Persiapan

11.5K 1.1K 55
                                        

Apa aku benar-benar siap menikah?

[LEO] Beb, katanya pengin meet up. Ke DU, yuk.

[Aries] You drunk?

[Leo] Gak. Sini dong. Mumpung gue lagi nganggur.

[Aries] 10 menit.

Hujan yang berhenti sejak satu jam lalu meninggalkan hawa dingin saat Aries membawa mobilnya keluar dari No. 46. Kepadatan di sekitar Dago menjadi pemandangan yang familier baginya, terutama selepas hujan deras. Genangan air di sejumlah titik menyebabkan macet yang tak terhindarkan.

Syukurnya, perjalanan Aries ke Dipati Ukur tak makan waktu lama. Hujan tadi pasti memaksa banyak orang mencari tempat berteduh begitu dia melihat kedai kopi tempat Leo bersantai. Lokasi tepat buat menikmati hujan sambil menyesap secangkir minuman hangat.

Pesanan Aries selalu sama: cokelat panas. Sambil menunggu, dia mengamati meja-meja yang disesaki banyak orang. Dari sekumpulan perempuan berpenampilan modis dengan tas-tas branded, keluarga besar di tengah ruangan, hingga muda-mudi berpakaian trendi yang memusatkan perhatian mereka di depan layar laptop.

Lantunan lagu yang diputar menarik atensi Aries. Jaz? Meski pengetahuan Aries akan musik tak sebaik Winona, tata musik tembang tersebut serupa dengan gubahan-gubahan yang diciptakan mendiang ibunya. Sebelum sempat mempelajari lebih lama, seorang barista memanggil nama dengan pesanannya.

*

Leo mengacungkan iced coffee kala melihat Aries memasuki bagian belakang kedai. Aroma petrichor menguar kuat dari hamparan rumput di samping meja-meja berpayung. Hati-hati Aries menapaki lantai kayu yang masih basah menuju tempat sahabatnya.

"Halo, Beb," sapa Leo begitu Aries duduk di hadapannya.

Terpaan angin dingin mendorong Aries mengeluarkan senjata andalannya: rokok. "Tumben di luar. Lagi marahan sama Ghina?"

"Justru gue ngajak lo ke sini buat ngobrol lebih lama. By the way...." Leo bersiul, lalu dan menunjuk rokok milik Aries. "Sebatang, dong."

Aries nyaris menjatuhkan pemantik. "Bukannya lo berhenti sejak nikah?"

"Sekali-kali bolehlah." Tanpa menunggu, Leo mengambil sepuntung rokok dan menyodorkannya pada api pemantik. "Kalau ketahuan paling disuruh tidur di sofa."

"Orang yang bikin gue kecanduan rokok malah kucing-kucingan dari istrinya."

"Ketawa aja sepuas lo! Tunggu pas nikah nanti, kelar diceramahi Winona."

Selama beberapa menit, keduanya menikmati setiap isapan. Asap putih yang membumbung di sekitar meja membawa Aries bernostalgia ke bangku kuliah. Kala itu, dia dan Leo kerap menghabiskan malam-malam sepanjang musim gugur bersama beberapa puntung rokok, keripik kentang, dan bir.

Leo mengembuskan napas panjang bersama asap dari mulutnya. "Kapan lo bakal ketemu keluarga Winona?"

"Dua minggu lagi."

"Langsung lamaran?"

Aries menggeleng. "Maunya begitu, tapi Winona minta gue buat adaptasi dulu sama keluarga dari pihak ayahnya. Keluarga dari pihak ibunya, sih, sudah dikasih lampu hijau."

"Bentar, kayaknya gue kehilangan banyak informasi penting."

"Lo sibuk banget, Pak Bos. Gue mau cerita dari kapan hari, baru kesampaian sekarang." Aries menyesap cokelat panasnya. "Pertemuannya mendadak. Gue kaget karena dia jarang cerita soal keluarga ibunya. Ternyata dia baru kontak-kontakan lagi sama mereka satu tahun belakangan. Gue bersyukur keluarga ibunya masih menyambut hangat Winona."

Nights with AriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang