"Here we go.."
Akhirnya mereka sampai sampai di tujuan. Panti Asuhan itu tidak terlalu besar bangunannya, tapi halamannya sangat luas. Mungkin sengaja di bangun agar anak-anak disini bisa bermain sepuas hati mereka.
Niall dan Annie melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam gedung utama. Disana sudah menunggu seorang wanita cantik berwajah keibuan. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagain, namun tetap saja wajahnya cantik dan senyumnya sangat indah.
"Hi Niall. Akhirnya kau datang juga!" sapa wanita itu ramah.
Niall segera mencium pipi wanita itu -yang Annie pikir itu adalah cara menyapa ala orang Inggris- dan mengenalkan Annie padanya. "Janet, ini Annabeth temanku. Annie, ini Janet pemilik Panti Asuhan ini."
Annie segera menjabat tangan Janet. Wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu pun membalas jabatan tanganku dan terseyum, "Well, nice to see you Annie,"
"Nice to see you too, Janet. Kau tampak senang sekali berada di Panti Asuhan ini, don't you?" jawab Annie.
"yap. Ini adalah rumah keduaku. Sejujurnya ini adalah peninggalan almarhum suamiku dan aku harus menajaga tempat ini sebaik mungkin agar ia di surga tersenyum melihat apa yang ku lakukan disini..."
Annie terharu mendengarnya. Dapat disimpulkan bahwa Janet sangat mencintai suaminya sampai-sampai ia rela mengurus panti asuhan. Ingin rasanya Annie punya pasangan seperti Janet yang tetap setia pada pasangannya walaupun sudah berbeda alam.
"ah, maaf kalau aku bercerita panjang lebar. Niall, kau siap menghibur anak-anak itu?" kata Janet.
Niall mengangguk, "yap. Dan oh ya, maaf the boys yang lain tidak bisa datang hari ini, mereka punya kegiatan-tak-dapat-ditinggalkan katanya. Jadi cuma aku sendiri yang akan menyanyi hari ini, tidak apa-apa 'kan?"
"no problem, Ni. Aku paham kok kalau kalian punya jadwal yang padat. Kau datang saja aku sudah bersyukur sekali, anak-anak itu merindukanmu!"
"awe, cute. Tak sabar ingin melihat mereka," kata Annie spontan.
"Hei, Ann, kau mau bernyanyi bersamaku? Aku yakin anak-anak pasti akan suka!" sebuah ide terpikir begitu saja di benak Niall. Sesaat Anni merasa ragu, "tapi suaraku tidak bagus..."
Niall langsung menaruh telunjuknya di bibir Annie, "sshhh, aku tidak peduli. Yang penting adalah niatmu untuk menghibur anak-anak itu"
Annie langsung terdiam dan akhirnya menyetujui tawaran Niall untuk menyanyi bersama.
Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan yang lumayan besar. Disana sudah banyak anak-anak yang rata-rata berusia 5-10 tahun.
"Hi guys! Kalian kangen aku?" tanya Niall. Spontan saja anak-anak yang sedang bermain melihat ke arah Niall. Mereka berteriak kegirangan karena akhirnya pria itu datang lagi mengunjungi mereka. Tak terkirakan betapa bahagianya mereka.
Annie yang melihat kejadian itu menjadi terharu. Ia menyadari betapa sayangnya Niall pada anak-anak itu dan juga sebaliknya.
"dimana Louis, Harry, Liam dan Zayn, Niall?"
"mengapa kau hanya datang sendirian?"
"hari ini kau mau nyanyi lagu apa, Ni?"
Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dari mulut anak-anak. Niall hanya bisa tersenyum dan menjawab, "kawan-kawanku tidak bisa hadir hari ini karena ada keperluan lain, sorry kids."
Terdengar desahan kecewa dari anak-anak itu. Tapi Niall langsung melanjutkan, "tapi hari ini aku membawa teman. Ini Annie, temanku."
Niall langsung memeluk Annie mendekat ke arahnya dengan tangan yang di selipkan di bagian pinggang Annie. Tindakan itu membuat gadis itu memerah mukanya.
Mereka pun mengibur anak-anak disana dengan menyanyikan beberapa buah lagu. Anak-anak disana senang sekali karena bisa bernyanyi bersama Niall.
***
"Hey, tadi itu mengagumkan tau! Suaramu keren!"
Niall memuji gadis yang tengah memakan es krim cokelat kesukaannya. Gadis itu tersenyum malu dan menatap mata biru Niall, "terima kasih,"
"hm..yaa...kapan-kapan kita harus berduet lagi! Aku sungguh suka dengan suaramu itu!"
Annie mengangguk pelan dan tetap memakan es krimnya. Dia sibuk melihat anak-anak yang berlarian di lapangan luas yang terhampar di depannya. Setelah berkunjung ke Panti Asuhan, Niall 'menculik' Annie dan membawanya ke taman ini, menghabiskan sisa sore berdua dengan sebatang es krim di tangan masing-masing.
"rasanya ingin kembali ke masa kecil, dimana hidup hanya untuk bermain serta memakan permen dan cokelat. Tidak ada masalah yang serius yang akan kau hadapi. Bermain sepanjang waktu bersama teman-temanmu dan tertawa riang seharian..."
Niall menoleh, gadis itu pun mengalihkan pandangannya ke pria Irlandia itu. Mata mereka bertemu. Keduanya hanyut dalam diam, sibuk dengan pikiran sendiri.
Kemudian hal itu terjadi dengan cepat. Bibir itu bertemu begitu saja. Entah siapa yang memulai, tapi keduanya tampak menikmati. Napas mereka bertemu. Ciuman itu hangat dan...mesra. Keduanya dapat merasakan itu.
Hingga akhirnya keduanya tersentak bersamaan. Merasa malu karena perbuatan yang baru saja mereka lakukan. Tapi kata maaf hanya bisa hanyut begitu saja, karena tidak ada yang perlu di maafkan.
"Maafkan aku..." kata Annie.
_____________________________________
so gimana? kependekan? maaf ya:" vote+comment nya jangan lupa:3
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictionBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
