Annie berjalan menuju kearah El, Perrie dan Felicite, sedangkan Sophia sedang mengobrol dengan Liam. Perrie dan Felicite sedang duduk-duduk sambil mengobrol dan El terlihat sibuk memanggang daging.
"Hi, boleh gabung?" tanya Annie sopan.
"Tentu saja. Ayo duduk disampingku, Anns." jawab Perrie ramah.
Annie pun mengangguk dan segera duduk di bangku yang telah di sediakan.
"Hei Perrie, bantu aku sini, aku kesusahan memindahkan daging ini ke piring! Terlalu panas..." kata El. Perrie pun bangkit dan segera membantu El.
Jadilah tinggal Annie dan Felicite disana. Suasana menjadi awkward karena keduanya diam dan tak tau apa yang harus diobrolkan.
Setelah terdiam cukup lama, Felicite pun membuka pembicaraan. "So, Annie... Apa kau benar anak tunggal?" tanyanya hati-hati.
"yes, why?"
"Apa nama ayahmu Thomas Zoe?"
Lagi-lagi Annie mengangguk. Aneh sekali Felicite ini, mengapa ia bisa tahu nama ayahnya?
Sementara itu Felicite menelan ludah. Keringat dingin bercucuran di wajahnya.
"Apakah kau dulu tinggal di Indonesia bersama ayahmu?" tanyanya lagi.
"Iya, memangnya kenapa? Kenapa kau bisa tau semua itu?" jawab Annie gusar.
Felicite menelan ludah. Air mata mulai mengalir pelan di pipinya. Dengan terbata-bata ia pun menceritakan masa lalunya.
Kala itu Felicite sedang bermain barbie bersama adik kecilnya. Di rumah mereka sangat sepi, hanya ada kakek mereka yang tetap setia menjaga kedua cucunya hingga sang anak pulang.
"Kek, mama papa belum pulang ya?" tanya Felicite.
"Belum, Felly. Paling sebentar lagi mereka pulang kok. Sabar aja..." jawab sang kakek sabar.
Felicite mendecak pelan. Ia kesal terhadap kedua orang tuanya yang sering pulang larut malam. Sang ayah yang merupakan seorang direktur utama perusahaan dan ibunya yang merupakan penyanyi terkenal sering kali pulang pagi. Felicite benci pada kedua orang tuanya karena mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang mengakibatkan dua orang putrinya tidak terurus.
Melihat kedua cucunya tidak terurus, sang kakek pun akhirnya memutuskan untuk merawatnya. Membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang yang tidak mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka.
Hingga akhirnya hari itu tiba. Tengah malam Felicite terbangun dan merasakan dirinya haus. Ia pun segera keluar kamar untuk mengambil segelas air. Tapi langkahnya terhenti begitu melewati kamar kedua orang tuanya. Terdengar dua orang sedang beradu mulut entah karena apa.
"Sudah kubilang, kau itu seharusnya tidak menyanyi lagi. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri hingga akhirnya kedua putrimu terbengkalai!" teriak sang suami.
Sang istri pun tak mau kalah, "Aku mencari uang untuk membantumu! Namun apa yang aku dapatkan? Cacian dan makian seperti ini?!"
"kau tidak perlu mencari uang! Biar aku yang cari uang! Apa kau lupa kalau aku ini kepala keluarga? Tentu saja aku akan bertanggung jawab dengan keluargaku!"
"Tapi aku tidak ingin berhenti! Aku masih ingin berkarier!"
"terselahlah apa maumu! Yang pasti kau harus bisa mengurangi jadwalmu dan uruslah anak-anakmu! Apa kau tidak kasihan melihat Ayah yang sudah tua begitu mengurus cucunya sendirian?!" bentak sang suami.
"Oh jadi terserahku? Baiklah kalau begitu! Aku ingin kita berce...."
Felicite kecil langsung tersentak kaget ketika bahunya ditepuk. Rupanya ada kakeknya berdiri tepat berdiri dibelakangnya.
"apa yang kau lakukan disini, Sweetie? Ayo masuk ke kamar," Felicite kecil pun digendong ke kamar oleh sang kakek. Ia hanya diam dan pikirannya penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Felicite kecil masih begitu polos mendengar perdebatan kedua orang tuanya tadi.
Hingga suatu hari saat Felicite berumur tujuh tahun, ia dibawa ke London bersama dengan ibu dan kakeknya. Tapi ayah dan adik kecilnya tidak ikut. Felicite pun bertanya pada ibunya, "ma, adek sama papa mana ma? Mereka nggak ikut kita pindah?"
