*Annie's POV*
Pagi ini aku bangun dengan muka kusam dan mata sembap. Semalaman aku menangis entah karena apa. Pikiranku disibukkan oleh cerita Felicite semalam. Aku marah, kesal, sedih dan juga kecewa kedua orang tuaku. Aku tidak menyangka ternyata Ayah yang begitu baik dan sayang padaku ternyata punya sebuah kebohongan besar tentang mama.
Selama ini Ayah mengaku padaku kalau Mama sudah meninggal karena kecelakaan. Bodohnya aku percaya begitu saja. Ternyata itu semua hanya hoax belaka. Pantas saja Ayah tidak pernah mengajakku ke makam mama yang ternyata tidak ada.
Pertanyaan terbesarku, mengapa Ayah tega menjauhkanku dari Ibu dan saudara kandungku? Segitu besar kah permasalahan yang membuat kedua orang tuaku bercerai?
Aku memutuskan untuk menghubungi Ayah lewat video call. Setidaknya aku butuh kepastian untuk cerita Felicite.
"Ayah..." sapaku begitu Ayah muncul di layar laptopku.
"Yes, honey? Mengapa kau menghubungiku tengah malam begini?"
"Apa Ayah kenal dengan Felicite Alycia Zoe? Ayah masih ingat dengan Sally Franklin?" tembakku langsung.
Hening sesaat. Walaupun kami hanya terhubung dengan video call, namun aku bisa melihat wajah Ayah yang menjadi pusat pasi.
"A...ap..apa? Tidak, ayah tidak kenal dengan mereka." jawabnya terbata-bata.
"Ayah tidak perlu berbohong karena aku sudah tau semua kebenarannya. Mama masih hidup! Aku bukan anak tunggal, aku punya saudara perempuan yang bahkan wajahnya mirip sekali denganku! Mengapa Ayah berbohong padaku selama ini?!" teriakku penuh emosi. Aku tahu kalau aku sudah berdosa karena telah memaki ayahku sendiri, namun kali ini emosiku tak dapat tertahankan lagi.
"Dimana Sally dan Felicite sekarang?" tanya Ayah akhirnya.
"mengapa ayah bertanya? Bukankah ayah seharusnya tau dimana anak kandung ayah?!" jawabku dingin.
"Maafkan ayah, Annie. Banyak hal yang tidak bisa ayah jelaskan disini. Ini semua...terlalu rumit."
"Terserah ayah!!" emosiku meledak. Aku segera menutup laptop dan meletakkannya begitu saja. Aku sudah tidak peduli lagi pada apapun. Tangisku pun pecah.
"Annie, are you alright?"
Suara itu tiba-tiba saja muncul. Suara itu terasa familiar bagiku. Tapi aku tidak peduli. Aku tetap menangis terisak-isak sambil memeluk tubuhku.
"Hey, princess, kau kenapa? Kau tidak perlu menangis , ada aku disini.."
Aku tidak tahan lagi. Aku pun segera berbalik dan melihat Niall sedang berdiri dibelakangku. Disela-sela tangis aku berusaha menghapus air mataku, aku malu karena menangis di depan Niall.
"It's okay. Kau boleh menangis jika itu membuatmu menjadi lebih baik." Niall pun duduk disampingku.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung menghambur ke dalam pelukannya. Aku sungguh membutuhkan seseorang untuk menenangkanku saat ini. Dan Niall adalah orang yang tepat.
"Niall..." kataku pelan.
"Yes sweetie?"
"Please dont leave me alone, I'm scared."
Niall mengelus puncak kepalaku pelan. "No, I wont, princess."
Aku semakin memeluknya dengan erat seolah tidak ingin kehilangannya. Pelukan yang diberikan Niall begitu hangat, membuatku tenang dan nyaman. Sejenak aku pun lupa dengan masalahku.
"Jadi kenapa kau menangis? Kau boleh berbagi cerita denganku, itu pun jika kau mau," katanya pelan.
Aku pun berpikir sejenak. Tidak ada salahnya bukan, jika aku bercerita? Mungkin berbagi dengan seseorang akan membuat perasaanku sedikit lega. Maka aku pun menceritakan semuanya dari awal.
Niall pun menghela napas pelan. "I'm sorry to hear that..."
Aku hanya mengangguk
"Sometimes, orang tua punya pemikiran tersendiri. Mereka berbuat apa yang menurut mereka bagus tapi tidak untuk anak-anaknya. Tapi kau juga tidak boleh marah, ayahmu pasti mempunyai penjelasan dibalik itu semua." katanya bijak.
"Aku bukan marah, aku...aku hanya kesal padanya. Aku merasa dibohongi selama tujuh belas tahun," kataku pelan.
"Kalau begitu coba tanya baik-baik dengan ayahmu. Mintalah penjelasan, dan kalau bisa, pertemukanlah ayah dan ibumu, juga dengan dirimu dan Felicite. Bicarakan baik-baik dan kurasa itu cukup ampuh untuk mengatasi masalah. Tapi mungkin semua butuh waktu untuk diselesaikan.."
Aku tersenyum, "thanks atas idenya, Niall."
"yeah, sama-sama. By the way maaf aku masuk begitu saja, habisnya aku pencet bel kau tidak menyahut sih, aku takut kau kenapa-kenapa makanya aku langsung masuk."
Aku tertawa mendengarnya. Lelaki ini begitu polos. Ingin rasanya memeluknya untuk selama-lamanya.
*Niall's POV*
Gadis itu tertawa. Demi Tuhan, aku suka sekali melihatnya tertawa. Dia terlihat lebih cantik dari biasanya. Aku pun memeluknya dan mengelus-elus rambutnya. Sekarang posisinya berada di dadaku.
Tiba-tiba ide gila muncul di pikiranku. Bagaimana jika aku melakukannya sekarang? Jujur aku sudah punya rencana, tapi aku tidak sabar dan takut jika gadis ini sudah jadi milik orang lain. All I want is her.
"kau umm... Kau sudah punya pacar Ann?" tanyaku gugup.
Gadis itu menggeleng pelan. Aku pun mengucapkan syukur dalam hati.
"Mm... Annie, uhm... Aku.. Aku sudah lama jatuh cinta padamu, dirumah ini, apa kau ingat pertama kali kita bertemu? Aku merasa ada sesuatu yang berbeda padamu. I think I'm fall in love with you, so...would you be my girl?" akhirnya, kata itu keluar juga dari mulutku.
Aku bisa melihat wajah itu terkejut. Air muka Annie berubah, ada ekspresi tak terbaca yang diperlihatkan disana, entah apa itu.
"Oh, maaf kalau aku menyatakannya seperti ini, aku tau aku bukan orang yang romantis, tapi... Jika kau menolakku tak apa kok, aku hanya ingin menyatakan perasaanku padamu.."
Annie tergelak pelan. Dengan cepat bibirnya mendarat di bibirku.
"Itu untuk jawabannya," jawabnya senang.
Oh Tuhan benarkah ini?
Benarkah gadis ini telah resmi menjadi milikku?
"Thank you!! Thank you so much, Anns! I love you!!" teriakku. Aku pun segera memeluk tubuh kurusnya itu.
"No, seharusnya aku yang berterima kasih atas semua perhatianmu," katanya malu.
Aku pun tersenyum memandangnya. Rasanya ingin menghentikan waktu agar aku bisa terus bersama dengan gadis ini, dan tak ada satu pun yang akan mengganggu kami.
"Nah, untuk merayakannya bagaimana kita jalan-jalan? Maksudku agar kau sedikit tenang karena masalah yang belakangan kau hadapi ini..." saranku padanya.
Ia mengangguk lalu memandangi tubuhnya, lalu menunduk malu. "maaf ya, aku belum mandi, tampangku masih berantakan begini." katanya.
Aku terkikik geli lalu berpura-pura menutup hidungku, "pantas saja kau bau hihi"
Dia pun diam dan aku merasa bersalah karenanya, mengapa ia diam? Apa dia marah?
"Hei, maaf aku cuma bercanda kok. Kau tetap cantik karena kau memang cantik luar dalam," kataku pelan.
"Hahaha, aku bercanda, Ni. Ya sudah aku mandi dulu ya."
"Mau aku temani?" tanyaku menggodanya. Sedetik kemudian sebuah bantal mendarat tepat diwajahku.
"Itu untuk jawabannya, Mr. Horan!" ia pun pergi sambil berusaha menahan tawa.
***
A/N: so this is the new chapter of Perfect Stranger. what do you think? vote dan comment jangan lupa yaa:* kritik dan saran sangat diterima okee;3 thank youuuu
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictionBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
