Terasing

11.1K 1K 27
                                        

Trigger warning: efek serangan panik, PTSD

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memaafkan sebuah kesalahan?

KUCURAN air berhenti kala Aries menutup keran. Selama beberapa detik, dia memandangi air tersedot masuk ke lubang wastafel. Diambilnya kacamata untuk kemudian dibersihkan memakai lap sebelum memasangkan tungkainya ke sela-sela telinga.

Pandangan Aries terpusat ke cermin. Dari balik lensa, kedua bola matanya balas menatap dengan sorot ketakutan terpancar kuat. Pantulan wajahnya tampak lebih pucat—entah karena pencahayaan toilet yang terlampau terang atau darah dalam tubuhnya belum mengalir ke tempat semula.

Aries enggan memejamkan mata. Cemas bakal ada bayang-bayang mengerikan muncul di tengah kegelapan. Apa yang harus dia katakan kepada Winona nanti? Gadis itu pasti masih di dalam teater; antara tenggelam dalam film yang sedang tayang atau cemas mendapati dirinya tak kunjung kembali.

Setelah degup jantungnya tenang, Aries merapikan pakaian dan bergegas keluar toilet. Awalnya, dia ingin menunggu di depan studio tempat Winona sedang menonton, tetapi kursi dan sofa di sepanjang lorong nyaris penuh. Tidak ada pilihan selain berdiri atau jalan-jalan ke tempat lain sampai sang kekasih keluar dari teater.

Lantas, Aries mengirimkan pesan singkat kepada Winona.

[Aries] Can't go back.

[Aries] Bilang kalau sudah selesai.

*

Keramaian di Cihampelas Walk kian memadat menjelang malam. Dari balik jendela panjang kedai kopi, Aries memandangi pengunjung hilir mudik; keluar-masuk ke toko dan tempat makan di sekitarnya. Gumaman obrolan dan lantunan lagu tumpang-tindih di udara. Membuatnya makin gusar meski dia sudah memilih kursi paling pojok.

Tak lama berselang, Winona muncul dari arah pintu utama dan menghampiri Aries. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan. Terlalu cemas sampai gadis itu kehilangan fokus dan nyaris menyenggol pengunjung yang membawa dua cup kopi.

"Kamu kenapa? Sakit?" Winona serta-merta meraba keningnya. "Maaf nunggu lama. Kalau enggak enak badan, kita pulang aja sekarang."

"Makan malamnya dibatalkan juga?"

"Daripada kamu nanti muntah-muntah atau pingsan." Kali ini Winona menarik tangannya. "Kalau perlu, aku yang bawa mobil."

"Winona—"

"Mana kunci mobilmu?"

Jika sudah begini, Aries hanya patuh. Diserahkannya kunci mobil kepada Winona, lalu membiarkan gadis itu menyeretnya sampai tempat parkir.

Semestinya, malam ini mereka menikmati kencan standar: menonton film, makan malam di restoran, jalan-jalan sebentar ke acara culinary night di Braga. Meski terdengar biasa, bagi Aries, kegiatan ini terasa spesial mengingat mereka sulit mencocokkan jadwal.

Ironisnya, Aries juga yang menghancurkan kencan malam ini sebelum sempat menyentuh puncak acara. Semuanya gara-gara sebuah film. Lebih tepatnya beberapa adegan yang hampir memicu serangan panik di dalam teater.

Kemacetan di Jalan Siliwangi membuat perjalanan ke Ciumbuleuit makin panjang. Emosi Winona sempat terpancing gara-gara jeritan klakson mobil di sekitar mereka yang kian rewel. Syukurnya, mereka berhasil meloloskan diri dari keramaian. Lantas, Winona menaikan sedikit kecepatan; menyusuri jalan menuju apartemen Aries.

"Mau aku buatkan makanan atau minuman?" tanya Winona sesampainya mereka di lift. "Enggak akan seenak buatanmu, sih, tapi cukup buat isi perut."

"Terima kasih. Aku mau langsung istirahat."

Nights with AriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang