[23] Thanks, God.

5K 535 65
                                        

Draco membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing. Tenggorokannya pun terasa kering dan perih. Ia menggeliyatkan kepalanya kearah kanan. Disana terlihat selang infus yang tertempel ditangan kanannya. Lalu Ia memutar kepalanya lagi. Kali ini kearah kiri. Saat itu Ia langsung menegakkan tubuhnya.

"Her-hermione?"

"Ssst, kau masih sakit." Katanya. Draco tidak berpikir apa-apa lagi. Ia langsung menubruk tubuh Hermione lalu mencium puncak kepalanya berkali-kali.

"Oh, terimakasih Tuhan. Terimakasih kau sudah menyadarkannya. Kau sudah sadar, Mione."

"Iya, aku sudah sadar."

Draco menatap wajah Hermione. Wajahnya semakin pucat. Terpasang selang oksigen dihidungnya. Ia juga duduk diatas kursi roda. Disamping kanannya ada tabung oksigen dan samping kirinya ada infusan.

Draco kembali memeluk Hermione. "Aku tidak mau kehilanganmu."

Hermione tetap diam. Draco yang menyadari itu, melepas pelukannya dan melihat wajah istrinya itu.

"Kenapa?" Katanya sembari membelai dagu Hermione.

Namun tidak diduga sebelumnya, tiba-tiba Hermione menangis. Menangis sejadi-jadinya. Bahkan selang oksigen di hidungnya hampir terlepas.

"Kau sakit.. huhuhh, kau- kau pasti kelelahan, iya kan?" Hermione meraih tangan Draco yang terdapat infusan lalu menciumnya. Draco membelai rambut Hermione dengan tangan satunya.

"Aku tidak apa-apa.." katanya dengan suara serak. Membuat Hermione semakin mengeraskan tangisnya.

"Maafkan aku yang menyusahkanmu.. aku-aku hhh, aku selalu merepotkanmu."

Draco menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengangkat dagu Hermione agar mata mereka bertemu. "Kau bilang apa? Kau tidak pernah merepotkanku."

"Tapi kau sakit gara-gara aku."

"Hermione, please. Jangan bicara seperti itu. Kau adalah kekuatanku. Bukan bebanku. Paham?" Draco menatap manik mata Hermione yang masih berurai air mata.

Hermione mengangguk. Ia lalu memeluk Draco dan membiarkan isakannya di dada bidang suaminya itu.

"Jangan sakit lagi ya. Aku tidak kuat melihatmu seperti tadi." Kata Hermione.

"Kau juga. Kalau kau tidak kuat melihatku seperti itu walaupun hanya sebentar, bagaimana denganku? Aku hancur saat kau tidak juga membuka mata Hermione."

Hermione mempererat pelukannya. "Maaf.."

Draco menumpukan dagunya pada kepala Hermione. Sungguh Ia sangat merindukan wanita ini.

"Kau sudah makan?" Tanya Draco setelah melepas pelukannya. Hermione mengangguk sebagai jawaban.

"Aku sudah makan. Sekarang, kau yang makan." Hermione mengambil nampan berisi bubur diatas nakas.

Baru Draco hendak mengambil nampan itu dari tangan Hermione, namun langsung dicegah. "Tidak, tidak. Aku yang akan menyuapimu."

"Aku bisa makan sendiri, sayang.."

"Kau masih sakit. Aku mau menyuapimu." Kata Hermione bersih keras. Draco hanya tersenyum lalu mengangguk mengiyakan.

"Aaaa!! Keretanya mau masuk, Tut tuuut!"

"Aaaaammm" Draco mengunyah makanan yang masuk sembari menjawil hidung istrinya, jahil.

"Uuuuhh, anak pintar. Lagi ya? Lagi?" Hermione menggerak-gerakkan sendoknya diudara, lalu memasukkannya pada mulut Draco lagi.

Last Love [DRAMIONE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang