Ibu Jari Tangan Hitam
Dingin suara Pho Ang-soat, "Di langit tiada bulan, bulan tiada hati, darimana datangnya Bing-gwat-sim?"
"Kau keliru," ujar Yan Lam-hwi dengan menghela napas, "sebetulnya aku juga keliru, sampai sekarang baru aku tahu bahwa Bing-gwat-sim itu punya hati."
Yang tidak punya hati adalah mawar, maka mawar di ujung langit, di tempat yang amat jauh."Jadi Bing-gwat-sim adalah penghuni tempat ini?" tanya Pho Ang-soat.
Yan Lam-hwi mengangguk tidak bersuara, dari luar terdengar ketukan pintu.
Daun pintu hanya dirapatkan saja, nona cilik dengan mata bundar berpakaian sutra hijau, wajahnya bersemu merah, tangan kiri membawa cangkir, tangan kanan memeluk sebuah guci arak kecil yang masih disegel tutupnya, dengan malu-malu dia beranjak masuk, matanya yang jeli lincah berputar mengawasi Pho Ang-soat sekian lamanya. Tiba-tiba dia berkata, "Apakah dia ini tamu agungmu yang dikatakan nona kami?"
Pho Ang-soat tidak mengerti, demikian pula Yan Lam-hwi juga tidak habis mengerti.
Nona cilik ini berkata pula, "Nona kami bilang, ada tamu agung bertandang, maka menyuruhku menyiapkan santapan, tapi kulihat kau ini tidak mirip tamu agung." Seperti malas melihat Pho Ang-soat lagi, mulut selesai bicara segera ia membalik ke sana membersihkan meja, lalu menata hidangan.Bayangan orang tadi ternyata memang benar Bing-gwat-sim adanya.
Kakek tua berbaju hitam memang hendak membunuh Yan Lam-hwi, sayang pembunuh gelap ini telah terbunuh lebih dulu oleh Bing-gwat-sim, namun dia tidak ingin segera unjuk diri, mungkin hendak memancing Pho Ang-soat masuk ke atas loteng itu.
Yan Lam-hwi tertawa, katanya, "Gelagatnya dia lebih mahir dari aku dalam hal mengundang tamu."Pho Ang-soat menarik muka, katanya, "Sayang sekali aku ini bukan tamu agung seperti yang dibayangkan olehnya."
"Betapapun kau sudah berada di sini, setelah datang kenapa tidak tinggal di sini?"
"Kalau aku sudah berada di sini, kenapa kau masih tidak bicara?"
Yan Lam-hwi tertawa, dia tepuk tutup guci arak serta menyobek segelnya, bau arak segera merangsang hidung.
"Arak bagus," pujinya dengan tertawa, "sejak aku kemari, belum pernah aku mencicipi arak sebagus ini."
Nona cilik itu sedang mengangkat guci menuang arak ke dalam poci, dari poci dia mengisi arak ke dalam cangkir.
Yan Lam-hwi berkata, "Agaknya bukan saja dia mengenalmu, orang macam apa kau ini, dia pun sudah tahu jelas."
Arak secangkir penuh segera ditenggaknya habis, lalu dia berputar ke arah Pho Ang-soat, katanya pula perlahan, "Cita-citaku belum terlaksana, lantaran ada seorang belum mati."
"Siapakah dia?"
"Seorang yang patut dibunuh."
"Kau ingin membunuhnya?"
"Setiap hari setiap malam aku ingin membunuhnya."
Lama Pho Ang-soat berdiam diri, lalu berkata dingin, "Orang yang patut mati, cepat atau lambat pasti akan mati, kenapa harus kau sendiri yang turun tangan?"
"Karena kecuali aku, tiada orang yang tahu bahwa dia patut dibunuh."
"Lalu siapa dia?"
"Dia bernama Kongcu Gi."
Ruangan itu mendadak hening, nona cilik yang menuang arak itupun berdiri melenggong, lupa mengisi cangkir yang kosong.
ooooOOoooo
Kongcu Gi.
Nama ini seolah-olah membawa daya magis yang dapat menyedot sukma orang.
Pho Ang-soat menatap keluar jendela, lama sekali mendadak dia berkata, "Ingin aku bertanya kepadamu, selama empat puluhan tahun mendatang ini, ada berapa orang yang betul-betul dapat diagulkan menjadi pendekar besar?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
General FictionLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...