Kuil Kuno Naga Langit
Tengah hari, sinar surya memenuhi jagat.
Waktu Pho Ang-soat beranjak keluar dari dalam hotel, terasa semangatnya bergelora, cukup sebagai bekal untuk menghadapi setiap tantangan, kesulitan dan mara bahaya.
Dia tidur sehari penuh, bangun tidur berendam satu jam di dalam air panas, rasa penat kantuknya selama beberapa hari ini telah tercuci bersih dan lenyap bersama debu dan dekil yang melekat di badannya.Tahun-tahun belakangan ini dia sendiri menyadari sudah jarang mencabut golok, sekarang dia menyadari, dengan golok membereskan persoalan ternyata bukan cara yang baik.
Tapi cara berpikirnya sekarang sudah banyak berubah, karena itu dia perlu membangkitkan semangat. Karena membunuh orang bukan saja merupakan tugas yang melampui batas, untuk melaksanakan tugas itupun memerlukan semangat, tenaga jasmani dan kekuatan batin. Sekarang walau dia belum tahu, dimana orang-orang itu, dia percaya akan datang suatu ketika dapat menemukan jejak mereka.
The Kiat adalah seorang penebang kayu, usianya baru dua puluh satu, perjaka yang hidup seorang diri, menetap di sebuah rumah kayu kecil di tengah hutan. Setiap hari hanya turun gunung sekali, menukar beras, garam dan keperluan makan lainnya dengan kayu-kayu kering. Daging dan arak setiap minggu dibelinya sekali, kadang dia pun mampir ke dalam gang sempit yang terletak di ujung kota yang jorok itu, mencari hiburan dengan perempuan yang banyak terdapat di sana.Kayu-kayu bakar yang dia tebang selalu dia jual ke restoran yang banyak terdapat di sepanjang jalan raya kota itu, kayu yang dia jual murah harganya, ditanggung kayu kering. Maka pemilik restoran banyak yang senang mengundangnya minum barang secangkir dua cangkir teh wangi, yang baik hati dan murah hati ada yang menyuguh secangkir arak kepadanya.
Takaran minumnya tidak besar, minum tiga cangkir saja mukanya tentu sudah merah, biasanya dia jarang buka mulut, memang The Kiat bukan lelaki cerewet.
Tapi dua tiga hari ini ternyata dia senang bercerita, cerita yang sama sedikitnya sudah pernah dia ceritakan dua tiga puluh kali. Setiap kali mulai ceritanya, selalu dia menekankan, "Inilah kejadiannya nyata, kejadian yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, kalau tidak, aku sendiri pun tidak mau percaya."Peristiwa terjadi pada tiga hari yang lalu menjelang lohor, dimulai waktu dia melihat berkelebatnya sinar golok di dalam hutan. "Mimpi pun kalian pasti tidak menduga di dunia ini ada golok seperti itu, hanya terlihat sinar golok berkelebat, seekor kuda kekar besar, segar bugar tahu-tahu terbelah menjadi dua.
"Seorang pemuda yang bermuka cakap seperti pemain opera di atas panggung, ternyata bersenjata pedang merah menyala laksana darah, siapa saja yang membentur pedangnya pasti segera rebah.
"Dia punya seorang teman, wajahnya pucat lesi, pucat mengkilat seperti tembus cahaya. Orang ini lebih menakutkan
Cerita yang sama sudah dikisahkan tiga puluh kali, yang bercerita menghayati dengan rasa ngeri, takjub dan bernapsu, pendengarnya juga asyik dan tertarik.
Tapi kali ini sebelum habis ceritanya, mendadak dia menutup mulut, karena mendadak dia melihat seorang bermuka pucat berdiri di depannya, sepasang mata yang menatap seperti ujung golok mengawasinya.
ooooOOoooo
Golok yang hitam, sinar golok yang menyambar bagai kilat, hujan darah yang berhamburan seperti panah rontok ....
Perut The Kiat seperti dipuntir, seperti mengkeret, hampir tak tahan dia ingin muntah-muntah lagi. Dia ingin lari, tapi kedua lututnya terasa lemas dan goyah.
Dingin Pho Ang-soat menatapnya, mendadak bersuara, "Teruskan!"
The Kiat menyengir kuda, katanya tergagap, "Apa ... apanya yang teruskan?"
"Setelah aku pergi hari itu, apa pula yang kau saksikan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
General FictionLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...