[18] Apologize

5.7K 602 96
                                        

Draco melirik jam tangannya dengan cemas. Ini sudah jam tujuh malam. Ia ingin pulang. Ia ingin bertemu Hermione. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Tapi Ia juga tidak bisa meninggalkan Astoria. Dalam tidurnya, wanita itu tetap menggenggam tangan Draco dengan erat.

Draco merasa serba salah. Ia tidak seharusnya bersama Astoria. Harusnya Ia bersama Hermione. Menggenggam tangannya. Tapi Ia tidak bisa pergi. Ia takut Astoria melakukan hal-hal aneh lagi. Tadi pagi wanita itu melakukan percobaan bunuh diri. Ia menyilet pergelangan tangannya sendiri. Bagaimana kalau Ia melakukan hal itu lagi?

Dengan perlahan, Draco melepas tangannya dari tangan Astoria. Ia lalu berjalan menuju pintu ruangan dimana Astoria dirawat. Saat Ia baru membuka pintu, Ia menemukan ibunya sedang duduk di kursi tunggu.

"Draco, kau mau kemana?" Narcissa langsung berdiri ketika melihat putranya keluar dari ruangan Astoria.

"Aku mau pulang, ibu. Hermione sendirian dirumah."

"Wanita itu lagi! Kau sudah janji pada ibu, kalau pernikahan kalian hanya sementara. Tapi apa sekarang?!" Narcissa memekik tertahan. Bagaimanapun ini adalah rumah sakit. Tidak boleh berteriak sembarangan.

Draco mengusap wajahnya sebelum bicara, "Pertama, aku tidak pernah berjanji. Kedua, aku mencintai Hermione."

Narcissa mengeraskan rahangnya. Tangannya terkepal di masing-masing sisinya.

"Tidak! Sampai kapanpun Ibu tidak akan setuju kau dengannya. Kau lihat didalam? Astoria sangat mencintaimu. Bahkan Ia sampai mencoba bunuh diri!"

"Kalau dia mencintaiku, dia tidak akan meninggalkan aku Ibu."

Narcissa menghela napasnya, "Draco.."

"Cukup Ibu. Aku sudah tidak ada rasa apa-apa lagi dengannya. Hanya ada Hermione dalam hatiku."

"Draco!!" Narcissa kini berteriak. Tidak peduli dengan semua mata yang memandang. Napasnya naik turun.

"Aku tidak peduli Ibu merestuiku atau tidak. Ini hidupku. Sudah cukup Ibu selalu mengatur hidupku. Aku akan selalu bersama Hermione. Bahkan jika semesta menolak sekalipun."

Draco hendak pergi, ketika Ia mendengar teriakan dari ruangan Astoria. Mereka pun lansung masuk kedalam. Disana terlihat Astoria dengan wajah paniknya.

"Astoria.. kau kenapa?" Narcissa menghampiri Astoria lalu memeluknya. Ia mengelus-elus rambut wanita itu agar lebih tenang.

"Draco? Aku kira kau pergi. Jangan pergi, Draco. Kemarilah.." Astoria merentangkan tangannya. Mencoba menggapai-gapai Draco.

Draco bergeming. Ia menatap kedua wanita didepannya dengan gamang. Ada wanita di luar sana yang menunggunya. Yang lebih pantas mendapat perhatiannya.

"Draco.." Narcissa ikut memanggil Draco.

Draco mundur beberapa langkah. Ini salah. Tidak seharusnya Ia berada disini. Meninggalkan Hermione sendirian.

"Draco jangan pergi! Aku membutuhkanmu! Draco!"

Draco tetap berjalan mundur. Ia tidak menghiraukan panggilan-panggilan Astoria. Ada dalam dirinya yang mengatakan agar cepat pulang. Atau Ia akan menyesal selamanya.

Dengan mantap, Draco membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan ruangan itu. Astoria menangis histeris.

"Tenanglah. Aku akan mengejarnya. Dia tidak akan pergi." Narcissa bangkit dari duduknya dan langsung mengejar Draco.

.

Astoria menangis sesenggukan di ruangannya. Semua suster yang mencoba menenangkannya diusir begitu saja. Ia tidak peduli. Hatinya hancur ketika Draco lebih memilih Hermione. Ia meratapi kebodohannya. Jadi begini rasanya ketika orang yang dicintai lebih memilih orang lain. Jadi ini yang dulu dirasakan Draco? Hah, betapa bodoh dirinya.

Last Love [DRAMIONE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang