Duel
Di pojok taman sebelah timur ada sebuah pintu kecil. Tadi Pho Ang-soat masuk dari sana. Sekarang Toh Lui pun masuk dari pintu kecil itu.
Mereka tidak melompati tembok. Jalanan kecil berliku sudah lenyap ditelan suburnya rumput-rumput liar, bila beranjak melewati rerumputan, jaraknya pun akan lebih pendek, tapi mereka justru lebih suka menyusuri jalanan kecil yang berliku-liku.
Langkah mereka perlahan, begitu berjalan pasti tidak akan berhenti. Dipandang dari berbagai sudut, kedua orang ini mempunyai beberapa persamaan, tapi jelas mereka bukan manusia sejenis, ini terbukti dari golok mereka, bila melihat golok mereka, maka tampak jelas perbedaannya.Sarung golok Toh Lui dihiasi zamrud dan permata yang kemilau, golok Pho Ang-soat berwarna hitam legam. Tapi masih ada titik persamaan dari kedua golok ini, keduanya adalah golok, golok untuk membunuh orang. Lalu adakah persamaan pula di antara kedua orang ini? Ada, keduanya adalah manusia, manusia yang ingin membunuh manusia.
Jam empat belum tiba, namun saat mencabut golok sudah tiba. Golok tercabut jiwa pun melayang, kalau bukan kau yang mampus, akulah yang mati.
Langkah Toh Lui akhirnya berhenti, berhadapan dengan Pho Ang-soat, berhadapan dengan golok Pho Ang-soat yang tiada bandingannya di kolong langit ini. Besar tekadnya untuk membunuh orang yang satu ini di bawah goloknya, namun satu-satunya orang yang dihormati, dikagumi juga adalah musuh yang dihadapinya sekarang.
Seolah-olah Pho Ang-soat berada di suatu tempat yang amat jauh, jauh di ufuk langit, saat segumpal mega kebetulan menutupi matahari, sang surya telah lenyap, tidak kelihatan, tapi matahari selamanya tidak pernah mati.
Bagaimana dengan manusia?
Akhirnya Toh Lui bersuara, "Aku she Toh bernama Lui."
"Aku tahu," sahut Pho Ang-soat.
"Aku datang terlambat."
"Aku tahu."
"Aku sengaja supaya kau menunggu, supaya kau tidak sabar dan risau sehingga aku lebih leluasa membunuhmu."
"Aku tahu."
Mendadak Toh Lui tertawa, katanya, "Sayang aku melupakan satu hal." Tawanya getir, katanya pula, "Waktu aku membuat kau menunggu kedatanganku, aku sendiri juga menunggu."
"Aku tahu."
"Apa pun kau tahu?"
"Paling sedikit aku masih tahu satu hal."
"Coba katakan."
"Sekali golokku berkelebat, jiwamu pasti melayang." Jari-jari Toh Lui mendadak mengencang, kelopak matanya juga mengkerut, lama kemudian baru ia bertanya, "Kau yakin?"
"Yakin sekali."
"Kalau begitu kenapa kau tidak segera mencabut golokmu?"
Beberapa menit telah berselang, mega mendung sehingga cahaya mentari tidak kelihatan lagi, cuaca buruk menjadikan hawa menjadi lembab dan dingin.
Inilah saat yang paling tepat untuk membunuh orang.Bing-gwat-sim berada di Bing-gwat-lau, berada di Bing-gwat-kong (jalan bulan purnama).
Waktu Ibu jari dan Merak memasuki Bing-gwat-kong, kebetulan serangkum angin menyampuk muka mereka, angin yang dingin namun menyejukkan.
Ibu jari menarik napas dalam, katanya tersenyum, "Cuaca hari ini sungguh bagus sekali untuk membunuh orang, sekarang juga saat yang paling baik untuk melaksanakan pembunuhan itu. Setelah membunuh orang, aku masih bisa mandi air panas dengan santai, lalu minum arak sepuasnya,"
Merak berkata, "Lalu mencari pelacur untuk diajak tidur."
Ibu jari tertawa riang, matanya menyipit, "Ada kalanya aku sampai perlu ditemani dua tiga orang sekaligus."

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
General FictionLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...