"Taylor?"
"Hi Lou" sapanya. Wanita itu masuk dengan anggun kedalam ruangan. Mukanya datar, tanpa ekspresi. Ia melihat Harry yang terbaring di ranjang. Diletakkannya tas jinjingnya di meja tepat disamping ranjang Harry. Lalu didekatinya perlahan lelaki itu dan dielusnya tangannya.
"Harry... maaf aku baru bisa datang sekarang."
Louis menatap heran kearah Taylor. Ia heran, kenapa Taylor bisa berada disini? Padahal ia belum memberitahukannya pada Taylor, begitu pula dengan kawan-kawannya yang lain. Tapi pertanyaan terbesarnya, kenapa Taylor ingin repot-repot datang mengunjungi Harry? Setahu Louis, mereka hanyalah fake dating. Atau jangan-jangan...
"Harry bangun..."
Air matanya jatuh melihat keadaan Harry. Taylor menyeka air matanya pelan. ia sendiri bingung mengapa ia bisa sepeduli ini dengan Harry. Mungkin karena kecelakaan ini. dulu ia selalu mengabaikan Harry. Ia hanya berpura-pura mencintai Harry hanya karena suruhan manajemennya. Namun kini tidak, ia kini datang secara sukarela. Ia datang karena panggilan hatinya yang menyuruhnya datang mengunjungi Harry.
"Tay..."
Tangan Louis menyentuh pundak Taylor pelan. wanita itu menoleh dan Louis mendapati mata Taylor memerah karena menangis. Iba juga hatinya melihat mata sendu itu. bagaimana pun ketika perempuan menjatuhkan air matanya maka itu tandanya para lelaki harus menenangkannya. Itulah yang dilakukan Louis dengan merangkul Taylor dengan hangat.
"Louis... ada sesuatu yang harus aku katakan padamu..." kata Taylor
Mata Louis menyipit. Ditatapnya Taylor dengan penuh tanda tanya. "Apa itu?"
***
Siang itu Niall sudah berada di depan rumah Annabeth. Ditangannya sudah terdapat setangkai mawar merah yang baru saja dipetiknya di kebun rumahnya. Ia sengaja membawakannya karena hari ini tepat setahun mereka pertama kali bertemu. Ya, Niall masih ingat itu. ia pertama kali datang kerumah ini dengan napas terengah-engah karena dikejar oleh fansnya.
"Guess who's coming!" kata Niall sambil mengetuk pintu rumah Annabeth.
Tak lama kemudian Annabeth mengintip melalu jendela rumahnya. "Uhm, Daniel Radcliffe?" tanyanya serius.
"Lebih tampan dari Daniel Radcliffe," sahut Niall lagi.
"Aku tahu! Pasti Andrew Garfield ya 'kan? OH MY GOD ANDREW GARFIELD DATANG KERUMAH KU!!" pekik Annabeth. Ia berpura-pura excited dan langsung membukakan pintu. Ketika melihat Niall yang berdiri dibalik pintu, wajahnya langsung dibuat cemberut.
"Ah, bukan Andrew Garfield ternyata,"
"Oh jadi seperti ini Annabeth Alycia Zoe jika tidak ada aku disampingnya? Ia akan fangirling dengan artis-artis yang lebih tampan dariku," kata Niall. Kini ia yang berpura-pura cemberut. Dilipatnya kedua tangannya didada dan mulutnya dimajukan beberapa senti.
"Anda siapa ya?" tanya Annabeth heran.
"Ok fine. Aku pulang saja kalau begitu."
Niall pun berbalik hendak pulang. Namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Annabeth dan seketika itu pula tubuhnya langsung berhadapan dengan Annabeth. Dari jarak yang sangat dekat itu, dapat dirasakannya napas gadis itu yang tenang. Lalu gadis itu menciumnya pelan dan singkat, hanya sepersekian detik.
"Aku tidak akan marah jika aku bisa mendapatkan ciuman lebih lama lagi," kata Niall serius.Annabeth langsung menjitak kepala Niall pelan, "Dasar otak mesum!" katanya cekikikan.
"Oh ayolah, one more kisses?" kata Niall memelas.
"No." Annabeth menjawab singkat. Lalu ia melangkah masuk kedalam. Namun lengkungan dibibirnya tak dapat dihapusnya. Ia senyum-senyum sendiri bagaimana bisa ia dan Niall bisa menjadi pasangan yang...idiot.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
Fiksi PenggemarBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
