Perubahan
Keheningan mencekam, hanya terdengar hembusan angin lalu di pekarangan, pemuda yang sedang membersihkan kuku jarinya tetap berdiri tidak memperlihatkan perubahan mimik mukanya, yang sedang main catur juga asyik dengan biji-biji caturnya, jangan kata melirik, mengangkat kepala pun tidak.
Bing-gwat-sim tidak sabar lagi, serunya, "Kedatangan kami bukan ingin menonton orang main catur."
Kongsun To menjadi juru bicara mereka, katanya, "Aku tahu kalian mencari diriku, akulah yang mencuci bersih Khong-jiok-san-ceng dengan darah, kalian tidak salah mencariku."
Jari tangan Bing-gwat-sim menggenggam kencang, kuku jarinya sudah amblas ke kulit dagingnya, katanya, "Dan mereka bertiga?"
Kongsun To tidak menjawab langsung, tapi dia memperkenalkan dulu pemuda yang sedang membersihkan kuku jarinya, "Inilah Si-bu Kongcu dari keluarga Siau di Lok-yang." Seperti sengaja mau pamer, dia menjelaskan lebih terperinci, "Maksud dari Si-bu (empat tanpa) adalah pisau terbangnya tanpa tandingan, membunuh orang tanpa hitungan, bila sudah bermusuhan tanpa kenal belas kasihan."
"Masih ada satu lagi, tanpa apa?"
"Umpama tidak bermusuhan juga tanpa kenal kasihan," Kongsun To menjelaskan lebih lanjut, "dia masih punya julukan aneh yang cukup panjang yaitu, naik ke langit masuk ke bumi mencari Siau Li, bertekad bulat membunuh Yap Kay."
Dahulu Li cilik si pisau terbang Li Sun-hoan pernah menggetarkan dunia, setiap kali pisau terbangnya disambitkan, selamanya tidak pernah ditimpukkan sia-sia, kebesaran jiwanya, kecemerlangan namanya, sampai sekarang belum ada orang yang bisa melampaui, Yap Kay memperoleh ajaran murninya, mewarisi kepandaianya, malang melintang di Bu-lim selama tiga puluh tahun, walau tidak pernah salah membunuh seorang pun, tapi tiada orang yang berani mengusiknya.
Bing-gwat-sim berkata, "Pemuda yang berdarah dingin ini bukan saja yakin dapat membunuh Yap Kay, malah dia pun ingin bertanding dengan Li Sun-hoan?"
"Agaknya memang demikian," ujar Kongsun To.
"Besar juga pambeknya," ucap Bing-gwat-sim tertawa.
"Orang yang pambeknya besar, umumnya tidak berkecil hati."
"Agaknya memang demikian," giliran Bing-gwat-sim mengiakan.
"Sebetulnya keliru," kata Kongsun To sambil tertawa.
Bing-gwat-sim tertawa, katanya, "Makin besar mulut kepandaiannya makin rendah, bukankah banyak orang-orang kerdil seperti itu di kalangan Kangouw?"
Gelak tawa Kongsun To seperti bernada mengadu domba, namun tawa Bing-gwat-sim justru bernada menantang, ucapannya itu sengaja dia lontarkan kepada Siau Si-bu.
Pemuda jumawa itu justru seperti tidak mendengar ucapannya, wajahnya tetap dingin kaku seperti tidak ambil peduli akan ocehan orang lain. Pisau di tangannya bergerak amat lamban, setiap gerakan dilakukan teramat hati-hati, seperti kuatir pisau yang tajam itu mengiris luka jari tangannya. Tangannya kelihatan bersih dan tenang, jari-jarinya tumbuh panjang terpelihara dan mantap.Selamanya tidak pernah Pho Ang-soat memperhatikan tangan orang lain, sekarang dia justru sedang memperhatikan jari-jari orang, setiap gerakan jari orang diperhatikan dengan seksama. Mengiris dan membersihkan kuku bukan suatu yang menarik, tidak patut dibuat tontonan.
Tapi Siau Si-bu kelihatan menjadi tidak tenang karena diawasi, mendadak dia. berkata dingin, "Melihat orang mengiris kuku, mendingan kau melihat orang bermain catur."
Kongsun To tertawa lebar, serunya, "Apalagi yang sedang bermain catur adalah juara catur di seluruh negeri periode tahun ini."
Bing-gwat-sim mengedipkan mata, katanya, "Apakah Totiang ini pemilik Jik-yang-koan?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu Lung
Fiksi UmumLanjutan Mo-kau Kaucu, seri keempat dari Pisau Terbang Li. Cerita ini berkisah tentang seorang pendekar yang kakinya cacat, namun memiliki ilmu golok yang tiada bandingan di zamannya. Suatu kali dia mengalahkan seorang jago pedang. Di sinilah kisah...