Golok 5

768 12 0
                                    

Burung Merak

Kuda tidak melukai orang, kereta itupun tidak terbalik.

Laki-laki yang berdandan secara umum inipun lekas sekali telah lenyap di kerumunan orang banyak, bagaikan buih yang lenyap di tengah samudra, yang jelas orang lain tidak akan menaruh perhatian padanya.

Pelan-pelan Pho Ang-soat mengangkat kepala, Bing-gwat-sim sedang tersenyum sambil mengawasi, senyum yang aneh tapi juga manis. Namun dia justru seperti dipecut rubuhnya, mendadak dia putar tubuh masuk kembali ke dalam kabin kereta.
Bukan saja Bing-gwat-sim sudah melihat jelas rasa kaget dan deritanya, dia pun merasakan betapa duka-lara yang tak tersembuhkan di dalam relung hatinya. Kenangan lama yang sudah lanjut terbawa masa, sudah buyar laksana segumpal asap di tengah udara, kenapa sekarang kembali muncul di hadapannya?

Tanpa sadar Bing-gwat-sim mengangkat tangan mengelus muka sendiri.

Topeng jenaka yang dipakainya itu sudah dia tanggalkan waktu melompat keluar dari kereta, sehingga untuk kedua kalinya dia melihat wajah aslinya.

Mendadak Bing-gwat-sim merasa benci terhadap diri sendiri, kenapa wajahnya mirip perempuan itu? Kenapa memberi penderitaan sedalam itu kepadanya? Sesama manusia kenapa sering terjadi harus saling menyalahkan dan saling melukai, semakin besar rasa cinta, semakin besar pula luka yang dideritanya.

Waktu ujung jarinya mengucek pelupuk matanya, baru dia sadar bahwa air matanya telah berlinang. Untuk siapa? Untuk umat manusia yang dungu? Atau untuk pria asing yang sebatangkara ini? Diam-diam dia mengusap air mata, waktu dia masuk ke dalam kabin kereta pula, topeng itu sudah dipakainya lagi, dalam hati dia mengharap dirinya selalu bisa tersenyum ramah dan jenaka seperti topeng gendut ini, bisa melupakan duka-lara dan penderitaan di dunia ini, meski itu bisa diperolehnya hanya sekejap.
Sayang manusia tetap manusia, bukan malaikat atau dewa, umpama malaikat dan dewa, mungkin juga memiliki penderitaan mereka sendiri, bahwa mereka tertawa lebar, bukan mustahil hanya sengaja ditunjukkan kepada umat manusia, demikian dia menghibur diri dalam hati.

Muka Pho Ang-soat yang pucat masih kelihatan berkerut-merut, tubuhnya juga kelihatan bergerak, sekuatnya Bing-gwat-sim menekan rasa sakit hatinya, mendadak dia berkata, "Orang yang satu tadi, tentu kau pun sudah melihatnya."

"Sudah tentu kulihat."

Bing-gwat-sim berkata, "Tapi kau tidak memperhatikan dia karena dia juga orang awam ..."

Orang biasa seperti buih di permukaan air, bagai sebutir gabah di dalam beras, siapa pun jarang memperhatikan dia. Tapi bila air sudah masuk ke tenggorokan, mendadak kau akan sadar, buih itu sudah berubah menjadi jari hitam, dari tenggorokan menusuk ke dalam jantungmu.

Bing-gwat-sim menghela napas, katanya, "Karena itu aku selalu beranggapan orang semacam ini paling menakutkan, jikalau tadi dia sendiri memperlihatkan belangnya, mungkin sampai sekarang kau tetap tidak akan memperhatikan dia."

Pho Ang-soat mengakui hal ini, tapi kenapa orang itu sengaja berbuat demikian?
Bing-gwat-sim berkata, "Karena dia hendak mencari tahu jejak kita."

Ibu jari tentu sudah tahu adanya kereta yang berhenti di seberang jalan dan sedang mengawasi gerak-geriknya, maka dia sengaja menyembur basah kakinya, dengan tertawa serta munduk-munduk membersihkan kaki orang, saat itulah dia memberi kisikan kepadanya. Bahwa lelaki yang basah kakinya ini sengaja jatuh di bawah kaki kuda, karena dia juga tahu hanya dengan berbuat demikian baru bisa memaksa penumpang di kabin kereta keluar.

Bing-gwat-sim tertawa getir, katanya, "Sekarang kita belum tahu asal-usulnya, dia malah sudah bisa melihat kita, dalam waktu satu jam tentu dia sudah berhasil menemukan tempat Yan Lam-hwi."

Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu LungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang