Chapter 6: Dating

1.8K 119 0
                                        

Annabeth Zoe melangkahkan kakinya di University of London. Ia kemudian merapatkan syal biru muda yang mengikat lehernya. Hari ini adalah hari terakhir kuliah karena liburan natal dan akhir tahun akan segera tiba.

"Leah!!" Annie berteriak memanggil sepupunya itu.

Yang dipanggil pun menoleh ke belakangnya. Saat itu ia sedang duduk berdua dengan Conor.

"Ya, ada apa Annie?" jawabnya sambil melepaskan pegangan tangannya dari tangan Conor. Annie yang melihat kejadian itu langsung senyum-senyum sendiri.

"Ehm, tadinya aku mau mengajakmu pulang. Tapi berhubung kalian sedang menikmati waktu berduaan, jadi ya sudahlah aku pulang sendiri saja."

"Nope, kami sudah selesai kok. Ayo kita pulang sebelum hujan salju turun." Leah buru-buru mengemasi barang-barangnya lalu beranjak dari sisi Conor.

"Jadi gimana hubungan kalian?" tanya Annie.

Leah tersedak. Apa-apaan sepupunya bertanya seperti itu? Just like... Hey! Dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Conor!

"Ehm, what are you talking about?"

Annie geleng-geleng kepala, "Oh cmon, aku sudah tau kok tentang kalian. Kalau kau suka sama dia, bilang saja! Ini sudah hampir 2014, Lee-lee, tidak ada salahnya kau bilang perasaanmu pada cowok duluan"

"what? No! Aku memang dekat dengan dia, but he's no my crush! Or boyfriend! Dia bukan tipe-ku, Ann."

"whatever," kata Annie sebal.

Annie pulang ke rumahnya, sedangkan Leah berkata dia harus pergi ke rumah dosennya karena ada sesuatu hal yang akan di urus. Annie langsung menghempaskan diri di ranjangnya dan tiba-tiba iphone nya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

Hi Ann. Hari ini ada acara? Mau kan, menemaniku pergi ke sesuatu tempat?
-Niallxx

Hm, typical Niall. Selalu saja penuh dengan rahasia. Apakah dia tidak sadar bahwa tindakannya itu semakin membuat Annie penasaran padanya? Atau memang Niall sengaja berbuat begitu?

Annie segera membalas pesan tersebut dan menyetujuinya. Beberapa bulan belakangan ini ia semakin akrab saja dengan pria Irlandia itu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, baik melalui telepon atau pun video call.

Tak lama Niall mengirimkan pesan singkat lagi.

Okay, siap-siap sekarang. 15 menit lagi aku sampai.
-Niallxx

What? Apa-apaan ini? Annie mengira Niall akan mengajaknya nanti sore atau bahkan malam. Tidak mendadak seperti ini! Ia ingin protes tapi entah kenapa jari-jarinya serasa membeku ketika akan membalas pesan itu. Akhirnya dengan perasaan kesal -dan juga senang karena akan menghabiskan waktu berdua- Annie membanting iphone-nya ke ranjang dan segera berlari ke kamar mandi.

Setelah selesai mandi ia pun mengacak-acak isi lemarinya, bingung memilih baju apa yang akan di gunakannya ketika akan bertemu Niall. Ia ingin tampil cantik tapi di sisi lain ia tidak ingin Niall menyadari hal itu.

Bel rumah pun berbunyi. Annie kaget dan tak menyangka pria itu akan datang secepat ini.

"Masuk saja, Ni! Aku di kamar, sebentar lagi keluar!"

Terdengar bunyi pintu di buka. Annie segera mengambil sweeter abu-abunya dan sebuah syal yang segera di lilitkannya di lehernya. Pakaian hangat ini akan membantu melindungi tubuhnya dari dinginnya kota London di bulan Desember.

Akhirnya setelah merias dirinya dengan bedak tipis dan lipgloss pink yang sangat ampuh untuk mencegah terjadinya bibir pecah-pecah di tengah udara dingin, Annie segera keluar kamar dan mendapati Niall sedangkan duduk di ruang tamu rumahnya. Pria itu tampak terkesan melihat Annie yang sangat cantik.

"Uhm Niall? Kau siap, kan?"

Niall tersadar dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya dan itu membuatnya menjadi lebih...cute.

"yeah, of course. Ayo kita pergi."

Selama di perjalanan keheningan menyelimuti mereka berdua sampai akhirnya Annie memberanikan diri untuk bertanya pada Niall.

"Ni, where will we going?"

"Panti Asuhan, kenapa?" Pria itu malah balik bertanya.

"oh, kau serius? Aku sudah lama tidak mengunjungi panti asuhan. Terakhir kali aku ke panti asuhan sekitar dua tahun yang lalu. Kau harus tau, aku sangat senang pergi ke sana karena...."

Annie tidak dapat menghentikan ocehannya. Sedangkan Niall hanya bisa diam dan tersenyum memandangi gadis itu. Bagi Niall, Annie itu adalah gadis yang ... Cantik. Pintar. Ramah. Semuanya ada padanya.

Niall suka bagaimana cara Annie berbicara, bibir mungilnya bergerak-gerak dan tak sabar ingin mencoba merasakan bagaimana rasa mengecup bibir itu. Bagaimana mata abu-abu milik gadis itu menatapnya hangat. Rasanya Niall sangat ingin memiliki gadis itu untuk selamanya. Menggenggam erat tangannya dan berjanji tidak akan melepaskannya. Mencuri hatinya dan menyimpannya di sebuah ruang kosong di sudut hatinya sendiri yang selama ini masih ia biarkan kosong.

Perfect StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang