[8] I'm With You

5.6K 615 76
                                        

Sudah satu bulan sejak pernikahan mereka. Sejauh ini tidak ada masalah apa-apa. Walaupun mereka menjalani pernikahan hanya untuk status. Hermione menjalani hari-harinya di rumah Draco seperti biasa. Seperti dirumahnya sendiri. Membersihkan rumah, memasak, dan sebagainya. Walaupun Draco jarang ada dirumah. Ia akan pergi pagi-pagi dan pulang larut malam. Hermione tidak mengapa.

Masalah Astoria, Hermione tidak tahu menahu. Setahunya, wanita itu tahu akan pernikahan dirinya dan Draco. Tapi sampai sekarang, Astoria tidak menunjukkan rasa cemburu atau apapun itu. Sebersit rasa kasihan pada Draco. Pria itu terlihat muram. Mungkin karna Ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan Astoria. Tapi Hermione tidak bisa berbuat apa-apa.

Hermione masuk ke ruang kerja Draco untuk membersihkan tempat itu. Ia melirik gelas berisi teh yang masih penuh. Ternyata Draco masih belum mau meminum teh buatannya. Setiap malam, saat Draco masih sibuk berkutat dengan laptopnya, Hermione selalu membuatkannya teh hangat. Tapi sampai sekarang, pria itu masih enggan menyentuhnya.

Dengan menghela napas, Hermione mengambil gelas itu dan membawanya untuk dibersihkan di dapur.

Wanita itu melirik ke arah jam dinding. Jarum pendeknya mengarah ke angka enam. Itu berarti dia harus membangunkan Draco.

"Draco?" Panggil Hermione dari luar kamar. Ya, mereka sudah tidak sekamar lagi. Semenjak Scorpius dan Rose kembali kesekolah.

Hermione mengetuk-ngetuk pintu itu berulang kali. Namun tidak ada jawaban. Akhirnya Ia putuskan untuk masuk saja ke dalam. Didalam, Ia melihat Draco yang masih tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Draco ayo bangun. Kau 'kan harus kekantor" Hermione menguncang-guncangkan tubuh Draco.

"Ngghh.." Gumam Draco. Namun Ia malah semakin mempererat dekapan selimutnya.

"Draco? Ayo, bangun. Jangan bilang nanti aku tidak membangunkanmu ya?!"

Draco tetap bergeming. Hermione meletakkan kedua tangannya pada pinggang. Berpikir, bagaimana caranya membangunkan Draco.

Ia tersenyum miring ketika mendapatkan ide.

"Draco, kau bangun atau aku.." Hermione menggantungkan kalimatnya. Ia mengambil kotak pomade Draco dimeja rias.

"Atau aku buang semua pomade mu ini"

Dan seketika Draco langsung duduk tegap. Ia merampas kotak pomade yang ada ditangan Hermione.

"Baiklah, baiklah aku bangun" Ujarnya sembari berjalan ke kamar mandi. Hermione tersenyum puas. Ia tahu pomade nya itu sangat berharga untuk Draco.

"Uuh, pomade saja disayang.. apalagi istri" Goda Hermione.

"Diamlah. Bahkan pomade itu lebih berharga dari pada dirimu" Balas Draco dari dalam kamar mandi. Hermione hanya tertawa. Seperti biasa, kalau Draco marah dia hanya tertawa. Tidak membalas ataupun merajuk. Karna kalau api dilawan api, nanti akan terbakar semua. Maka dia memposisikan dirinya sebagai air. Yang akan memadamkan amarah Draco.

.

Hermione memasangkan dasi pada Draco. Awalnya Draco tidak pernah mau. Tapi Hermione selalu memaksa. Karna kemampuan Draco memasang dasi sangat buruk. Tidak rapih sama sekali.

"Sudah selesai.." Ujar Hermione sembari menepuk-nepuk dada Draco.

Draco hanya melengos dan duduk di ruang tamu. Ia akan memakai sepatunya.

"Kau tidak makan? Aku sudah buatkan roti lapis" Kata Hermione dengan sepiring roti lapis di tangannya.

Draco hanya meliriknya. Namun tidak berniat memakan satu pun roti itu.

"Nanti kau sakit kalau tidak sarapan" Ujar Hermione lagi.

Draco menatap Hermione dengan malas. Setelah memakai sepatunya, Draco mengambil satu potong roti di tangan Hermione. Wanita itu tersenyum lebar. Akhirnya Draco mau juga makan makanan buatannya.

Draco menggigit roti itu satu gigitan, lalu keluar dari rumah menuju mobilnya. Namun, Hermione dapat melihat dari jendela kalau Draco membuang roti itu ketempat sampah.

Hermione hanya tersenyum. Tidak apa. Setidaknya dia sudah memakan makanannya satu gigitan. Mungkin memang roti yang Ia buat tidak enak. Makanya Draco membuangnya.

***

Hermione terkejut ketika mendengar teriakan dari arah ruang tamu. Ia langsung menghentikan kegiatan memotong wortelnya, dan segera menuju ruang tamu.

Disana, Ia melihat Draco tengah duduk dengan kepala tertunduk. Tangannya memegangi kepalanya. Perlahan, Hermione mendekatinya.

"Ada apa?" Tanyanya ketika sudah ada disamping pria itu.

Draco tidak menjawabnya. Pria itu hanya mencoba mengatur deru nafasnya yang berat.

Hermione melihat ponsel Draco yang tergeletak. Ia pun mengambilnya dan melihat apa yang tertera dilayar ketika Ia memasukkan passcode. Sebuah pesan.

To : Mr.Malfoy

Pak, saham kita jatuh drastis. Kemungkinan ini karna pengusaha baru itu, Aaron Wilson.

Dan sekarang Hermione mengerti. Ia duduk disamping Draco dan mengusap bahunya dengan lembut.

"Kau 'kan hebat. Pasti masalah kecil seperti ini, bisa kau selesaikan dengan mudah.." Hibur Hermione. Namun Draco malah menatapnya dengan tajam.

"Kau tidak tahu apa-apa! Jadi lebih baik diam" Sentaknya.

Hermione hanya tersenyum. Tangannya masih setia mengelus pundak Draco. Mencoba menenangkan pria itu. Walaupun hasilnya selalu sama. Draco yang masih emosi.

"Ya.. aku memang tidak tahu apa-apa. Beda dengan kau yang tahu apa-apa"

Draco mendelik, "Itu tidak lucu!"

Hermione terkekeh, "Memang siapa yang melucu? Aku sedang tidak stand up comedy di depan mu"

Draco mendengus. Ia lalu pergi ke kamar nya. Meninggalkan Hermione yang masih tersenyum-senyum. Ia bingung, sudah berkali-kali Ia memarahi wanita itu, bahkan Ia jarang sekali bersikap ramah, tapi Hermione tetap saja memperhatikannya. Wanita itu hanya tersenyum ketika Ia marah. Dan itu membuat Draco merasa aneh. Seperti ada rasa.. nyaman?

Hermione memandangi punggung Draco yang menjauh. Ia menghela napasnya perlahan. Ia tahu, Ia hanya istri sementara. Saat wanita yang dicintai Draco kembali, Ia harus pergi. Tapi setidaknya biarkan Ia menjadi berguna. Melaksanakan setiap kewajibannya. Mengurus Draco dan menyiapkan segala keperluannya. Sampai saat Astoria kembali, dan Hermione akan melepas semua kewajibannya dan pergi dari hidup Draco.

Tapi Ia takut. Ia takut mulai terbiasa dengan semua ini. Bukankah cinta bisa datang karna terbiasa?

***

Last Love [DRAMIONE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang