Content warning: NSFW (adegan seks ringan)
Istri bekerja atau total mengurus rumah tangga?
TETES air hujan yang mengetuk atap membangunkan Aries. Matanya melirik ke jam dinding—pukul setengah tiga pagi. Ketika hendak kembali tidur, sesuatu yang lembut menyentuh punggung. Aries terdiam sebentar dan menyeringai kala dia mengenali siapa yang melakukannya.
"Sudah puas cium punggungku?"
"Astaga, kupikir kamu enggak bangun. Maaf, maaf." Keterkejutan dalam suara Winona membuat Aries terkekeh. "Udah lama aku enggak bermalam di No. 46. Ternyata lebih dingin dibandingkan di apartemenmu."
"They're right. We should get married soon. Aku enggak perlu bawa kondom ke mana-mana. Kamu juga bakal lepas dari beban siklus menstruasi—"
"Hei, siklus haidku juga yang bakal bantu kita kalau pengin punya anak setelah nikah." Mendengar Winona kian terbuka membicarakan pernikahan sebenarnya membuat Aries senang dan optimis. Meski belum sampai membahas tanggal, dia merasa momen sakral itu kian mendekat kepada mereka.
Di samping itu, ada banyak hal yang harus didiskusikan.
Karena tak lama berselang, Winona berbisik, "Aries, kayaknya Nindya bakal mempromosikanku sebagai editor di YummyFood."
*
Beberapa jam sebelumnya, Aries dan Winona mengunjungi sebuah restoran untuk memenuhi undangan pernikahan. Dari sekian pesta yang mereka kunjungi, gardan party adalah konsep yang selalu mencuri perhatian. Terutama bila acaranya diselenggarakan untuk keluarga dan teman dekat saja. Intim dan hangat. Konsep impian Aries.
"Aku kira Mona enggak akan nikah. Dia tipe pekerja keras banget. Jarang kelihatan dekat sama cowok," celetuk Winona yang mengenakan gaun selutut berwarna peach malam itu. "Katanya Mona siap resign demi ngasuh anak sendiri. Padahal posisi dia sekarang manajer, lho."
"Are you surprised? Ghina juga mengambil keputusan sama."
"I know. I'm just—" Winona menarik penyanggahannya, lalu melangkah ke food stand. "Puding cokelatnya kelihatan enak."
Aries mengendus sesuatu yang tak beres, tetapi memilih menunggu sampai sang kekasih siap membahasnya. Mereka berkeliling sambil berbagi kabar dengan segelintir kenalan. Sesekali mereka mengomentari menu dan pakaian para tamu.
Winona menyeret Aries ke tempat parkir setengah jam kemudian. Kecurigaan Aries bertambah. Biasanya, dia yang meminta mereka pergi cepat.
"Kelihatan bakal hujan," Winona menjawab saat Aries menanyakan alasan mereka harus pulang. "Aku juga lupa bawa jaket. Bisa masuk angin nanti."
"Kamu bisa pinjam jaket punyaku dulu." Aries memastikan semua barang bawaan mereka sudah masuk mobil. Ketika dia hendak melepas jaket, Winona tiba-tiba mencondongkan tubuh. Ciuman kilat di bibir lantas membekukan Aries.
Dipindainya situasi di luar. Mobilnya berada di lahan kosong samping restoran yang disewa untuk tempat parkir. Menilai dari lokasi yang agak jauh dari keramaian, Aries bisa saja memenuhi keinginan Winona. Masalahnya, Bandung bukan California. Bermesraan sembarangan di tempat umum berisiko mengantar mereka ke kantor polisi.
"Sikapmu agak berbeda malam ini." Aries membalas kecupan Winona. Tanpa diduga, gadis itu beranjak dari jok dan nyaris pindah ke pangkuan Aries kalau tidak segera dia tahan. " Jangan di sini. Beri aku beberapa menit untuk menyetir dengan fokus penuh."
Sang kekasih mencebik sebal. "Apartemen kamu jauh dari sini."
"Kenapa harus ke apartemenku kalau ada tempat lain lebih dekat?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomanceAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
