku. Tentu saja aku tahu bagaimana caranya menulis lagu." Ia menekan beberapa tuts piano sambil mendengarkan kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini tidak terdengar bagus," ia bergumam sambil mencoret sebuah baris yang sedang ia tulis. "Ini untuk ujian akhirku," ia menjelaskan sambil menekan beberapa tuts lagi kemudian mengernyit. Ia menatap Donghae. "Apa kau ingin mendengarkannya?"

Only You (Indonesian Translation) - COMPLETEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang