Setelah ditinggal pulang oleh yang lainnya, Rio mengajak Fara untuk pulang menyusul yang lain. Lagipula hari sudah siang. Sepanjang jalan Rio dan Fara hanya saling diam seperti awalnya, tidak ada lagi candaan, godaan atau ledekan Rio pada Fara. Tetapi sepanjang jalan tangan keduanya terus bergandengan, hanya saja harus dilepas Rio ketika sudah sampai dirumah. Ia tidak ingin menjadi bahan ledekan Ariel dan Yoga. Candaan kedua sahabatnya itu akan membuat dirinya tidak memiliki harga diri di dunia ini.
"Assalamualaikum."
"Ciyeee!"
Rio berdecak kesal mendengar ledekan semuanya. "Muslim kan? Jawab salam itu wajah bukan ciye!" Decaknya sembari duduk disamping Rinda.
"Walaikumsalam." Jawab mereka serentak.
"Bik, tolong ambilin aku minum dong!" Teriak Rio.
Bik Imas datang dengan air putih seperti minuman kesukaannya Rio, Rio menerimanya lalu sekali tenggak sudah habis. Bik Imas sudah lama bekerja menjadi asisten rumah tangga dikeluarga Mahesa, lebih tepatnya saat Rian, Rio dan Rinda lahir. Bukan hanya ada Bik Imas tetapi ada lima ART yang siap membantu Bik Imas dan dua supir pribadi.
"Makasih Bik Imasayang." Ucapnya tulus setelah memberi gelas kosongnya. Bik Imas mengangguk lalu kembali masuk kedalam dapur.
"Kok kalian ninggalin aku sih." Sebal Fara yang sudah duduk disebelah Adit.
"Lagian tadi asyik banget duduk berduaan, kita kan takut ganggu." Ledek Rian.
"Ganggu apa ih?"
"Ganggu pedekate lah!" Rian, Rinda, Ariel, Yoga dan Adit teriak bersamaan sesuai yang mereka rencanakan.
"Ih nggak pedekate, kan kita teman." Elaknya melirik Rio yang terlihat tidak terganggu.
"Temen apa demen?" Ledek Yoga.
"Rinda juga temen gue, temen hidup." Goda Ariel pada Rinda.
"Iya hidup lah, kalo mati udah jadi setan dong." Balasan Rinda membuat mereka tertawa kencang meledek Ariel yang tidak berhasil membuat Rinda senang.
"Nggak enak banget sih jawaban lo." Kesal Ariel.
"Ohiya, aku pulang duluan ya. Besok kan sekolah." Pamit Fara sembari berdiri.
"Gue anterin!"
Rian, Rinda, Ariel, Yoga dan Adit menoleh bersamaan kearah Rio yang berdiri tepat disamping Rinda. Mereka saling lempar tatapan bingung kemudian menahan tawa. Ada yang berubah dengan sikap Rio pada Fara.
"Tau deh yang mau lanjutin pedekatenya." Ledek Rian lagi.
"Mau gue ajak tauran ini bocah." Jawab Rio santai.
"Ih masa diajak tauran." Sebal Fara.
"Ciye yang maunya diajak kawin." Yoga menimpali.
"Ciyeee!" Rinda, Ariel dan Adit ikut meledek.
"Udah lah godainnya, anak orang udah malu." Rio menyudahi semuanya. "Ayo gue anterin, gue juga mau suatu tempat."
Rio pergi membawa Fara dalam genggamannya. Fara menatap Rian yang ada dibelakangnya dan Rian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Rian paham dengan kode yang Fara berikan.
"Bang Yo kayaknya perhatian banget sama Fara, Bang." Ucap Rinda setelah mendengar suara motor Rio meninggalkan rumah.
"Biarin ajalah, Dek." Santai Rian.
"Kalo Syifa balik kan kasian Fara, Bang."
"Belum tentu Syifa balik, Da. Lagian biarin ajalah Rio sama siapa aja, yang penting bisa buat Rio seneng. Daripada nunggu Syifa yang nggak pasti." Sahut Ariel yang memang sangat menginginkan Rio bisa bersama gadis yang bisa membuatnya bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sahabat Kembar [ENDING]
Fiksi Remaja[TAHAP EDITING] "Nyatanya saat cinta datang diantara persahabatan, saat itu juga akan ada hati yang terluka." -Rinda A.M- "Karena kegilaan mereka membuat gua bahagia" -Rian A.M- "Sahabat yang benar benar sahabat adalah dia yang bisa menghargai saha...
![Sahabat Kembar [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/71465864-64-k133479.jpg)