Dulu Pho Ang-soat juga punya pengalaman demikian, waktu dia membunuh orang pertama kali, isi perutnya yang asam pun dimuntahkan keluar, dia maklum akan gejolak perasaan ini.
Bukan soal mudah untuk melupakan gejolak perasaan seperti ini. Tapi manusia masih akan terus membunuh orang, hanya manusia yang bisa membunuh manusia, karena ada sementara orang pasti mendesak seseorang untuk membunuh orang.
Soal bunuh membunuh ini ada kalanya seperti penyakit menular, siapa pun sukar meluputkan diri dari ketularan, karena bila kau tidak membunuh dia, maka dia akan membunuhmu.Yang menjadi korban akan memperoleh ketenteraman di alam baka, yang membunuh malah akan tersiksa oleh derita lahir dan batin. Bukankah tragedi seperti ini mengandung suatu sindiran?
Keadaan telah tenang kembali, terlalu tenteram.Darah tidak lagi mengalir, permusuhan sudah jauh terhindar. Jagat raya gelap kelam, tak terdengar suara apa pun. Tangis bayi pun tidak terdengar, dimana anak-anak itu?
Sekujur badan Pho Ang-soat menjadi dingin, katanya, "Anak-anak sudah jatuh ke tangan mereka!"Co Giok-cin malah menekan rasa dukanya, membujuknya malah, "Anak-anak tidak akan mengalami bahaya, tujuan mereka bukan anak-anak."
Segera Pho Ang-soat bertanya, "Apa kehendak mereka?"
"Yang mereka tuntut adalah ...."
"Apakah Khong-jiok-ling?"Terpaksa Co Giok-cin membenarkan, "Mereka kira Jiu Cui-jing menyerahkan bulu merak itu kepadaku, bila aku menyerahkan bulu merak itu kepada mereka, anak-anakku akan dikembalikan kepadaku." Air matanya mulai meleleh, "Tapi aku tidak punya bulu merak, padahal bagaimana bentuk barang itu aku pun belum pernah melihatnya."
Dingin tangan Pho Ang-soat, sedingin es.
Co Giok-cin menggenggam tangannya, katanya rawan, "Sebetulnya tidak akan kuceritakan hal ini kepadamu, aku tahu tiada seorang pun di dunia ini dapat merebut anakku dari tangan mereka."
"Tapi mereka kan juga anakku."
"Tapi kau tak punya bulu merak, misal kau mampu membunuh mereka, anak-anak itu tetap takkan dapat kau rebut kembali."Pho Ang-soat membungkam, tidak bisa tidak dia harus mengakui bahwa dirinya tak mampu membereskan persoalan ini, perasaannya seperti disayat pisau.
Co Giok-cin menghiburnya lagi, "Untuk sementara mereka pasti tidak akan mengganggu anak-anak, tapi ..." Jari tangannya mengelus wajah Pho Ang-soat yang pucat, "Kau sudah terlalu lelah, terluka lagi, kau harus banyak istirahat, berusahalah kau membuang segala kerisauan hati dan melupakan mereka."Pho Ang-soat tidak bersuara, tidak bergerak, seolah-olah dia sudah kaku, pati rasa. Karena dia tidak punya bulu merak, dia tidak akan bisa menyelamatkan anak-anak. Dengan kedua tangannya dia menyambut kelahiran mereka di dunia ini, sekarang terpaksa dia harus menyaksikan mereka menderita dan terpisah dari ibunya, kemungkinan pula akan mati.
Sudah tentu Co Giok-cin juga merasakan penderitaannya, dengan air mata bercucuran dia menariknya ke ranjang serta menekan kedua pundaknya, katanya dengan lembut dan mesra, "Sekarang kau harus berusaha mengendorkan diri, apa pun jangan kau pikirkan, biar aku mengobati luka-lukamu." Kembali dia meraba lembut muka orang, lalu secara tiba-tiba dia menotok tujuh Hiat-tonya dengan totokan berat.
Tiada orang bisa membayangkan perubahan ini, umpama setiap orang di dunia ini sudah menduga sebelumnya, tapi Pho Ang-soat pasti tidak pernah membayangkan. Maka dia hanya bisa menatapnya dengan kaget, tapi kejut dan herannya jauh lebih besar dari pukulan batinnya.Bila sepenuh hati, dengan keluhuran jiwamu kau melayani seseorang, tapi orang itu malah mengkhianati kau, siapa dapat membayangkan betapa penderitaan batinnya.
Tapi Co Giok-cin malah tertawa, tertawa lembut dan manis, "Kelihatannya kau amat menyesal atau menderita, apakah luka-lukamu sakit? Atau perasaanmu yang tertusuk?" Tawanya kelihatan lebih riang, "Dimanapun rasa sakitmu, sebentar tidak akan terasa sakit lagi, karena orang mati tidak akan merasa sakit."

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
General FictionLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...