[21] Please, Stayin

5.8K 540 18
                                        

Semilir angin sore menerpa lembut wajah seorang wanita yang tengah duduk lesehan diatas hamparan rumput hijau. Ia menutup matanya sambil merasakan aroma musim semi yang menenangkan. Tiba-tiba Ia membuka matanya ketika merasakan ada sepasang tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya.

Hermione menolehkan kepalanya. Ia tersenyum sayang ketika melihat gumpalan rambut pirang platina dibahunya. Dibelai rambut itu dengan lembut sambil menyandarkan kepalanya pada kepala yang juga bersandar padanya.

Draco membenarkan posisi duduknya. Ia mengukung Hermione. Didekapnya pinggang wanita di depannya dengan erat.

"Tamannya bagus ya?" Kata Hermione.

"Tapi masih kalah bagus darimu."

Hermione tersipu. "Gombal!"

Draco tertawa disamping tengkuk Hermione. Deru napasnya membuat Hermione merinding.

"Happy satu Anniversary, sayang." Ujar Draco. Hermione lalu membalikkan badannya. Kini Ia telah menghadap Draco. Menatap pria yang amat dicintainya itu.

"Kamu ingat?" Tanya Hermione.

"Mana mungkin aku lupa." Kata Draco sembari membenarkan syal yang membebat leher Hermione.

Hermione tersenyum. Ia memeluk leher Draco dan mencium kedua pipinya. "Terimakasih, terimakasih karna selalu ada untukku."

"Aku yang seharusnya berterimakasih. Kau masih bertahan. Dan akan selalu bertahan."

Draco membelai pipi Hermione. Ia mengusap rambut cepaknya. Kini rambut lebat itu sudah sangat menipis. Ia memotong rambutnya hingga sebatas telinga. Mata yang dulu bersinar, kini meredup. Bibir yang dulu berwarna merah alami, kini memucat.

"Aku mau bersamamu 100 tahun lagi." Draco mencium bibir Hermione. Tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk merasakan kehangatan Hermione.

Hermione menghalau helaian rambut yang menjuntai di sekitar dahi Draco. Ia menatap Draco penuh cinta. Sungguh, manusia di depannya ini lah yang membuatnya masih bertahan selama ini. Ia sangat beruntung memiliki Draco dihidupnya.

"I love you most, Draco."

"I love you more, Mione."

Dahi mereka saling menyatu. Merasakan setiap hembusan napas yang bersatu. Jika boleh, mereka ingin meminta Tuhan untuk menghentikan waktu sebentar saja. Mereka ingin bersama lebih lama lagi.

Perlahan langit jingga itu berubah menjadi hitam pekat. Ditambah taburan kilauan bintang yang menghiasi langit malam. Kedua sejoli itu masih setia duduk-duduk santai di taman. Menghabiskan waktu bersama yang entah masih bisa mereka rasakan besok atau tidak.

"Tutup matamu." Kata Draco. Hermione mengernyitkan dahinya, curiga.

"Kenapa memang?"

"Tutup dulu matamu. Nanti kau juga tahu."

Hermione tersenyum. Ia pun menutup kedua matanya. Draco menghitung sampai tiga.

"Satu.. dua.. tiga. Buka matamu."

Hermione pun membuka matanya. Ia terkejut, ketika melihat sebuah kalung liontin berwarna perak di depan wajahnya.

"Ini hadiah untukmu." Draco tersenyum manis. Hermione langsung memeluk Draco dan mengucapkan terimakasih.

Draco memakaikan kalung itu pada leher Hermione. Hermione melihat kalung perak cantik yang sekarang tersembat dilehernya. Ia membuka liontin berbentuk buah apel itu dan melihat isinya. Disana tertulis tulisan 'My Love'.

"Aku harap kalung itu bisa menjadi penguat dirimu."

"Kau lah penguat diriku, Draco."

Draco merebahkan kepalanya pada paha Hermione. "Bintangnya banyak ya." Ujarnya sembari membelai pipi Hermione.

Last Love [DRAMIONE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang