Golok 14

516 10 0
                                    

Bayar Dulu Bunuh Kemudian


Di atas kereta pertama sebelah kiri yang datang dari utara, dua orang sedang duduk bersimpul menghadapi meja sedang bermain catur. Kereta kedua juga diduduki dua orang, seorang sedang membersihkan kuku, seorang lagi sedang minum arak. Agaknya keempat orang ini sedang khusuk menghadapi pekerjaan masing-masing, siapa pun tiada yang mengangkat kepala atau menoleh ke depan.

Kereta pertama yang datang dari selatan tampak beberapa perempuan di dalamnya, ada tua ada muda, ada yang senang menyulam ada yang sedang makan kwaci, ada pula yang menyisir rambut.

Perempuan yang paling tua itu ternyata bukan lain adalah Kui-gwa-po.
Di atas kereta kedua menggeletak sebuah peti mati besar dan baru, di depannya tergantung sebuah wajan raksasa yang terbuat dari tembaga, kuping gelang sebanyak empat buah dari wajan ini terpasang di empat kaki besi.

Konon wajah terbesar di seluruh jagat ini adalah milik Siau-lim-si, wajan untuk memasak nasi. Maklum Hwesio Siau-lim-si banyak jumlahnya, sepanjang tahun tak pernah makan barang berjiwa, namun setiap hari mereka harus bekerja rajin, maka selera makannya pun amat besar. Umpama saja setiap Hwesio setiap makan menghabiskan lima mangkuk nasi, lima ratus Hwesio menghabiskan berapa mangkuk? Lalu untuk memberi makan sampai kenyang lima ratus Hwesio, berapa besar wajan yang harus digunakan untuk memasak nasi?

Yan Lam-hwi pernah bertamu ke Siau-lim-si, sengaja dia ingin menyaksikan wajan raksasa itu, karena dia memang seorang yang selalu tertarik akan sesuatu yang luar biasa.

Wajan tembaga di atas kereta ini ternyata tidak lebih kecil dari wajan Siau-lim-si itu. Dan anehnya di dalam wajan ternyata ada dua orang, kepala besar kuping lebar, wajahnya bundar, di atas jidatnya terdapat codet merah bekas bacokan golok yang menggelantung ke bawah, dari atas alis menggaris turun sampai ujung mulut, sehingga wajah bundar gemuk yang kelihatan jenaka dan lucu ini mendadak berubah menjadi seram dan kejam.

Kereta dilarikan perlahan, wajah di atas kereta ternyata bergontai pergi datang, seperti mereka duduk di atas ayunan.

Mega sudah tertiup pergi, sang surya merayap makin tinggi, namun hati Yam lam-hwi justru makin tenggelam. Tapi dia harus mengunjuk tawa meski dipaksakan, gumamnya, "Tak nyana To-jing-cu ternyata tidak datang."

"Sekali sergap tidak berhasil, harus segera mundur," demikian kata Pho Ang-soat dingin, itulah aturan lama pihak Sing-siok-hay mereka.

Tawa Yan Lam-hwi seperti amat riang katanya, "Kecuali dia, yang pantas datang agaknya sudah tiba, yang tidak patut datang ternyata juga sudah tiba." Mengawasi si gembrot dengan codet di mukanya dalam wajan itu dia tersenyum, katanya, "Koki Dol, kenapa kau pun datang?"

Codet di muka si gendut bergerak seperti ular. Dia sedang tertawa, tapi mimik tawanya kelihatan menjijikkan dan misterius, katanya, "Kali ini aku datang mengerjai mayat."

"Mengerjai mayat siapa?" tanya Yan Lam-hwi.

"Mayat apa saja kukerjai!" dengan bergontai dia berdiri dan keluar dari wajan besar itu. "Kuda mati dimasukkan ke perut, orang mati dimasukkan ke layon."

Kereta sudah berhenti seluruhnya. Yang bermain catur tetap saja main catur, yang minum arak masih memegang cangkir, yang menyisir juga tetap menyisir rambut, masing-masing masih sibuk dengan tugasnya.

Koki Dol tertawa, "Agaknya semua orang hari ini akan dapat rezeki mujur, kalian akan bisa berpesta sampai kenyang, daging kuda panca wangi yang diolah Koki Dol, tidak sembarang orang dapat menikmatinya."

Yan Lam-hwi berkata, "Masakan keahlianmu kurasa bukan daging kuda panca wangi, betul tidak?"

"Bahan-bahan untuk membuat masakan keahlianku sukar dicari, bolehlah hari ini kalian menikmati daging kuda panca wangi saja," sembari bicara badannya yang gendut itu tahu-tahu sudah menyelinap keluar dari bawah wajan, terus melompat turun, bagi yang tidak menyaksikan sendiri sungguh sukar percaya bahwa si gendut yang beratnya ratusan kati itu, gerak-geriknya ternyata enteng dan lincah. Dan ternyata dia juga membawa pisau, pisau pendek tapi lebar, pisau untuk merajang sayur, pisau yang biasa digunakan koki di setiap restoran.

Peristiwa Bulu Merak (The Bright Moon / The Sabre) - Khu LungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang