Golok 1

1.3K 19 0
                                    

Di Ujung Langit  

Magrib telah mendatang. Pho Ang-soat berdiri dibawah cahaya mentari kemuning yang hampir terbenam diperaduannya. Hanya dia seorang yang berada dipancaran cahaya mentari, seolah-olah tinggal dia seorang saja yang ketinggalan hidup di mayapada ini.

Tanah tegalan belukar sepanjang ribuan li, karena kesunyian yang mencekam ini sehingga terasa rona mentaripun telah berubah, berubah menjadi warna kelabu yang hampa dan telantar.

Demikian pula orangnya. Tangannya menggengam sebilah golok. Tangan yang memucat putih, golok yang hitam legam. Bukankah warna putih dan hitam itu perlambang kehidupan yang mendekati kematian? Bukankah kematian itu terasa hampa dan kesuyian yang kelewat batas?
Sorot mata nan lengang bola mata yang hampa dan kesepian, seolah-olah dia sudah melihat bayangan kematian, apakah kematian itu sendiri sudah berada didepan matanya?
Pho Ang-soat berjalan kedepan. Langkahnya perlahan, namun tidak pernah berhenti, umpama kematian sedang menanti disebelah depan dia juga tidak akan pernah berhenti. Gayanya berjalan memang aneh juga lucu, kaki kiri melangkah dulu setapak kedepan, kaki kanan lalu diseretnya maju mendekat, setiap langkahnya kelihatan amat susah dan berat. Tapi jalanan yang pernah ditempuhnya tak terukur panjangnnya, namun setiap langkah adalah hasil dari gerakkan kedua kakinya.
Berjalan dengan cara demikian, entah kapan baru dia akan berhenti. Pho Ang-soat sendiri tidak tahu, hakikatnya dia tidak mau dan tidak pernah memikirkannya. Sekarang dia sudah berjalan sampai disini. 

Bagaimana didepan? Apa betul didepan ada kematian?

Memang benar, tatapan matanya sudah menandakan bayangan kematian itu, apa yang digenggam ditangannya juga kematian, karena goloknya itu perlambang kematian. Golok hitam, gagangnya juga legam, demikian pula serangkanya juga hitam. Kalau golok ini perlambang kematian, golok ini justru adalah jiwanya pula.

ooooOOoooo

Cuaca makin guram, memandang jauh ke depan sudah kelihatan bentuk sebuah bayangan kota yang samar-samar. Dia tahu itulah Hong-hong-kip, kota kecil yang cukup makmur ditengah tanh belukar diluar perbatasan. Pho Ang-soat tahu letak dari Hong-hong-kip ini, karena kota itulah tempat dimana bayangan kematian sedang dicarinya. Tapi dia tidak tahu, bahwa Hong-hong-kip sekarang sudah mati, sudah runtuh sudah sepi.
Jalan raya dalam kota kecil ini tidak panjang, tidak lebar, namun ada puluhana toko dan warung berderet disepanjang jalan raya itu. Tidak sedikit kota-kota kecil seperti ini dalam dunia, keadaannya seperti itu juga, bobrok dan reyot, warung yang jorok, harga barang yang murah, keluarga sederhana dengan yang jujur dan bajik.

Sekarang keadaan sudah berbeda, karena Hong-hong-kip walau ada warung dan toko, namun sudah tiada penghuni, seorang manusiapun tidak terlihat dalam kota ini.
Pintu atau jendela rumah-rumah disepanjang jalan raya ini ada yang terbuka ada pula yang tertutup rapat, namun semuanya sudah kotor berdebu dan lapuk, luar dalam rumah bertumpuk selapis debu tebal, gelagasi malah sudah menghias berbagai pelosok rumah-rumah itu.

Seekor kucing hitam terkejut oleh derap langkah yang mendatangi, kucing ini bergerak lamban dan malas, tidak selincah dan cekatan seperti kucing umumnya yang kelaparan, dengan dengus napasnya yang berat dia beranjak menyebrang jalan, bentuknya sudah tidak mirip seekor kucing lumrah.

Kelaparan memang mampu merubah bentuk segalanya? Mungkinkah kucing kering itulah satu-satunya jiwa yang ketinggalan hidup dalam kota kecil ini?
Hati mulai dingin jari-jari tangan Pho Ang-soat juga mulai dingin, lebih dingin dari mata golok yang dipegangnya.

Kini dia sudah berdiri ditengah jalan raya, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Tapi dia masih belum bisa percaya, tidak berani percaya dan tidak tega untuk percaya. Bencana apakah yang menimpa tempat ini? Bagaimana pula terjadinya bencana itu?

Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu LungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang