Blurb:
"Berpihak pada isyarat langit adalah suatu ikhtiar pada hati seorang hamba yang diliputi suatu keraguan, rasa takut dan ketaatan pada sang pemilik hati yang hening dan bening dari nafsu maupun ego. Termasuk cinta. Kepada siapakah cinta diper...
Ruang kuliah itu terlihat sepi. Setelah pergantian jam belum juga tampak mahasiswa yang datang. Dosen muda ini sendirian berkutat dengan notebooknya. M.Fadhol Mudhoffar,M.PdI. Kandidat Doktoral di Islamic Studies McGill University Canada. Hanya tinggal beberapa bulan saja akan menuju ke sana setelah lolos mengikuti seleksi Program Pembibitan Dosen yang diadakan Kementrian Agama. Melalui CIDA (Canada International Development Agency ) sebuah proyek kerjasama kemenag RI dan pemerintah Canada.
Ia terlihat lebih berisi. penampilan klimis dan rapi. Fadhol kini melibas waktunya dengan banyak aktifitas. Selain menjadi seorang dosen mata kuliah Sejarah pemikiran dan peradaban Islam, ia juga menjabat sebagai kepala kantor penjamin mutu (KPM) di kampusnya. Dalam organisasi kemasyarakatan pun Fadhol menjadi ketua Lakpesdam tingkat Propinsi. Tiada sedikitpun waktu dibuang percuma. Kegiatan spiritualnya pun tidak ia tinggalkan. Sebuah pengajian rutin kitab klasik oleh KH.Maftuh Zuhdi salah satu pengasuh Pondok Pesantren di Giri Kusumo Demak beberapa kilometer dari kota Semarang. Fadhol bagai seseorang yang bertransformasi menjadi lebih dewasa, tegas. Menjadi workaholic yang berprinsip no time for love.
Dua, tiga mahasiswi sudah mulai mengambil tempat duduk didepan . disusul beberapa mahasiswa. Beberapa menit kemudian ruang kuliah sudah mulai penuh. Fadhol merupakan seorang dosen muda yang cemerlang. Bintang dikampus. Idola para mahasiswa. Selain usianya yang baru saja menjelang 29 tahun ia masih single, santri tulen dengan pemikiran modern serta aktif menulis beberapa buku. Salah satu bukunya yang menjadi rujukan utama di beberapa perguruan tinggi islam adalah buku yang berjudul " Islam , Budaya dan Modernisme". Buku ini memiliki misi mensyiarkan nilai-nilai Islam pada lintas budaya dan pemikiran modern. Beberapa kali Fadhol diundang dalam review buku maupun Nara sumber pada seminar-seminar bertema Islam Rahmatan Lil Alamin.
Alamak! Gambar ini tidak mengikut garis panduan kandungan kami. Untuk meneruskan penerbitan, sila buang atau muat naik gambar lain.
Banyak mahasiswa, terutama mahasiswinya, sangat antusias untuk mengikuti perkuliahannya. Selain karena charming, Fadhol adalah dosen yang ramah, mudah membaur dengan anak didiknya. Konsultan penelitian yang memuaskan, pembimbing yang telaten dan sabar. Namun dibalik profilenya tersembunyi sebuah kebekuan yang teramat sangat. Seorang Fadhol merupakan pribadi yang sangat tertutup. Introver terutama pada wanita. Hatinya hanya ditinggali seorang wanita saja seorang yang pernah menghias hari-harinya. Wanita muda yang manaklukkan kelaki-lakiannya. Gadis itu terpaksa ia lepas demi mentakdzimi isyarat ilahiah melalui Sang Guru spiritualnya. Sebuah isyarat yang menyeretnya pada kenyataan pahit. Melepas satu-satunya cinta sejati. Menerima takdir bahwa cinta bukan segala-gala, yang dipuja dan diagungkan atau diperjuangkan. Karena yang memiliki hak untuk diperlakukan demikian hanya Sang Maha Cinta.
Beku. Sebeku puncak es abadi di Mount Everest, demikian sisi hati Fadhol. Tertutup sudah. Wanita pandai, nasab yang tinggi berderajat dan cantik jelita belum mampu melelehkan kebekuan hatinya. Fadhol memang cukup pandai mencover diri dengan kepribadiannya yang friendly, charming dan membumi. Dibalik itu sebuah jiwa menahan rasa luka menganga. Perih mengiris-iris. Bagai memegang bara, ia ingin mempertahankan cintanya. Namun panas isyarat itu menghadang. Sedangkan jika dia melepasnya maka bara cinta itu akan mati. Dan Fadhol memilih mematikannya, menjatuhkan dengan lelehan airmata , ibarat anak kecil yang ditinggal mati kedua orangtuanya. Ia adalah pecinta yang kehilangan cintanya.
