Bagaimana rasanya menemani kekasihmu belanja?
DIBANDINGKAN supermarket, Aries lebih menyukai pasar tradisional.
Menemani Bulan belanja setiap pagi ke pasar termasuk kenangan manis favorit Aries. Sang ibu jauh lebih ceria begitu mereka meninggalkan rumah. Di pasar pula, dia mengenal berbagai jenis sayur, buah, bumbu dapur hingga tipe pedagang dan ciri-ciri dagangan berkualitas yang mereka jajakan.
Supermarket memang menawarkan tempat bersih dengan produk tertata rapi di rak. Di samping itu, Aries lebih praktis membersihkan atau memotong belanjaannya. Namun, ada sejumlah hal unik yang tak dia temukan di tempat tersebut. Tawar menawar, misalnya, atau mendapatkan bonus dari pedagang.
Sayangnya, selama beberapa bulan ke depan, Aries harus mengandalkan supermarket. Pasar tradisional langgannnya sedang direvitalisasi. Meski stafnya berhasil menemukan supplier alternatif untuk memenuhi kebutuhan No. 46, sejumlah produk hanya bisa dibeli di supermarket, tak terkecuali kebutuhan pribadi.
"Wah, lagi diskon. Aku udah lama banget enggak makan ini." Winona memasukkan lima butir apel fiji ke dalam troli. "Kamu enggak mau beli apel hijaunya? Bagus tuh buat dibikin pai."
Aries mengerling ke arah susunan apel hijau di samping apel fuji. Warnanya memang menggiurkan. Lantas, apakah apel-apel itu aman dikonsumsi? Bebaskah dari pestisida? Tidak ada keterangan seperti label organik di papan harganya.
"Masih ada beberapa buah apel di apartemen kalau kamu mau pai."
"Dari tadi kamu belum ambil apa pun. Padahal kamu yang ajak aku ke sini."
"Katanya kamu belum belanja bulanan. Selagi aku di luar, ya aku antar," dalih Aries yang disambut tatapan penuh selidik dari kekasihnya. "Memangnya kamu bisa bawa barang sebanyak itu sendirian?"
"Enggak, sih, tapi aku bisa pesan taksi online." Didorongnya troli ke rak daging. Potongan-potongan daging ayam montok kembali mengundang kecurigaan Aries: berapa banyak dosis hormon disuntikkan pada unggas malang tersebut?
"Kalau kamu enggak niat belanja, bisa dong jaga-jaga di sekitar kasir? Bentar lagi aku beres, kok," pinta Winona.
Permintaan itu lebih mudah dibandingkan mengekor Winona sembari menghakimi deretan produk di rak. Aries lantas berbalik menuju kasir.
Sesampainya di sana, ekspektasi Aries dipatahkan. Dia berdecak sebal melihat pemandangan di depannya. Antrean mengular di kasir tepat di tanggal selepas gajian adalah satu dari sekian hal yang dibencinya dari supermarket.
*
Itu baru permulaan. Ketika kembali ke rak daging, Aries tidak menemukan Winona. Dia juga tidak bisa menghubungi gadis itu karena baterai ponselnya habis. Satu pilihan tersisa adalah mencari Winona di antara rak-rak tinggi bak labirin.
Sebenarnya, ada sejumlah kebutuhan yang perlu Aries beli. Gula, merica bubuk, tahu jepang, dua bungkus rokok, dan mungkin.... Oh, tidak. Kondom lebih baik dibeli di minimarket dekat apartemen. Aries punya kasir langganan yang tak akan menghakimi saat transaksi berlangsung.
Diambilnya keranjang kosong dan memulai pencarian di area bumbu dapur. Di rak tahu, Aries cukup terpukau dengan ragam tahu jepang yang tersedia. Membuatnya agak bingung, karena ada beberapa merek dengan harga murah dibandingkan favoritnya.
"Yo!" Aries tersentak kala seseorang menyikut punggungnya. Wajah Leo terpantul dari cermin di sisi rak pendingin. "Tumben, jarang banget gue lihat lo di supermarket."
"Terpaksa. Gara-gara pasar langganan gue lagi dirombak" Dimasukannya tiga bungkus tahu jepang kesukaannya ke dalam keranjang. "Sekalian menemani Winona."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomansaAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
