chapter 8-Bertemu Ghulam Khan-

562 22 4
                                        


Sanandaj menjadi kota berikutnya tujuan jalan-jalan kami. Kalau dillihat di peta, berjarak sekitar 500 km dari Teheran. Jika ditempuh dengan bis akan memakan waktu sekitar 8 jam. Huft! Dapat kubayangkan perjalanan ini akan melelahkan. 8 jam diatas kendaraan melewati medan pegunungan, begitu informasi yang kuterima dari Sadiqeh. Namun lagi-lagi Sadiqeh memberiku kejutan. Dua tiket pesawat maskapai Aseman Airlines , ditunjukkannya padaku didalam taksi, yang kukira menuju terminal bus atau rumah kerabatnya yang siap mengantar.

"Dengan ini perjalanan darat 8 jam menjadi 45 menit saja, Syarifah". Katanya dengan tersenyum simpul. Aku melebarkan mata. Rupanya semua ini sudah kau rencanakan. Dan dimana. Dimana laki-laki special itu, kawan. Batinku bertanya-tanya. Menerka-nerka, dimana aku bisa mengetahuinya, tak sabar agar segera diperkenalkannya sebagai sahabat, teman sekamar, satu kampus, dan teman mbolang. Seperti apa kira-kira profil kali-laki yang mampu menaklukkan seorang Sadiqeh. Aku lebih penasaran tentangnya, daripada seperti apa perjalananku nanti. Setelah taksi berhenti, di sebuah bandara, yang tidak begitu besar,karena kupikir ini seperti bandara domestik. Hanya melayani penerbangan dalam negeri saja, terparkir sebuah pesawat jenis Fokker 100, pesawat komersil kecil ini sudah dipenuhi beberapa penumpang. Aku mendapati duduk berdampingan dengan wanita setengah baya. Wanita , ibu-ibu khas Parsia. Dengan kerudung kecil dari scraft yang dilipat segitiga, di ikat di tengkuk, kelihatan poni rambutnya,berkerudung kecil ala Masha, dalam serial kartun Rusia Masha And The Bear.

Ini pertama kali seumur hidupku menaiki pesawat Fokker 100 dan untuk pertamakali pula aku merasakan mual dan pusing dalam perjalanan udara. Kunikmati sejenak perjalanan singkat antara Teheran dan Sanandaj. Suatu wilayah yang kebanyakan dihuni suku Kurdistan. Dan suku ini kebanyakan Sunni.

Sementara itu, aku masih mengalami wabah penyakit kepo, sambil menoleh kebelakang, kearah tempat duduk Sadiqeh, aku masih diliputi tanya, dimana, seperti apa pria istimewa itu. Sungguh penasaran aku dibuatnya. Seorang Sadiqeh yang open mind, mandiri dan sedikit keras kepala serta dominan. Namun dibalik keteguhan sikapnya, tersembunyi sisi romantika yang tak terduga. Ku pikir Sadiqeh bukanlah tipe gadis girly seperti yang kulihat semalam, menatap layar HP sambil senyam-senyum sendiri. Genit.

Perjalanan udara ini hanya memakan waktu 40 menit saja. Roda Fokker 100 itu menyentuh landasan Sanandaj Airport. Di jendela pesawat kulihat pemandangan sisi bandara cukup menakjubkan. Tampak bunga-bunga berwarna merah menyala tumbuh disela-sela padang rumput yang hijau. Indah nian. Beberapa saat setelah berbincang singkat dengan ibu-ibu Parsi tadi, baru aku mengetahui nama bunga itu adalah Shaqayeq .di luar bandara, kami disambut seorang laki-laki. Jangkung, badan cukup terawat kelihatan rutin exercise. Terlihat dari otot bisep yang menyembul di lengan yang dibalut kaos putih bersih. Paras wajah mirip orang timur tengah, tapi bukan. Tulang wajah juga beda dengan orang Parsi. Ia seperti aktor Bollywood. Menawan. Barisan giginya yang putih dan rapi, berkilau-kilau bak mutiara pulau Nusa Tenggara. Terkesima aku dibuatnya. Kepala yang besar ditopang leher yang kokoh. Rambut bak gelombang sungai, lebat hitam legam. Cambang jenggot dan kumis yang terlihat lekukannya, meski tercukur bersih. Bola mata coklat,teduh namun tegas.

"This is my Ghulam, Syarifah . Ghulam Khan ". Syarifah memperkenalkan pria ini. Ini dia kekasih Sadiqeh. Tapi entah mengapa, aku merasa pipiku bersemu merah, tersipu malu. Naluri betinaku serasa melonjak-lonjak bak birahi Zulaikha pada Yusuf. Dan kau, Sadiqeh. Kau menyebutnya My Ghulam, menandakan dia bukan milik siapapun, kecuali dirimu. Milikmu . Sebuah isyarat bahwa pria ini ada pemiliknya. Oke Sadiqeh, aku paham. Dan Ghulam Khan, menangkupkan kedua tangannya di dada. Begitu pula aku, sambil memperkenalkan diri.

"Nice to meet You, Syarifah. How is your flight ?" . menyapa sambil menatapku sopan dengan senyum lebarnya.

" Alhamdulillah. I was enjoy it ". Aku menjawabnya singkat.

ISTIKHARAH CINTACerita yang buat anda obses. Terokai sekarang