*Niall's POV*
Aku pulang dengan perasaan bahagia karena Annabeth Zoe telah resmi menjadi gadisku. Mungkin ini terdengar sedikit sinting, tapi bibirku dari tadi tak dapat berhenti membentuk sebuah senyuman. Mulutku tak dapat berhenti bernyanyi riang gembira.
"Nampaknya ada yang lagi senang nih,"
Aku tidak menghiraukan perkataan Zayn barusan. Dengan santainya aku melenggang masuk dan merebahkan diri di sofa. "Aku senaaaaang sekali! Annabeth, Zayn.."
Zayn segera duduk disampingku dan kami pun high five. "woah congrats bro! Aku ikut senang karena akhirnya kau sudah tidak jomblo lagi haha"
Aku tergelak mendengarnya. Ya, aku memang sudah tiga tahun hidup single. Selama ini aku merasa hidupku bahagia, selama masih ada penggemar yang setia mendukung kami dan makanan yang berlimpah, aku merasa aku tidak butuh seorang gadis. Namun perasaan itu aku tepis jauh-jauh setelah bertemu Annabeth. Gadis itu adalah alasan mengapa aku bahagia. She is my sunshine.
"Mana yang lainnya?" tanyaku heran. Biasanya jam-jam segini rumah pasti ramai, namun tidak untuk hari ini. "sibuk sama pacar masing-masing.." jawab Zayn lesu.
"Lalu mengapa kau tidak bersama Perrie juga?"
"Perrie ada urusan bersama bandnya. Jadi ya aku disini sendiri,"
"oow kasihan, bagaimana kalau kita maraton film? Aku punya film baru nih," tawarku.
"Boleh! Ayo hidupkan cepat filmya, biar aku ambil makanan banyak-banyak dari kulkas," jawab zayn semangat.
Jadilah hari itu kami menonton bersama-sama. Hanya berdua, aku dan Zayn. Heh, jangan berpikiran yang aneh-aneh, aku masih normal tau!
***
*Felicite's POV*
Kulihat wanita itu sedang sibuk dengan kertas-kertasnya. Sesekali ia membalikkan halaman demi halaman dari buku bersampul cokelat. Kopi yang sedari tadi sudah kubuatkan untuknya sama sekali tidak disentuhnya.
"Ma, istirahat dulu, mama pasti capek." kataku pelan.
Kepala wanita itu mendongak dan ia memandangku. "No, sweetie. Pekerjaanku masih banyak dan ini harus diselesaikan besok." jawabnya lembut.
"Tapi ini sudah malam, ma. Mama tidur aja, jangan terlalu dipaksakan kalau memang tidak bisa..."
Namun ia segera menggeleng, "Mama bisa kok, kamu yang tidur sana,"
Perlahan aku menarik napas, berusaha mengatur kata yang tepat untuk menjelaskannya pada mama. "Aku bertemu Annabeth, ma" kataku akhirnya. Wanitu itu segera menghentikan aktivitasnya.
Sesaat ia terdiam. Walaupun ia membelakangiku, tapi aku tau pasti kalau dia sangat kaget. Ia pun berpaling dan menatapku, "Ann... Annabeth siapa?" tanyanya tidak tau. Lebih tepatnya sih berpura-pura tidak tau.
"Adikku," jawabku pelan. Ada keheningan yang sangat lama diantara kami. Hawa disekitar menjadi sangat dingin. Dapat kurasakan emosi Mama yang sebentar lagi akan meledak. Namun nyatanya ia tidak marah. Malahan ia tetap tenang seperti biasanya.
"Oh ya? Mungkin kau salah lihat," jawabnya.
Aku menggeleng cepat dan memegang pundaknya, menatap matanya dengan tajam. "Ma! Aku bertemu Annabeth adikku, anak mama!!" teriakku. Mungkin aku adalah anak yang durhaka karena berani membentak ibu sendiri, tapi aku tak bermaksud begitu. Apa daya nasi sudah menjadi bubur.
"Terus kenapa kalau kau bertemu dengannya?" jawab mama dingin.
"Mama mengapa benci sekali dengan Annabeth? Dia itu anak mama!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
FanfictionBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
