Content warning: NSFW (ciuman/make out)
Bagaimana rasanya meminta kepastian?
BANDUNG tidak banyak berubah sejak Aries meninggalkannya tiga bulan lalu. Kepadatan jalan di gerbang tol. Mobil pribadi yang saling berebut tempat dengan angkutan umum. Penjual kaki lima. Romansa yang terpancar dari kerlap-kerlip lampu di malam hari.
Hatinya serta-merta menghangat. Namun di waktu bersamaan, Aries disergap canggung dan gugup kala momen perjumpaannya dengan Winona terjadi.
Dengan bantuan Leo, Aries merencanakan kejutan untuk Winona. Pada akhirnya dia bertemu gadis itu di restoran yang pernah mereka kunjungi dulu. Sayangnya, tak ada banyak hal yang mereka bicarakan gara-gara kelelahan luar biasa akibat jet lag. Winona lantas memintanya istirahat sampai mereka berjanji betatap muka lagi hari ini.
*
"Dari kemarin diem mulu. Kenapa? Masih capek?"
Aries menaruh dua mangkuk bubur havermut dengan potongan pisang dan stroberi di meja. Di sampingnya, Winona menatap penuh selidik. Gadis itu tidak sadar kalau perhatiannya malah membuat tubuhnya panas-dingin.
Sejujurnya, Aries kesal karena lebih sering membisu. Bukankah ada banyak cerita yang ingin dia sampaikan? Bukankah sekarang jarak dan waktu yang membatasi mereka sudah hilang?
Aries, merutuki sikapnya dalam diam, menyerahkan sendok kepada Winona sembari mencari topik apa pun untuk mencairkan kecanggungan.
"Kamu potong rambut?" tanya Aries.
Salah satu alis Winona terangkat. Gadis itu mengambil sejumput rambutnya yang sebatas tengkuk. "Udah lama, sih. Potongannya pas buat cuaca labil kayak sekarang."
"Kali terakhir kita bertemu, rambut kamu masih agak panjang. Sepundak." Lanjutkan, batinnya. Pembuka pembicaraan ini tak terlalu buruk.
Winona memicingkan mata. "Kenapa kita membicarakan rambut? Aku mau dengar cerita kamu, Aries. Penasaran banget sama keluarga besarmu yang katanya seru."
"Cuma penasaran?" goda pria itu.
"Harus banget bilang aku kangen sama kamu? Sekali enggak cukup ya buat kamu?"
"Ya harus, karena...." Aries mencondongkan tubuhnya ke arah Winona. Menggoda gadis ini kadang menyenangkan, sekaligus membangkitkan rasa percaya dirinya. "Kita kehilangan banyak kesempatan selama berpisah."
Tiga hari sebelumnya, mereka hanya mengobrol lewat aplikasi atau telepon. Itu pun berlangsung singkat. Aries berdalih butuh waktu istirahat, padahal perlu menyiapkan diri buat berbagi kisah. Wajar saja Winona penasaran.
Atmosfer canggung yang mencair pun kembali memadat. Aries mendengkus, lalu menarik tubuhnya; menjauhi Winona.
"I've missed you." Tarikan tangan Winona menahannya. "Sampai sekarang aku masih enggak nyangka kamu bakal pilih restoran itu buat ketemu aku. Lihat kamu di sana bikin penantianku berarti. Kamu tahu enggak, sih, aku kadang... kadang mikir kamu bakal berubah pikiran dan terus tinggal di Italia."
"Aku sudah janji," Aries menanggapi, "aku janji buat kembali."
Wajah Winona berubah masam. Kurang puas dengan tanggapannya. "Bilang sama aku, apa kamu pernah khawatir juga? Waktu kamu pergi, Ethan masih di sini. Kamu enggak takut aku berubah pikiran?"
Aries kurang suka membahas topik ini. Obrolannya bersama Ethan sebelum terbang ke Italia tak terasa bak ancaman. Di sisi lain, mengetahui kedekatan Winona dengan mantannya acap kali membuat Aries cemas.
