dedicated to: @tiarazzh hope you like it:)
***
Sesampainya di rumah sakit Felicite mendapati Liam dan Taylor berada di ruangan tempat Harry dirawat. Gadis itu terkejut setengah mati melihat Taylor yang sedang mesra-mesranya mengelus punggung tangan Harry. Hatinya sakit melihat pemandangan didepannya.
"Kau sengaja ya membawaku kesini supaya aku bisa melihat mantannya bermesraan dengan Harry?!" emosi Felicite meledak. Ia segara memaki Louis habis-habisan. "Kau tega sekali Lou! Berpura-pura meminta maaf padaku dan merayuku agar datang ke rumah sakit. Ternyata kau mengajakku hanya untuk melihat adegan ini. KAU JAHAT LOUIS TOMLINSON!!!!!!"
Suara Felicite memenuhi ruangan itu. Liam dan Taylor langsung melihat kearah Felicite yang mukanya sudah merah padam karena marah. Louis langsung menenangkan gadis itu. "Felicite, jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit."
"Aku tidak menjebakmu. Aku benar-benar tulus meminta maaf padamu. Soal Taylor... dia...."
"Alah sudahlah Lou, aku sudah tidak ingin mendengar omong kosongmu lagi. Let me go." Felicite menghentakkan tangannya dari cengkraman Louis.
"Felicite?" kata Taylor lembut.
Felicite langsung terdiam dan menoleh kearah Taylor. "Ya?"
"Aku ingin bicara denganmu, berdua." Taylor menekankan kata berdua dengan maksud untuk menyuruh Liam dan Louis meninggalkannya berdua dengan Felicite. Bertiga dengan Harry yang masih koma.
Setelah Liam dan Louis keluar, Taylor langsung mendekat pada Felicite. Ia tidak mengenal Felicite, tapi dari cerita yang didengarnya dari Liam tadi ia mengerti apa kedudukan Felicite saat itu. Untuk itulah ia ingin bicara dengan Felicite empat mata.
"Pertama, aku Taylor."
"Aku sudah tau," kata Felicite sinis.
Taylor menghela napas pelan. "Aku bukan seperti yang kau pikirkan, Felicite."
"Oh ya?"
"Aku memang mantan kekasih Harry. Namun yang harus kau ketahui adalah aku dan Harry hanyalah fake. Dunia selebriti tidaklah seindah yang kau kira. Aku dipaksa berkencan dengan Harry hanya untuk menaikkan fame-ku dan Harry di dunia Hollywood. Kau seharusnya sudah tau itu."
"Lalu? Apa hubungannya denganku?" Tanya Felicite acuh tak acuh.
"Aku tidak mencintai Harry. Aku menyanyangi Harry sebagai seorang sahabat. Aku tau hubunganmu dengan Harry. Kalau boleh tau kenapa kau menolaknya?" Tanya Taylor hati-hati.
Felicite terdiam sebentar. Ia tampak berpikir. "Aku... aku trauma dengan hubungan masa laluku. Aku tidak ingin kesalahanku terulang lagi."
"Kalau begitu kau harus pandai-pandai memilih pasanganmu. Pengalaman adalah guru yang paling hebat," kata Taylor bijak.
"Kenapa kau tiba-tiba jadi perduli begini? Bahkan kita baru bertemu beberapa menit yang lalu," kata Felicite sinis.
"Karena aku ingin melihat Harry bahagia. Aku tau Harry mencintaimu, begitu pula denganmu. Jadi apalagi halangannya? Masa lalu? Oh ayolah, siapa yang mau hidup bersama bayang-bayang masa lalu selamanya?" Oh great. Pernyataan Taylor tadi terasa mengena sekali. Felicte merasa tersindir karenanya.
Air mata Felicite akhirnya jatuh juga. Ia merasakan lututnya lemas. Taylor langsung memegangi tubuh gadis itu yang hampir roboh. Dituntunnya Felicite duduk disebuah sofa lalu diberikannya segelas air putih. Felicite segera meneguknya.
"Jadi kau rela jika aku bersama Harry?"
Taylor langsung mengangguk. "Tentu saja! Asalkan kalian bahagia, kenapa aku harus bersedih?" kata Taylor lagi. Ia memang merelakan Harry bersama Felicite. Keduanya pun berpelukan haru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Stranger
Fiksi PenggemarBagaimana rasanya mendapatkan beasiswa di negara impianmu, Inggris? Bagaimana pula jika kebetulan kau bisa bertemu seorang superstar di sana? Apa yang akan kau lakukan ketika dunia ini tidaklah seluas yang kau kira? Bagaimana jika ternyata kau punya...
