Interogasi

9.2K 979 34
                                        

Apa yang harus dilakukan saat bertemu keluarga besar kekasihmu?

HARI itu tiba.

Wangi ayam goreng serundeng meningkahi aroma sayur lodeh beserta tempe dan tahu goreng. Piring-piring keramik putih yang tertata di meja mengimbangi perabot kayu di ruangan tersebut. Seolah ingin menyemarakkan suasana, sepiring lalapan sayuran hijau dan sambal terasi tersaji di ujung meja.

Aries lantas mengakhiri pengamatan. Sempurna, batinnya. Makan malam bersama keluarga adalah salah satu momen favoritnya. Kebersamaan dan kehangatan di tengah aktivitas tersebut menambah cita rasa makanan yang mereka santap.

Namun, kali ini berbeda. Aries sedang tidak bersama keluarganya.

Lamunannya buyar kala Winona menepuknya. Ketika pandangan mereka bertaut, gadis itu mengulas senyum samar. "Aku kira kamu di masih di taman belakang. Ternyata udah nunggu di sini."

"Aku mau... mengakrabkan diri dengan atmosfernya," gumam Aries.

Gadis itu perlahan menyeringai. "Ya ampun, kamu setegang itu?"

Aries meringis.

"Aku cerita sedikit tentang kamu sama mereka." Winona menggapai tangan Aries dan meremas jemarinya. "Buat kasih sedikit gambaran siapa calon suamiku."

Sebelum Aries menanggapi, seorang pria berambut keperakan memasuki ruangan, disusul tiga pria lain yang terlihat lebih muda. Kemudian para perempuan masuk; jumlahnya dua orang lebih banyak. Ketika semua orang sudah mengambil tempat duduk, seorang anak laki-laki masuk dan setengah berlari, menghampiri perempuan di samping kiri Winona.

Kala genggaman tangan terlepas, Aries menegakkan punggung.

Dia tidak pernah menduga akan segrogi ini bertemu keluarga kekasihnya.

*

Keluarga besar Winona dari pihak ayah tinggal di Pangalengan. Perjalanan yang Aries dan Winona tempuh relatif jauh, tetapi lelah dan kantuk yang mereka rasakan lenyap saat melihat deretan pohon pinus dan bentangan kebun teh. Bagian selatan Bandung sedikit banyak mengingatkan Aries dengan Belluno. Sama-sama jauh dari kota dan terletak di kawasan pegunungan.

Sayangnya, ketenangan itu bertahan sekejap. Gugup dan cemas menyergap begitu Aries bersemuka dengan keluarga Winona. Sebagian dari mereka, salah satunya ibu tiri sang kekasih, menyambut hangat kedatangannya. Sebagian lagi memberi jabatan tangan singkat dan pandangan penuh selidik yang kentara.

Namun, ada satu orang yang paling membuatnya penasaran: Raka, adik tiri Winona.

Alih-alih menerima kehadiran Aries seperti anggota keluarga lain, Raka mengawasi dari jauh. Melempar tatapan mengancam seakan-akan Aries adalah musuh yang bakal mengusik area kekuasaannya. Bocah itu juga mengambil langkah seribu saat Aries mendekat.

Aries sempat menanyakan perihal tersebut pada Winona, tetapi kekasihnya hanya menjawab, "Bakal lebih seru kalau kamu mencarinya sendiri."

Aries ingin memanfaatkan acara santap malam sebagai ajang pendekatan. Apalagi Raka mengambil tempat satu baris dengannya. Di menit-menit awal, mereka masih melontarkan basa-basi seputar situasi di kota dan cuaca. Sayang konsentrasi Aries terpecah karena harus melayani macam-macam pertanyaan.

Kemudian, kakek Winona—sang pria berambut perak—menoleh ke arah Aries. "Saya dengar dari Winona, kamu punya tempat makan di kota. Sudah berapa lama kamu mengelolanya?"

Aries mengangguk. "Hampir tiga tahun."

"Apa saja yang kamu sajikan di sana?"

Dalam situasi seperti ini, Aries membutuhkan rasa percaya diri setinggi Leo. "Saya menyajikan makanan-makanan populer; nasi goreng, steak. Ada juga camilan seperti calamari, jamur goreng—"

Nights with AriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang