How do I know if she is the One?
ARIES berjalan masuk begitu lift terbuka, lalu menekan nomor satu pada panel. Dirapikannya kerah dan lipatan kemeja. Jaket cokelat tua dan kardigan abu-abu tersampir pada salah satu lengannya. Mendekati lantai tujuan, dia mengambil satu langkah ke belakang dan menunggu sampai bunyi ding terdengar.
Lobi hotel lebih riuh dibandingkan beberapa jam sebelumnya. Sejumlah pria mengenakan setelan formal berwarna gelap, sementara sekelompok perempuan berlomba-lomba memamerkan gaun mewah mereka. Aries lantas mengikuti arus tamu ke bagian belakang hotel; pusat keramaian yang membuatnya kurang nyaman.
Jika bukan karena Winona, Aries mungkin akan menunggu di kamar saja.
Sebelum mencapai taman belakang, Aries menemukan Winona berjalan ke arahnya. Gadis itu terlalu sibuk menghindari tamu dari arah berlawanan sampai nyaris tak menyadari keberadaannya. Ketika Winona mendongak, Aries serta-merta memanggilnya.
"Syukurlah kamu udah keluar." Winona mendorong Aries menjauhi taman. "Ayo, kita kabur dari sini."
Aries melingkarkan tangan pada pinggang Winona. Gaun merah anggur dengan rok mengembang yang dikenakan membuatnya terlihat kian manis. "Kamu kayak balerina."
"Berisik. Aku pakai gaun ini karena bagian bawahnya enggak bikin perutku sesak." Winona memakai kardigan yang Aries bawa. "Pestanya enggak sebagus yang digembar-gemborkan. Mana makananya biasa aja, padahal aku udah kasih rekomendasi katering bagus. Eh mereka keukeuh pakai dari hotel supaya hemat."
"Jadi," Aries melipat lengan kemejanya, "sekarang kamu mau ke mana?"
Winona menggumam. "Jalan, yuk? Sekalian cari makanan yang lebih enak."
*
Bandung di malam Minggu selalu memancarkan pesona yang menyihir. Jalan-jalan ramai dilalui kendaraan. Para wisatawan lalu-lalang di trotoran membawa kantung belanja. Bangku-bangku taman terisi pasangan yang memadu kasih. Dari kejauhan, terdengar dentum alat musik yang mengiringi nyanyian. Menyemarakkan suasana yang jarang terjadi di hari-hari kerja.
"Ini lebih enak daripada muffin di hotel." Winona melahap potongan terakhir roti keju yang dibelinya di minimarket. Sementara Aries memilih minum sebotol air mineral sambil mendengarkan keluh kesahnya. Ketika laporan berakhir, keduanya sadar sudah berjalan cukup jauh sampai ke kawasan Jalan Asia Afrika.
Aries lantas membawa Winona ke bangku panjang yang baru ditinggalkan pasangan paruh baya. Nuansa tempo dulu di kawasan itu terpancar kuat dari lampu-lampu jalan berwarna kekuningan yang menimpa dinding gedung bergaya Eropa di sekitar mereka
"Udah lama kita enggak jalan sejauh ini. Bentar." Winona mengambil ponselnya yang berdering dari clutch. Punggungnya menegak. Sekilas, Aries menangkap nama Mama tertera di layarnya.
"Halo, Ma. Iya, maaf. Tadi aku masih di kondangan." Gerak manik matanya mengisyaratkan sesuatu pada Aries. "Udah tidur? Oke—jangan, jangan ganggu mereka, Ma. Aku telepon lagi besok pagi. Ya..., ya. Makasih."
"Harusnya aku telepon mereka dulu sebelum keluar kamar tadi," ujar Aries.
"It's okay. Kata Mama, Shaula sama Hamal langsung tidur selepas makan malam. Kayaknya kecapekan saking keasyikan main di kebun teh bareng Aki." Wiona merebahkan kepalanya pada pundak Aries. "I miss them."
"Kita baru antar mereka ke rumah Aki tadi pagi."
"Aku tahuuu. Emangnya kamu enggak kangen sama mereka?"
"Of course, I do. Tapi membujuk mereka menginap di pangalengan selama kita liburan bukan hal mudah." Kemudian, Aries mencium puncak kepala Winona. "Satu minggu tak ada artinya dibandingkan tujuh tahun yang kita lewatkan untuk membesarkan mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomansaAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
