Hi everyone!
Maaf baru sempat ngepost hari ini soalnya author nya (sok) sibuk._.v
Enjoy!
***
*Niall's POV*
Aku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan aku harus bergegas pulang ke camp. Aku memang sayang pada semua fansku, namun hal-hal seperti tadi itu membuatku sedikit merasa yah...terganggu privasiku. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkan mereka begitu saja, namun aku benar-benar butuh privasi.
"Darimana saja, kau?"
Suara khas itu langsung mendarat di telingaku ketika aku baru sampai.
"Hanya jalan-jalan melepaskan penat," jawabku santai sambil mengambil sebotol coke dari kulkas.
"jalan-jalan baru pulang jam segini?" tanya pria itu sinis.
"ya, memangnya kenapa? Jangan begitu sinis padaku, Paul."
"bagaimana aku tidak sinis padamu, kau ingat besok itu tanggal berapa? Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah berangkat ke NY!"
Damn, aku lupa!
"eh.. Maafkan aku, aku lupa. Aku akan packing sekarang," kataku buru-buru.
"sudah ku kerjakan, kau beruntung kali ini. Sekarang pergi tidur di kamarmu atau aku akan memukul bokongmu itu dengan sapu..." ancam Paul.
"okay aku akan tidur. Selamat malam." aku pun beranjak sambil senyum-senyum sendiri. Paul memang bodyguard yang hebat! Walaupun tampangnya garang, tetapi dia sebenarnya baik pada kami. Ya, kami, One Direction.
***
"cmon Nialler! Kita bisa terlambat jika kau terus-terusan bernegosiasi dengan petugas bandara itu..."
"ah ayolah Louis, aku bisa kelaparan nanti dijalanan jika tidak membawa makanan ini,"
"are f*cking kidding me? Nanti kan kita dapat makanan juga, kau tak perlu khawatir."
"tapi...."
"tidak ada tapi-tapian, kita berangkat!"
Aku terpaksa meninggalkan makananku di bandara. Padahal itu adalah cadangan snack ku dijalan nanti, tapi sekarang mereka hanya bisa tergeletak tak bersalah di kantor petugas bandara. Ah, sudahlah...
Selama dalam perjalanan menuju NY kami banyak bercerita dan bertingkah aneh lainnya. Mungkin banyak orang beranggapan bahwa One Direction adalah penyanyi terkenal yang bisa keliling dunia dan sibuk, namun sebenarnya kami hanyalah lima orang remaja laki-laki yang beruntung bisa masuk dalam industri musik. Kami sering bertingkah aneh, kok. Kami sering mengerjai satu sama lain. Seperti waktu itu, aku, Zayn, Louis dan Liam menukar sampo Harry dengan sampo anjing. Dan ketika ia tahu, ia bahkan tidak marah. Harry hanya bisa membayangkan dirinya memakai sampo anjing sambil senyum-senyum sendiri.
Akhirnya.
New York.
"Hey mate! Kita di New York lagi! Bukankah ini luar biasa?" Louis merangkul kami berempat.
"Yeah this is amazing! Tapi sayang kita disini hanya dua hari..." kata Harry.
"Dan Harry hanya bisa bertemu Taylor sebentar saja hihi..." sambar Zayn.
Mendengar itu Harry langsung cemberut, "shut up guys! Aku sudah move on dari dia!"
Kami semua tergelak. Harry memang paling tidak suka jika ia di ganggu tentang hubungan masa lalunya dengan Taylor Swift yang hanya seumur jagung itu. Harry pasti terus berkata "Aku sudah move on dari dia!"
Memikirkan itu aku jadi teringat kepada gadis yang rumahnya aku jadikan tempat persembunyian. Aku segera memeriksa iPhone-ku dan holy crap! Annie mengirimiku sms.
Hi Niall, its me.
Annie xxx
Aku tersenyum memandangnya dan mulai mengetikkan sesuatu.
***
"Boys, kalian akan mengikuti interview pukul 4 sore nanti dan setelah itu kalian free. Tapi besok pagi-pagi sekali kalian semua harus bersiap-siap untuk pergi ke yayasan amal kanker anak dan kalian akan menghibur mereka di sana. Pulang dari sana kalian akan mengadakan showcase di salah satu mall untuk mengejutkan penggemar dengan mengadakan showcase gratis..."
Paul menjelaskan jadwal kami di NY. Iya sibuk membalik-balikkan catatannya sembari menulis sesuatu. Rambutnya yang sudah agak memutih melambai-lambai ditiup angin karena ia berada di dekat jendela hotel.
"Sounds great. We'd had a fun time in NY, I can't wait!" Harry tersenyum.
"Ya, apalagi berkunjung ke yayasan kanker anak itu, aku tidak sabar ingin menghibur mereka," kata Zayn bersemangat.
Aku hanya tersenyum mendengar mereka semua yang ribut tentang acara kami di NY.
"Paul, bolehkah aku jalan-jalan sebentar di sekitaran hotel ini? Siapa tau nanti ada nandos di dekat sini.."
"too dangerous, Mr. Horan."
"Oh cmon, aku akan menggunakan hoodie dan kacamata hitam nanti,"
"Okay, tapi kalau kau ketahuan fans jangan salahkan aku, ya?"
"sure."
Aku segera mengambil hoodie yang tergantung di balik pintu lalu bergegas memakainya. Tak lupa pula sebuah kacamata hitam yang akan bertengger di hidungku untuk menutupi wajah tampanku ini...haha just kidding.
"Wait, aku ikut denganmu ya?" kaya Harry sambil memegang pundakku.
"Silahkan, Mr. Styles,"
Kami pun keluar dari hotel. Sebenarnya hari ini aku berniat ingin menghirup udara segar karena suasana di hotel membuatku mengantuk, nandos hanyalah pelarian bagiku.
"Kita mau kemana?"
Aku mengangkat bahu, "I don't know, Hazza. You have any destination?"
"taman, mungkin?"
"No, too dangerous. Kita ke nandos saja."
"Starbucks?"
"Nandos."
"Starbucks!"
"No, Nandos is the best!"
"Pokoknya Starbucks!"
Aku tidak tau berapa lama kami bertengkar, namun yang jelas akhirnya aku mengalah dan memutuskan untuk pergi ke Starbucks saja. Berdebat dengan Harry memang sangatlah sulit.
Kami memasuki kedai kopi ternama itu. Semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya, namun tiba-tiba mataku tertuju pada seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk sendirian di sudut ruangan.
Rambut pirang lurus dengan panjang sebahu dan agak keriting di bawahnya. Gadis itu mengenakan tank top polos berwarna merah dan hot pants. Ia tampak sedang asyik berkutat dengan laptopnya dan kopi yang di pesannya tampak mulai dingin seolah ia tidak ingin menyentuhnya.
Aku memperhatikannya dengan penasaran. Aku pikir aku pernah bertemu gadis itu sebelumnya.
"Annie..?" gumamku tak sadar.
_____________________________________
Apa benar yang dilihat Niall di Starbucks itu Annie? Jika iya, mengapa dia disana? Temukan jawabannya di chapter selanjutnya!:3
btw thanks for vote & comment. i love you mwah x
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictieBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