"Aku juga merindukanmu." Diusapnya jemari gadis itu selembut mungkin. "Jujur aku megnkhawatirkanmu, tetapi bukan karena pria lain. Selama di Belluno, aku sering berpikir, bagaimana kalau aku malah terbiasa dengan ketidakhadiranmu?"
Situasi di sekitar dapur kian senyap. Kehadiran Winona membuat Aries bernostalgia pada hari-hari itu. Kala mereka tinggal satu atap di No. 46 dan mengenal satu sama lain lewat rangkaian peristiwa tak terduga. Pada malam dia mencium gadis itu di pinggir mobil. Pada malam kala Aries menceritakan tragedi yang menimpa ibunya.
Pada malam yang mereka lewatkan dengan dua piring egg benedict.
Gerakan kecil dari tangan Winona menyentak Aries. Sosok di hadapannya perlahan melepas genggaman. Kewaspadaan Aries muncul kala Winona beringsut dari kursi, mengitari meja, dan masuk ke dapur.
Ke wilayah kekuasaan Aries.
Winona menghampiri Aries dan memeluknya. Tanpa aba-aba, gadis itu berjinjit sampai ujung hidung mereka bersentuhan, lalu dalam sekejap mengecup bibirnya. Ciuman yang terputus-putus lantas mengundang kekehan dari Aries.
"Kenapa ketawa?" protes Winona.
"Maaf, aku—" Aries merunduk untuk menutup jarak mereka dengan kecupan. Bibir Winona masih selembut dan seranum yang dia ingat. Lalu pada detik berikutnya, Aries membiarkan Winona meluruhkan gelisah dan bimbangnya.
*
"Gimana kalau aku benar-benar balikan sama Ethan?"
"Aku akan tetap mengejar kamu. Dua kali lebih cepat. Atau lebih dari itu."
Aries mengelus pipi Winona dengan cuping hidungnya. Mereka kini berselonjor di antara oven dan rak piring. Mengabaikan bubur havermut yang sudah dingin.
"Kamu pantas menerima seseorang yang lebih baik, Winona. Aku."
Tawa Winona berderai. "Lihat siapa yang mendapatkan lagi rasa percaya dirinya."
Aries membenamkan wajah pada lekukan leher Winona. Potongan rambutnya yang pendek memudahkan pria itu menghirup aroma stroberi dari parfum yang menguar. Namun, dia perlu memastikan satu hal sebelum Winona menyebut nama mantan kekasihnya lagi.
"So, are we official now?"
Seketika, tawa gadis itu kisut. "Official apanya?"
"Kita." Perlahan, Aries menjalin satu per satu jarinya dengan jemari Winona. "Kamu bilang, kita bisa mulai semuanya dari awal. Bisakah? Sebagai kekasih."
Winona mengerjap. Sorot dari kedua bola matanya meresahkan Aries. Apakah ini bukan waktu tepat?
Namun, Aries tidak mau menunggu lebih lama.
Kemudian, pipi Winona merona. Jemarinya menguat dalam genggaman tangan Aries. Gadis itu lantas mendaratkan satu kecupan pada pipinya sebelum menjawab,
"Enggak ada alasan menolak seseorang yang berjanji kembali kedapaku," ujarnya tersipu. "Jadi, ya. Jawabannya... ya, tentu aku mau, Aries."
Mendengar pernyataan itu, Aries serta-merta mengembangkan senyum lebar. Sepertinya terlalu lebar sampai Winona mengeluarkan tawa lagi. Di sisi lain, Aries tidak memusingkannya. Dia sudah memperoleh kepastian tersebut.
Maka kini, tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan Winona.
***
Menegangkan, lalu sangat, sangat melegakan.
Dari Pengarang:
YES, ABNQ SYNQ KEMBALI.
Short, I know. Aku butuh pemanasan sebelum melanjutkan ke cerita-cerita yang lebih panjang dan berat (plus mengangkat kisah dari topik kalian). Semoga bab Kekasih bisa menghibur setelah penantian yang panjang ini.
Novel ketigaku, Lara Miya, juga akan terbit bulan depan. PO sudah dibuka. Silakan cek informasi lengkapnya di: https://www.wattpad.com/337601663-find-me-in-store-pre-order-blue-valley-series-and
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu!
Regards,
erl.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomanceAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
