"Apa ini?" Dara menatap piring-piring makanan yang disajikan di depannya di pagi hari saat ia turun ke ruang makan untuk membuat cokelat panas sebelum berangkat kerja. Dara menaikkan alisnya ke Donghae yang tersenyum ragu-ragu. Mrs. Rey hanya berdiri di pojok ruangan sambil memegang teko jus.
"Aku... membuatkanmu sarapan," jawab Donghae ragu-ragu. "Kupikir... kau ingin sarapan dulu sebelum berangkat kerja."
Dara berusaha agar kemarahannya tidak terlihat, namun ia gagal. Ia menghela napas dengan berat. Sudah 6 bulan setelah mereka menikah dan jika ia tidak tahu lebih jauh, Donghae berlaku seperti seorang suami yang menyayanginya. Apa yang sedang dilakukannya?
"Aku tidak suka sarapan," ujar Dara datar. Donghae mengangguk, terlihat agak sakit hati dan kecewa dan Dara menyeringai sarkastis. "Kau pasti bercanda, 'kan?"
Donghae menatap Dara penuh tanya dan Dara menghela napasnya lagi. "Dengar," ujar Dara dengan nada merendahkan. "Apapun yang telah kita setujui mengenai... sandiwara... semua ini yang masih berjalan. Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan dan kau tidak peduli dengan apa yang kulakukan. Kau memanfaatkanku untuk musik perusahaanmu, aku memanfaatkanmu sebagai penutup isu media mengenaiku. Sesimpel itu. Jadi tolong. Jangan membuat semua ini jadi rumit."
Donghae hanya menatap Dara dalam diam sedangkan Dara bisa melihat Mrs. Rey memelototinya lewat sudut matanya. Dara meneruskan ke poin utamanya. "Kita hanya menikah untuk alasan bisnis. Jadi, demi kasih Tuhan, jangan berlaku seperti... itu." Dara menunjuk ke arah Donghae. "Itu membuatku takut."
Donghae masih menatap wajah Dara kemudian mengatakan, "Apakah itu yang kau pikirkan tentangku?"
Dara menaikkan salah satu alisnya, bertanya.
"Seorang partner bisnis? Sebagai pengalih berita?"
"Memangnya apa lagi seharusnya?" Dara terlihat bingung dengan pertanyaan Donghae.
"Aku memintamu menikahiku karena aku ingin," ujar Donghae dengan nada yang tenang. "Bukan karena urusan pekerjaan atau penanaman modal. Aku memintamu menikahiku karena aku ingin kau menjadi istriku."
Dara terlihat membeku kemudian tak percaya dan lalu ia tergelak. "Ini pasti lelucon! Mimpi sialan yang membuatku harus bangun." Dara bergumam lagi sebelum menatap Donghae. "Aku benar-benar tidak melihatnya! Aku bangun di pagi hari, melihatmu membuat sarapan, memanggilku untuk makan siang, atau makan malam, atau bertanya bagaimana hari-hariku..." Senyum Dara memudar. "Itu benar-benar menggangguku karena tak pernah berakhir. Berhenti. Berhenti saja. Kurasa kita sudah jelas kalau semua ini hanyalah urusan bisnis? Sekarang kau tiba-tiba menyatakan perasaan padaku?"
"Tidak." Donghae menggelengkan kepalanya dengan tenang. "Kau pikir aku menikahimu untuk urusan bisnis. Tapi aku tidak begitu."
Dara benar-benar tak dapat mempercayainya. Ia menggaruk sisi kepalanya. "Aku tidak ingin menikah, Donghae," ujar Dara terus terang karena tidak ada cara lain untuk mengatakannya lebih halus lagi. "Dan khususnya tidak denganmu. Kupikir kau adalah orang yang akan menyelamatkanku. Kupikir setelah kita menikah, hal-hal mengenai media akan mereda. Tetapi pernikahan kita malah membuatnya semakin memanas. Aku bahkan sudah tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Satu-satunya hal baik dari semua kekacauan ini adalah, bahwa kau tahu bagaimana menangani semua rumor-rumor itu. Kau tahu bagaimana mengurusnya. Kau tahu apa yang harus dikatakan kepada para wartawan, kepada media. Kau tahu bagaimana mempermainkan mereka. Itulah hal baik dari menikah denganmu. Tapi hanya itu."
"Apakah kau masih jatuh cinta dengannya?" tanya Donghae tiba-tiba.
Ekspresi wajah Dara berubah terkejut dan ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata selama beberapa saat. Donghae tidak menyebutkan nama namun ia tidak memerlukannya agar Dara tahu siapakah yang dimaksudnya. Dara meresponnya dengan bibir tipis dan matanya yang tajam. "Itu bukanlah urusanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Only You (Indonesian Translation) - COMPLETED
Fiksi PenggemarDara terbangun di sebuah rumah sakit dengan 15 tahun hidupnya hilang dari ingatannya. Dari seorang gadis sederhana dan ceria yang sedang berusaha menamatkan sekolahnya, ia terbangun menjadi seorang CEO dari salah satu perusahaan hiburan musik terbes...
