Sulitkah menyelesaikan kesalahpahaman?
UNTUK kali ketiga, nada sambung berakhir pada voice mail.
Aries menatap layar ponsel dalam diam. Nama Winona tertera di sana dengan deretan missed calls. Ketika klakson dari kendaraan-kendaraan mulai bersahutan, pria itu segera meletakkan gawai di dasbor dan membawa mobilnya menyusuri jalan raya.
Hati-hati, Aries melambatkan laju mobil kala memasuki jalan sempit. Beberapa belokan dan tanjakan kemudian, dia berhenti di depan rumah dengan gerbang berwarna cokelat tua. Dibunyikannya klakson tiga kali hingga gerbang terbuka. Seorang satpam mengarahkan Aries untuk memarkirkan mobil di sekitar halaman depan.
"Oi, man." Dari pintu utama, Leo menyambut. "Sori bikin repot. Serius jadwal lo lagi kosong malam ini?"
"Hari ini lumayan padat, tapi selesai lebih cepat dari perkiraan." Mata Aries tertuju pada ponsel yang tergeletak di dasbor. "Mama masih kritis?"
"Udah membaik. Cuma Ghina enggak bisa lama-lama jaga Mama di rumah sakit. Kasihan Elara ditinggal." Leo mempersilakan Aries duduk. "Anyway, jaga-jaga Elara bangun sebelum Ghina balik, ada stok ASI hasil pompa di freezer sama popok di dekat nakas. Lo bisa, kan, handle kalau ada apa-apa sama Elara?"
"Urusan ASI masih bisa, tapi popok...." Aries mengedik. "Just wish me luck."
"Tinggal cari tutorial di Google. Beres." Selanjutnya, Leo mengambil kunci mobil dan jaket. "Titip, ya. Nanti—"
Ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Punggung Aries menegak kala sang tamu mengucap salam. Suaranya familier; suara yang selalu menghangatkan hati. Suara yang, sayangnya, selama dua pekan terakhir amat mengalutkan.
"Winona?" Dari reaksinya, Leo senang mendapati orang tambahan untuk menjaga Elara. "Wah, pas banget, Aries juga baru datang."
"Aku... ditelepon Ghina." Kilatan dari mata gadis itu menghunjam Aries. "Katanya enggak ada yang jaga Elara?"
"Mungkin dia kira Aries sibuk sama proyek di No. 46. Setidaknya ada yang bantu dia di sini." Bergegas, Leo berlari menuju mobilnya. "See you in two hours, lovebirds!"
Ketegangan menyergap sepeninggal Leo. Winona bergeming; terang-terangan menolak kontak mata. Sementara Aries merasakan tubuhnya beku di tengah situasi tak terduga tersebut.
Beberapa menit berselang, terdengar pintu tertutup. Tanpa menoleh, Aries dapat membayangkan Winona naik ke lantai dua lewat langkah-langkah kakinya di tangga. Seakan-akan dia adalah hantu di tengah rumah tak bertuan.
*
Dapur menjadi tempat Aries mengenyahkan keresahan. Di lemari pendingin, ada macam-macam bahan baku yang bisa dia olah menjadi makan malam sederhana. Mac 'n' cheese atau nasi goreng salmon tak terlalu buruk. Leo mungkin tidak keberatan dia mengambil beberapa bahan. Mereka sudah sering melakukannya di bangku kuliah.
Ketenangan yang Aries rasakan sekejap lesap begitu Winona muncul. Keduanya bersitatap sejenak. Gadis itu mengambil jus apel kemasan dari lemari pendingin, sementara Aries berusaha fokus memasak. Dia bisa saja membiarkan gadis itu untuk terus mengabaikannya.
Akan tetapi di luar dugaan, Winona memulai pembicaraan.
"All of the sudden, you could make a free time."
Aries mematikan kompor. Berbahaya memasak dalam emosi tak stabil. "Jadwal syuting selesai sore tadi. Aku telepon kamu buat kasih kabar, tapi tidak diangkat terus."
"Buat apa? Bilang kalau selfie kamu bareng Chef Alya cuma public stunt?"
"For God's sake, Winona, jangan mulai lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomantiekAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
