Content warning: minuman beralkohol (wine), rokok
Bagaimana menghadapi masa lalu orang yang kamu cintai?
PADA hari terakhirnya di Farmshop, Aries mengamati ekspresi para pelanggan yang menikmati hidangan. Direkamnya setiap lirikan, kunyahan, hingga kernyitan yang muncul di wajah mereka. Baik maupun buruk, baginya satu suap makanan yang masuk ke dalam mulut merupakan bentuk apresiasi yang tak akan bisa dibayar uang.
Malam ini, Aries menghadapi situasi serupa di No. 46. Setelah menyerahkan pesanan, pria itu menyalakan sebatang rokok. Pelanggan terakhirnya adalah dua pria paruh baya dalam setelan necis. Menilai dari gestur, keduanya adalah kawan lama.
"Mas, Mas Aries." Firman, salah seorang pramusajinya, berjalan tergopoh ke mini bar. "Masih ada pelanggan yang mau pesan. Terus katanya pengin ketemu."
Tidak mungkin tamu itu Leo. Aries berencana bertamu ke rumah sang sahabat besok pagi. Winona? Ah, gadis itu sedang bermalam di rumah kakeknya.
Namun, Aries merasa tamunya bukan pelanggan biasa.
"Antarkan dia ke sini." Aries kurang suka waktu bersantainya diinterupsi. Dimatikannya rokok yang baru dinikmati dalam tiga isap. Semoga keputusannya menerima tamu ini tak mengacaukan malam terakhirnya di No. 46.
Firman mempersilakan seorang pria berjaket denim masuk dan mengarahkannya ke mini bar. Aries memicingkan mata. Posturnya tak asing. Ingatannya terus berpacu seiring mendekatnya sosok tersebut. Kemudian, saat sang tamu duduk di kursi, sebuah potongan memori muncul dari benak Aries.
"Maaf datang di menit-menit terakhir. Aku dengar kamu ambil cuti panjang. Kupikir tak ada salahnya mampir sebentar," ujar pria itu sambil mengambil tempat duduk.
"Mau pesan apa?" Aries menyodorkan daftar menu. "Sebagian besar makanan sudah habis, tetapi beberapa minum bisa kusajikan."
"Hot lemon tea saja," jawabnya cepat tanpa membaca menu. "Sebenarnya, aku datang ke sini untuk membicarakan tentang Winona juga."
Seperti yang Aries duga. "Aku akan membuatkan pesananmu dulu."
*
Ethan Aryadi, menurut cerita Winona, adalah pria yang sanggup menyedot atensi orang-orang di sekitar. Pada kedatangan pertamanya ke No. 46, pria itu sukses membius sekelompok perempuan yang selama dua jam menyumbang kebisingan.
Meski begitu, kesan Aries terhadap Ethan belum berubah. Menyebalkan terdengar kasar. Belum ada kata yang tepat untuk mewakilinya. Satu hal yang pasti, Aries imun terhadap sikap terbuka dan bersahabat yang Ethan tunjukkan.
"Bagaimana kabar Winona?" tanya Ethan begitu Aries menyerahkan pesanan. "Kami belum bertukar kabar setelah aku menjelaskan rencana kuliah ke Rusia."
"Keberatan?" Ethan menggeleng kala Aries mengeluarkan puntung rokok baru. "Kami belum mengobrol selama tiga hari terakhir. Dia ingin meluangkan waktu bersama keluarga. Dibandingkan minggu-minggu sebelumnya, Winona jauh lebih tenang."
"Tenang," gumam Ethan. Akan tetapi, gesturnya berkata lain. Dari balik asap rokok, Aries menangkap manik mata pria itu bergerak cepat. Sesapan pada tehnya memendek. Jauh dari kesan percaya diri yang ditunjukkannya dulu.
"Ceritakan saja kalau ada yang mengganjal," ujar Aries.
"Tidak. Hanya saja—" Pria itu meletakkan cangkir. "Saat bertemu Winona selepas hubungan kami berakhir, aku berniat memintanya kembali. Sayangnya, aku menjaga jarak terlalu lama. Enam bulan. Orang waras mana yang bisa bertahan selama itu?"
"You are that person," celetuk Aries.
"Winona pasti cerita banyak tentangku padamu." Tawa getir Ethan mengalihkan perhatian Aries. "Kupikir peluangku cukup besar sampai mendapati dia bermalam di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Nights with Aries
RomanceAries menyodorkan empat pak pembalut kepada kasir. "Buat istrinya, ya, Mas?" "Iya." Aries punya kehidupan normal dari pukul enam pagi sampai enam sore. Di luar jam itu, ada kisah-kisah tak terduga menantinya setiap malam. *** © 2016 Erlin Natawiria