Sang ibu hanya menggeleng pelan sambil berusaha tersenyum. Ia berusaha menahan air mata yang sedari tadi sudah mendesak keluar dari matanya.
Jadilah Felicite tinggal di rumah barunya bersama ibu dan kakeknya. Setiap hari ia bertanya pada kakek dan ibunya tentang adik kecil dan ayahnya, namun yang ia dapati hanyalah sebuah senyuman terpaksa. Tidak ada seorang pun yang ingin menjawab pertanyaanya. Bahkan dirumahnya sendiri tidak ada foto ayah dan adiknya.
Lambat laun Felicite pun mulai menikmati hidupnya. Ia mulai lupa pada ayah dan adiknya karena tidak seorang pun dirumah yang ingin membahas keberadaan mereka. Barulah ketika Felicite menapak remaja ia mulai sadar bahwa ayah dan ibunya telah bercerai. Ibunya mendapat hak asuh atas dirinya sedangkan ayahnya mendapat hak asuh atas adiknya.
"Dan kau tahu siapa nama ayahku?" tanya Felicite. Matanya kini sudah dibanjiri air mata.
Annie menggeleng pelan.
"Thomas Zoe."
Annie hanya diam dan berusaha mencerna cerita Felicite. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya ia paham.
"Jadi, ayahku itu adalah papamu?" tanyanya pelan.
Kali ini Felicite mengangguk. "dan kau tau siapa nama adikku?"
Lagi-lagi Annie menggeleng pelan.
"Annabeth Alycia Zoe."
Annie tersedak. Felicite adalah kakak kandungnya? Tapi setaunya ia adalah anak tunggal. Ibunya meninggal ketika umurnya lima tahun karena kecelakaan.
Tiba-tiba saja Annie tertawa. "Kau pasti bercanda kan karena wajah kita mirip? Kau pasti mengarang-ngarang cerita itu kan Felicite?"
"kalau aku mengarangnya, aku tidak akan tahu siapa nama ayahmu dan nama lengkapmu." desis Felicite.
Annie terdiam mendengarnya. Ia lambat laun mulai percaya, namun masih ada sedikit keraguan dalam benaknya.
"Jadi, nama ibuku siapa?"
"Sally Franklin." jawab Felicite mantap.
"dan nama lengkapmu?"
"Felicite Alycia Zoe."
Wow, nama yang sama dengan Annie. Gadis itu masih heran mendengar cerita Felicite. Ia sendiri memang tidak ingat apa-apa tentang masa kecilnya. Ia pun memandang mata Felicite yang berwarna abu-abu juga. Mata sayu itu juga menatapnya dengan pandangan aneh seolah Felicite memang mengatakan yang sebenarnya.
Tiba-tiba saja air mata Annie tak terbendung lagi. Butiran bening mulai turun dipipinya. Gadis itu pun memeluk Felicite. Ia memeluk erat gadis yang ternyata adalah kakak kandungnya.
"Annie, aku sengaja pulang ke London begitu tau kau mendapatkan beasiswa disini. Mama sama sekali tidak mengizinkanku untuk bertemu denganmu dan papa di Indonesia, padahal aku sangat rindu pada kalian berdua. Tujuh belas tahu aku tidak bertemu kalian.." isaknya pelan.
"sudahlah, aku sekarang disini dan tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku janji." jawab Annie pelan.
"kau tau, aku padahal baru saja akan memulai pencarianku minggu depan. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Kita dipertemukan seperti ini hahaha,"
Felicite bahkan masih sempat tertawa di sela-sela isakan tangisnya. Melihat itu pun Annie segera tertawa juga.
"Jadi, apa ibumu...eh maksudku mama masih hidup?" tanya Annie pelan.
"Masih, mama masih sehat hingga hari ini. Aku akan mengajakmu mengunjunginya selepas tahun baru ini..."
Annie terdiam. Ia merasakan sesak di dadanya. Ia tidak siap bertemu dengan ibu kandungnya. Felicite bilang mama tidak pernah mengizinkan gadis itu bertemu dengan ayah dan adiknya, berarti mama memang sudah tidak mengharapkan Annie datang dikehidupannya.
***
A/N: Wey heyyy ternyata Felicite kakaknya Annabeth. Jadi gimana tanggapan kalian? Jelek? Boring? maaf duh maaf:"
kalau kalian suka silahkan di vote:) dan comment jangan lupa! kritik saran diterima kok:) thanks<3
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictionBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