Perkuliahanpun dimulai. Suara rendah penuh sahaja memulainya dengan sapa salam dan sepenggal doa,
"Subhanaka Laa Ilma Lana Illa maa Allamtana,innaka anta as sami'ul alim "
" Islam merupakan ajaran, ideologi dan way of life yang bersifat inklusif. Ia bisa memasuki berbagai budaya dan sosial masyarakat. Maka islam, memiliki warna-warni yang banyak laksana pelangi. Islam di China, India, Eropa, Amerika maupun Islam di Nusantara ".
Slide pertama. Bergambar bumi Mekkah dimasa lampau.
"disinilah peradaban bermula. Sebuah lembah tandus dan hampir tak ada kehidupan. Pada mulanya dari keluarga Ibrahim Khalilullah, Siti Hajar dan Ismail AS lalu berkembang pesat menjadi kota metropolitan. Centra bertemunya pedagang dari berbagai negeri".
Slide kedua. Menampilkan sebuah kaligrafi Muhammad Rasulullah. Tiada gambar selain sebuah nama agung itu. Beliau utusan Allah terakhir, meletakkan pondasi-pondasi pemberdayaan umat. Beliau melakukan sensus, untuk mengetahui berapa jumlah umat islam, pemudanya, berapa yang bisa membaca dan menulis. Atas dasar inilah beliau melakukan pemetaan. Setelah itu Nabi SAW melakukan pemberantasan buta aksara dengan cara penebusan tawanan dengan mengajar. Artinya tawanan yang dapat membaca akan dibebaskan setelah mereka mengajarkan pada umat islam. Situasi kota Mekkah sebagai centra pertemuan pedagang berbagai negara, memicu terjadinya akulturasi budaya. Salah satunya, baca - tulis.
Slide berikutnya menampilkan mushaf Alquran dan beberapa kitab hadits.
" Budaya literasi bermula dari penulisan mushaf Alquran selama periode turunnya wahyu Allah, baik di Mekkah maupun Madinah selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Para sahabat menulis wahyu yang disampaikan Nabi SAW di media-media penulisan yang sederhana. Seperti tulang, pelepah kurma atau dibatu. Sebagian sahabat juga menghafalkannya. Pada masa rasulullah hidup, beberapa ayat Alquran yang sulit dipahami maknanya. Dijelaskan langsung oleh Nabi SAW. Namun seteah Nabi wafat, penafsiran Alquran dilakukan oleh sahabat melalui ijtihad. Demikian seterusnya budaya literasi dan perkembangan pemikiran dilanjutkan dari generasi ke generasi.
Slide masih berlanjut. Sebuah gambar seperti istana. Didalamnya terdapat rak-rak buku. Orang-orang berjubah menekuni berbagai buku.
" Pada masa Khalifah Al Ma'mun putra dari khalifah Harun Ar Rasyid. Mendirikan centra kajian islam dan ilmu pengetahuan . adalah "Baitul Hikmah". Tempat dimana kegiatan transliterasi berbagai bidang ilmu dari Yunani. Tempat ilmuan melakukan riset. Pada zaman keemasan inilah muncul cendekiawan-cendekiawan islam seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al Khawarizmi penemu angka nol dalam konsep dasar Aljabar serta Al Idrisiyah, pembuat peta dunia jauh sebelum Marcopolo dan Colombus menjelajahi dunia ".
Tanpa suara selain suaranya. Mahasiswa- mahasiswi terkesima. Tiga jam tanpa jeda. Dosen Fadhol menjelaskan dengan runtut sejarah pemikiran dan peradaban Islam sejak zaman Nabi, sahabat, tabi'in, masa khalifah-khalifah sesudahnya dan era pembaharuan Islam dijelang runtauhnya zaman keemasan Islam.
Kuliah diakhiri dengan pembagian kelas dalam kelompok-kelompok diskusi yang harus siap mempresentasikan materi pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Bel berbunyi. Para mahasiswa semburat. Fadhol terlihat letih. Ia lepas kacamatanya. Telunjuk dan ibu jari kanannya menjepit-jepit bagian atas hidungnya. Seperti gerakan memijat. Setelah meminum air mineral sejenak ia membereskan buku dan notebooknya. Melangkah menuju kantor. Ia letih. Sublimasi rasa sakit akan kehilangan yang diubah energinya menjadi pecandu pekerjaan, tak jua mampu menghilangkan sisa-sisa luka. Ia hanya membunuh waktu, mengisinya dengan banyak aktifitas. Sesungguhnya dalam kecermelangan karirnya, separuh hatinya hampa. Hampa dari rasa cinta.