Golok 2

900 16 0
                                    

Mawar Dari Ujung Langit  

Punggung jari Pho Ang-soat yang menggenggam golok sudah memutih, otot hijau merongkol. Bila golok ini meninggalkan sarungnya, kematianpun akan datang, tiada seorangpun didunia ini yang mampu melawannya. Apakah sekarang goloknya siap keluar dari sarungnya?"

Dengan kedua tangan Yan Lam-hwi pegang pedang, katanya: "Aku lebih senang mati dibawah pedangku sendiri."

"Aku tahu."

"Tapi kau tetap ingin menggunakan golokmu."

"Kau punya persoalan yang tidak mau kau bereskan, demikian pula aku."
Yan Lam-hwi menepekur, katanya perlahan: "Setelah aku mati, sudikah kau merawat pedangku ini?"

Dingin suara Pho Ang-soat: "Pedang ada orangnya hidup, orang mati pedangpun lenyap, bila kau mati, pedang ini akan tetap mendampingi kau."
Yan Lam-hwi menghela napas panjang perlahan, memejam mata serta berkata: "Silahkan, silahkan turun tangan."

Golok Pho Ang-soat sudah bergerak, sebelum meninggalkan kerangka, mendadak dari luar terdengar suara gemuruh seperti roda raksasa menggelinding dijalan berbatu, disusul "Blang" yang menggetar seisi rumah. Daun pintu yang memang sudah keropos mendadak semplak berhamburan, sebuah benda menggelinding masuk laksana roda kereta, itulah sebuah bola bundar berwarna kuning emas kemilau.

Pho Ang-soat tidak bergerak, Yan Lam-hwi juga tidak berpaling. Bila bola emas itu menggelundung dibelakangnya, sekejap lagi bakal menumbuk punggungnya.

Tiada seorangpun yang kuat menahan terjangan bola emas ini, terjangan yang tidak mungkin bisa ditahan oleh tenaga manusia yang berdarah daging.

Pada saat itulah golok Pho Ang-soat tercabut. Hanya sekali sinar golok berkelebat lalu berhenti. Segala suara, semua gerakan, berhenti seluruhnya. Bola emas yang menerjang datang dengan dahsyat, hanya sekali tutul dengan tajam goloknya, lantas berhenti bergerak. Pada saat yang sama itulah, dari dalam bola emas itu mendadak melesat keluar tiga belas batang ujung tombak runcing menusuk punggung Yan Lam-hwi.

Yan Lam-hwi tetap tidak bergerak, kembali Pho Ang-soat yang bertindak. Dimana sinar golok menyambar, ujung tombak rontok seluruhnya. Bola emas yang kelihatannya berat ribuan kati itu sekilas telah dibacoknya menjadi empat potong.

Bola emas ini ternyata kosong, laksana kelopak bunga saja empat potongan bola itu merekah keempat penjuru, lalu muncullah seseorang. Seorang kate, manusia kerdil duduk bersimpuh diatas tanah, bila kelopak bola itu jatuh perlahan menyentuh bumi, orang kerdil ini tetap duduk diam tidak bergerak sedikitpun.

Sambaran golok sekali tadi, sekaligus membabat kutung tiga belas batang tombak, sekalian membelah bola emas itu menjadi empat potong, maka dapat dibayangkan betapa besar tenaga dan kecepatan samberan golok itu, seolah-olah sudah membaur dengan kekuatan gaib yang ada di dunia ini, boleh dikata itu sudah termasuk segala perobahan ilmu pedang yang paling top di dunia ini, cukup ampuh untuk menghancurkan apa saja di dunia ini.

Tapi setelah tombak putus bola terbelah, manusia kerdil ini tetap bersimpuh di tanah, bukan saja tidak bergerak, mimik mukanya juga kaku tidak menunjukkan perobahan, tak ubahnya manusia kayu, seperti pinokio.

Daun pintu jebol, genteng juga runtuh, sekeping genteng kebetulan jatuh mengenai manusia kerdil itu "Klotak" suaranya keras, ternyata dia memang betul adalah manusia kayu. Namun Pho Ang-soat tidak pernah lepas pandang. dia tidak bergerak, diapun diam.

Benarkah manusia kayu bisa bergerak? Kenyataan manusia kayu ini memang bergerak. Malah bergerak cepat bagai kilat, gerakannyapun aneh dan ganjil, mendadak dengan tubuhnya yang kecil itu nyeruduk kepunggung Yan Lam-hwi.
Tidak memakai senjata, dengan badan sendiri sebagai gaman, seluruh badan termasuk kaki tangan adalah gaman. Gaman apapun yang paling dahsyat di dunia ini pasti digunakan manusia, karena gaman itu sendiri adalah benda mati. Tapi gaman yang satu ini justru adalah gaman hidup.

Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu LungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang