*Author's POV*
Sally duduk dibangku tunggu stasiun kereta api di salah satu kota London. Cuaca dingin membuatnya harus memakai sarung tangan dan syal tebal agar ia tidak kedinginan. Orang-orang lalu lalang di depannya dengan tergesa-gesa. London memang merupakan salah satu kota yang sibuk.
Matanya menerawang jauh. Perkataan Felicite semalam bagaikan tamparan keras untuknya. Annabeth. Gadis itu. Apa benar ia berada di London? Jika iya, berarti Thomas pun berada disini.
Kilas balik masa lalunya tak dapat dielakkannya. Semua gambaran jelas itu kembali memenuhi pikirannya.
Saat itu Sally sedang berada di red carpet sebuah acara penghargaan.
"Sally! You are beautiful as always. Ayo berpose dan aku akan mengambil gambarmu!"
Sally pun mengikuti perkataan paparazzi itu. Tangan di pinggang, senyum menawan dan juga pose yang sempurna terbentuk. Ia menyukai dunianya.
"Sally, apa kabar anakmu Felicite?"
"Kami dengar kau sering bertengkar dengan suamimu, apa itu benar?"
"Apa kau hamil lagi, Sally?"
"Bagaimana karirmu? Apa kau lebih memilih karir atau mengurus keluarga kecilmu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat hati Sally panas. Ia memang punya seorang anak berumur dua tahun, dan ia saat ini juga sedang mengandung anak keduanya. Sally takut, ia akan kehilangan karir jika anak keduanya itu lahir. Ia tidak ingin meninggalkan karirnya sebagai seorang penyanyi yang saat itu sedang berada dipuncak.
Sally mengutuk dirinya sendiri karena ia hamil lagi. Ia pun dibutakan karena karir dan uang melimpah yang membuatnya ingin menggugurkan kandungannya. Satu anak sudah cukup, tidak perlu di tambah lagi. Itulah pikiran Sally.
Suatu malam Sally tersulut emosi. Ia pun berniat membunuh dirinya. Ia tidak tahan lagi dengan segala cobaan hidupnya. Belum lagi cacian dan makian dari orang-orang yang membencinya. Bahkan Thomas, suaminya, menyuruhnya untuk berhenti bernyanyi dan memfokuskan diri untuk mengurus keluarga. Tapi Sally keras kepala, ia tetap ingin bernyanyi.
Dengan sebuah pecahan kaca ditangan, Sally mencoba menyayat pergelangan tangannya. Ia pikir jika ia mati, maka bayi yang dikandungnya pun akan mati. Tapi usahanya gagal, Thomas
menyelamatkan hidupnya. Sally pun menangis sejadi-jadinya.
Tiga tahun berlalu. kedua anak Sally Felicite dan Annabeth tumbuh cantik. Namun Sally tetap sibuk dengan dunianya dan tidak menghiraukan anaknya. Thomas pun marah besar pada istrinya itu. Mereka bertengkar hebat. Dan pada akhirnya mereka berdua memutuskan bercerai.
Hak asuh Felicite jatuh pada Sally, sedangkan Annabeth akan dirawat dan dibesarkan oleh Thomas. Sally pun memutuskan untuk pindah ke London, kampung halamannya dan Thomas tetap di Indonesia karena di negara itulah bisnisnya berkembang.
"Ma'am? Anda ingin duduk disini selamanya atau naik kereta itu?"
Suara seorang petugas menyadarkan Sally. Ia segera tersenyum berterima kasih kepada petugas itu lalu segera menaiki kereta yang akan mengantarkannya ke tempat kerjanya.
***
*Annabeth's POV*
Ini adalah minggu ketiga kuliah setelah libur natal dan tahun baru kemarin. Aku kembali disibukkan dengan jadwal kuliah yang padat dan tugas yang tak ada habisnya. Buku-buku berserakan di kamarku dan aku seolah tak peduli akan hal itu. Aku berkutat dengan laptopku kapan saja ada waktu senggang. Bukan untuk bermain, tapi untuk mengerjakan skripsi. Menjadi penerima beasiswa ternyata tidaklah gampang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictionBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
