Chapter 4: Another Stranger

2.2K 136 7
                                        

Ayyyyy Perfect Stranger chapter 4 akhirnya kelar juga._. belakangan authornya semakin sibuk karena jadwal sekolah tapi ya mau gimana hehe. ga usah banyak bacot, langsung baca aja oke?

enjoy!

_____________________________________

*Annabeth's POV*

Hari kedua ku berada di London. Sejauh ini sih, lancar-lancar saja. Hari ini aku berniat untuk di rumah saja untuk membersihkan rumah yang masih (sangat) berantakan ini.

Dimulai dari ruang tamu saja, batinku dalam hati.

Namun tiba-tiba mataku tertuju pada secarik kertas kecil di atas meja di ruang tv. Aku penasaran karenanya, maka dari itu aku mengambilnya dan membacanya.

Text me, 0123456789.
-Niall

Aku hanya tersenyum memandangnya lalu meletakkannya kembali. Aku berpikir, nanti saja mengiriminya sms karena sekarang waktunya berbenah.

Bip...bip....bip....

Ponselku berbunyi. Oh iya, jangan tertawakan aku karena ring tone ponselku seperti itu. Ponsel itu baru dibelikan ayahku sebelum keberangkatanku kemari, jadi aku belum sempat mengatur ring tone-nya, haha.

"halo, dengan Annabeth disini..."

"Hai Annie, ini ayah. Apa kabarmu, hun?"

"Oh, hai ayah. Aku baik-baik saja. Ayah apa kabar? Maaf aku tidak memberitahu kalau aku sudah sampai disini. Aku capek sekali kemarin..."

"it's okay. By the way di sana jam berapa?"

"masih pagi, jam 8. Biar ku tebak, di Indonesia pasti sekarang jam 1 pagi?"

"haha iya. Ayah baru pulang ke rumah..."

"Lembur lagi?"

"Iya, banyak yang harus di kerjakan."

Aku menghela napas pelan. Ayahku itu adalah pemilik perusahaan, namun ia sering lembur kerja padahal dengan mudahnya ia bisa menyuruh karyawannya untuk mengerjakannya. Namun ayahku bukan tipe orang seperti itu, ia adalah orang yang mandiri. Dan nampaknya sifatnya yang satu itu menurun padaku, putri satu-satunya.

"Annie?"

"ya?"

"ayah istirahat dulu ya. Sampaikan salam kepada Uncle Phill dan Leah ya. Dan kapan-kapan ayah pasti akan menjengukmu kesana. Take care, hun. Love you"

"okay, sleep well. Love you too. Bye.."

Aku memutuskan sambungan. Senang rasanya mendengar suara orang ku sayangi lagi walaupun hanya via telepon. Fyi, selama ini aku hanya tinggal berdua bersama ayahku. Ibuku sudah meninggal sewaktu umurku 5 tahun, dan aku adalah anak satu-satunya. Jadi bisa dibilang aku ini anak yang tertutup. Selama ini aku hanya bercerita kepada ayahku saja.

Selesai membenahi rumah, aku istirahat sejenak di sofa. Lalu aku teringat kembali pada secarik kertas yang di berikan Niall. Aku menatapnya sambil berpikir apakah sebaiknya aku mengiriminya sms atau tidak. Hmm...

Akhirnya aku memutuskan aku akan mengirimkan nya sms (aku bukan berharap padanya, oke.)

Hi Niall, its me.
Annie xxx

Send.

Lega rasanya. Entah ada ikatan apa yang menyebabkan ku bisa berpikiran untuk melakukannya. Bukan, bukan karena dia penyanyi atau apalah, namun ada sesuatu yang mengganjal di hatiku yang mendorongku untuk melakukannya.

Perfect StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang