Dalam lorong jorok dan sempit ini, hanya daun pintu ini saja yang kelihatan pantas, bersih dan mengkilap, catnya pun masih kelihatan bagus. Agaknya bukan saja Siau-thou-cu pandai bermain di atas ranjang, dia pun pandai mengatur lingkungannya, maka usahanya berkembang dan maju.
Suasana di balik pintu sunyi senyap, tiada terdengar suara apa pun.
Seorang lelaki yang muda perkasa, dengan pelacur muda cantik yang banyak digilai laki-laki normal berada di dalam sebuah kamar, bagaimana mungkin suasana di dalam rumah sehening ini? Pintu meski dipalang dari dalam, tapi tidak kokoh, perempuan yang biasa menerima tamu memang tidak perlu punya pintu yang kokoh.
Ketika pintu terpentang, di dalam adalah sebuah ruang tamu, menjadi kamar tidurnya pula, dinding kelihatan baru dikapur, gambar-gambar perempuan telanjang dengan pose yang merangsang memenuhi dinding papan yang bolong-bolong.Segenggam kembang sedap malam yang sudah mulai layu berada di dalam vas kembang di atas meja, kecuali cangkir dan poci teh, di pinggir meja terdapat setengah mangkuk mie tite yang tidak sempat dihabiskan. Agaknya pelacur juga selalu memelihara kondisi badannya karena kemontokan adalah modal utama mereka mencari duit, terutama pinggang yang ramping adalah modal utama untuk memelet kaum lelaki hidung belang.
Kecuali sebuah dipan yang dilembari seprei bersulam kembang besar, barang paling antik di kamar ini adalah sebuah patung pemujaan di dalam sebuah wadah ukiran di atas ranjang, dengan kain korden warna kuning, kehadiran patung pemujaan di dalam terasa amat bertentangan dan merupakan persaingan antara kebusukan, kemesuman dengan kesucian dan keagungan.
Kenapa dia meletakkan patung pemujaan ini di atas ranjang, apakah maksudnya supaya patung yang dipujanya ini menyaksikan beginilah kehidupan manusia kelas rendah yang bergulat dengan penderitaan yang hina dina? Menyaksikan bagaimana dia harus menjual diri untuk menyambung hidup hingga akhir hayatnya.
Siau-tho-cu ternyata sudah mati, mati bersama The Kiat di atas ranjang, darah segar membuat sulaman kembang merah besar itu kelihatan lebih menyala.Darah meleleh dari urat nadi besar di belakang leher, sekali bacok menghabiskan jiwa. Pembunuh ini bukan saja memiliki gaman yang tajam, golok kilat, agaknya dia pun amat berpengalaman di bidang ini.
Pho Ang-soat tidak muntah lagi, juga tidak merasa heran, mungkinkah kejadian ini memang sudah dalam rekaannya?
Pho Ang-soat sedang menerawang.Seorang yang biasanya jarang cerewet, kenapa selama dua tiga hari bercerita di restoran? Tugasnya sehari-hari menebang kayu dan dijual untuk hidup pun dilupakan.
Kalau dia gemar minum arak, suka makan daging, hanya simpanan seorang pelacur, jelas tidak mungkin punya tabungan.
Tapi setelah dua hari dia tidak bekerja, darimana datangnya uang untuk membayar Siau-tho-cu?Cerita itu sudah terlalu hapal bagi The kiat, terlalu ramai dan menarik, malah mimik mukanya pun sedemikian serasi dengan cerita yang dikisahkan, seolah-olah sebelumnya memang sengaja sudah dilatih, seperti pemain sandiwara yang siap naik pentas saja.
Dia sengaja mengisahkan pengalaman yang dilihatnya di restoran yang paling ramai, tujuannya adalah supaya Pho Ang-soat pergi mencarinya.
Kongsun To dan orang-orangnya sudah menyogoknya dengan sejumlah uang, dengan syarat supaya dia membual, supaya bualannya didengar oleh Pho Ang-soat.
Karena itu sekarang mereka membunuhnya supaya rahasia ini tidak bocor.
Akan tetapi umpama analisanya ini tepat dan sesuai kejadian, namun masih ada beberapa persoalan yang susah dipecahkan!Di antara kisah yang diceritakan itu, sebetulnya bagian mana yang benar, bagian mana yang sengaja ditambahkan? Tambahan itulah yang bohong.
Kenapa mereka sengaja mau berbohong? Untuk menghilangkan jejak pembunuh Yan Lam-hwi? Atau supaya Pho Ang-soat meluruk ke Thian-liong-si?
Pho Ang-soat sukar memastikan, tapi dia sudah berkeputusan jika di dalam Thian-liong-si sudah diatur jebakan untuk menangkap atau membunuh dirinya, dia pasti tetap akan meluruk ke sana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
General FictionLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...